Jumat, 23 Februari 2018
Indonesia | English

Inspirasi Sang Librarian

12 Februari 2018 Jurnalis : Yuliati
Fotografer : Yuliati

doc tzu chi indonesia

Ahmad Tohir menjelaskan bagaimana cara membuat kreasi seni berbentuk domba dari barang daur ulang pada Kamis, 8 Februari 2018.

Yayasan Buddha Tzu Chi terus mensosialisasikan dan mengedukasi masyarakat untuk bersama-sama menyelamatkan bumi dari bahaya sampah melalui misi peletariannya yang berpegang pada prinsip 5R (rethink, reduce, reuse, repair, recycle). Pelestarian lingkungan yang digaungkan Tzu Chi pun mendapatkan tanggapan positif dari berbagai lapisan masyarakat. Banyak relawan Tzu Chi maupun masyarakat yang menerapkan prinsip 5R tersebut. Salah satunya Ahmad Tohir (34).

Ahmad Tohir merupakan pustakawan sekaligus Guru Agama Islam di SD Tzu Chi Indonesia Pantai Indah Kapuk Jakarta. Sebagai pustakawan, Ahmad ingin mengembangkan perpustakaan sekolahnya agar terlihat indah dan nyaman. Ia pun memanfaatkan waktu luangnya untuk membuat kreasi yang bisa digunakan untuk pajangan perpustakaan. Bermula dari hobi, Ahmad lantas membuat kreasi barang-barang daur ulang untuk hiasan perpustakaannya.

“Jadi kalau ada sesuatu yang tidak digunakan tapi bisa dimanfaatkan, dengan benda ini apa yang bisa diciptakan ya saya buat dan pajang,” ujarnya tersenyum.

Ahmad merasa apa yang dilakukannya juga termasuk wujud dari cintanya terhadap bumi. “Saya rasa kalau misalnya recycling kita bisa menyelamatkan bumi kita dari polusi sampah,” ujarnya. Barang-barang daur ulang yang dijadikan kreasi seni Ahmad dari bahan daur ulang kertas, karton, plastik, atau barang lain yang bisa dikreasikannya. “Ada animals, pedagang kaki lima, miniatur candi, beberapa tokoh terkenal,” akunya. Tak heran baik perpustakaan maupun ruang kelas agama pun banyak ditemukan kreasi-kreasi barang daur ulang.

doc tzu chi indonesia

Sebanyak sembilan murid SD Tzu Chi Indonesia belajar membuat kreasi barang daur ulang bersama Ahmad di ruang agama lantai 4 sekolah.

doc tzu chi indonesia

Sudah banyak kreasi barang daur ulang yang dibuat oleh Ahmad yang menghiasi ruangan agama. Di antaranya animals, pedagang kaki lima, miniatur candi, juga beberapa tokoh terkenal.

Hasil karya seni ayah empat anak yang menerapkan recycle barang ini telah mendapatkan respon positif dari berbagai kalangan, baik guru maupun murid-muridnya yang berkunjung di perpustakaan. “Rata-rata murid Tzu Chi antusias sekali dan nanya gimana cara bikinnya,” ucap Ahmad.

Antusias murid-murid SD Tzu Chi Indonesia disambut baik Ahmad. Ia pun bersedia mengajarkan cara membuat kreasi dari sampah daur ulang kepada murid-murid tersebut. Meski kreasi daur ulang bukan merupakan salah satu mata perlajaran maupun kegiatan ekskul sekolah, Ahmad sangat antusias menularkan keterampilan ini di sela-sela waktu senggangnya.

Pada Kamis, 8 Februari 2018 Ahmad mengajarkan cara membuat kreasi domba kepada 9 murid yang ingin belajar membuat kreasi itu. Ahmad menjelaskan bahan untuk membuat kreasi domba ini berupa kertas koran bekas, karton bekas gulungan tisu, dan kertas berwarna cokelat. “Kita bikin yang simple yang bisa dilihat dan dipraktikkan,” ucap guru yang bergabung setahun lalu. “Ada beberapa anak yang belajar tapi terbentur waktu, kadang-kadang mereka datang sepuluh menit pulang,” tambahnya.

doc tzu chi indonesia

Bergabung sebagai pustakawan di SD Tzu Chi Indonesia, Ahmad terus mengembangkan perpustakaan. Ia juga melayani murid-murid dengan sepenuh hati.

doc tzu chi indonesia

Selain bekerja di perpustakaan, Ahmad juga mengajar Pendidikan Agama Islam kepada murid-murid SD Tzu Chi Indoensia.

Tidak hanya murid-murid, bahkan guru-guru lain juga banyak yang ingin belajar memanfaatkan barang daur ulang dalam kreasi seni. Jika mengajarkan kreasi daur ulang di sela-sela waktu luang, berbeda dengan guru yang memang sudah direncanakan akan diadakan workshop tentang recycling ini. “Workshop untuk memperkenalkan recycle, intinya kita gunakan untuk pembelajaran. Recycle sendiri untuk hiasan yang bisa digunakan di kelas,” kata Ahmad semangat.

Semangat dari Master Cheng Yen

Sejak bergabung dengan SD Tzu Chi Indonesia pada 3 Januari 2017 lalu, Ahmad telah mengenal lebih dalam tentang sekolah dan filosofi Tzu Chi. “Di sini tidak hanya mementingkan pendidikan seperti yang sudah ada, tetapi ada pendidikan lain humanity, ren wen yang nggak ada di sekolah lain,” ungkap Ahmad.

Kegiatan kerelawanan yang diadakan sekolah pun kerap diikutinya. “Di Jagabita cat rumah warga (penerima bantuan -red), kunjungan ke panti asuhan, dan lain-lain,” ucap Ahmad. Kegiatan kerelawanan yang kerap dilakoninya justru memberikan motivasi tersendiri bagi Ahmad. Ia merasa membantu orang lain sangat penting dan memiliki makna tersendiri. “Kita nggak bisa bantu dengan uang jadi bantu dengan tenaga, pikiran,” ungkapnya.

doc tzu chi indonesia

Dwi Cahya Nugraheni, rekan kerja Ahmad di perpustakaan SD Tzu Chi Indonesia mengaku salut akan keterampilan yang dimiliki Ahmad.

Dengan mengenal Tzu Chi, ia juga mengenal sosok Master Cheng Yen. Ahmad merasa mendapatkan isnpirasi dari Pendiri Yayasan Buddha Tzu Chi ini. “Setiap perkataan, tindakan (Master) mengandung makna, semua tentang kebaikan,” akunya. Bahkan untuk melakukan recycling ini juga terinspirasi dari Master Cheng Yen. “Saya terinspirasi dari Master sendiri, beliau sangat konsen tentang pelestarian lingkungan, jadi alangkah baiknya saya jadikan motivasi di sini,” ujar Ahmad.

Berkarya di SD Tzu Chi Indonesia selama setahun telah memberikan banyak perubahan bagi Ahmad. “Saya berusaha untuk jadi vegetarian,” ucapnya tersenyum lebar. “Tidak hanya di sini (sekolah), di luar juga membawa nama Tzu Chi, jadi saya ketemu orang saya menjaga (perkataan, tindakan),” ucap Ahmad.

Dwi Cahya Nugraheni, rekan kerja Ahmad di perpustakaan SD Tzu Chi Indonesia mengapresiasi apa yang dilakukan guru Agama Islam ini dalam misi peletarian lingkungan. Cahya mengaku salut akan keterampilan yang dimiliki Ahmad.

“Pak Ahmad menginspirasi banget karena belum pernah ketemu guru yang seperti dia. Apa saja bisa jadiin barang yang dirasa tidak ada gunanya jadi barang lebih bermakna dan bermanfaat,” ujar Cahya di sela-sela pekerjaannya.

Tidak hanya mengajarkan teknik membuat kreasi dari barang daur ulang, Ahmad juga memiliki rencana membentuk klub untuk murid-muridnya untuk membuat buku cerita. “Rencananya saya gunakan untuk sesuatu dari buku tersebut. Misalnya siswa bikin tentang burung hantu jadi nanti bisa bikin burung hantu dari recycling,” ujarnya. “Jadi selain siswa bisa berkarya melalui buku juga bisa melalui recycling,” tegasnya.

Editor: Metta Wulandari

Artikel dibaca sebanyak : 193 kali


Berita Terkait




Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Security Code
Kehidupan masa lampau seseorang tidak perlu dipermasalahkan, yang terpenting adalah bagaimana ia menjalankan kehidupannya saat ini.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat