Internasional: Festival Musim Panas

Jurnalis : Da Ai News, Fotografer : Da Ai News
 
 

fotoRelawan Tzu Chi di Jepang diundang ke sebuah Festival Musim Panas di Kota Ojiya di Prefektur Niigata tanggal 24 Juli 2010.

Tanggal 24 Juli 2010, relawan Tzu Chi di Jepang diundang ke sebuah Festival Musim Panas di Kota Ojiya di Prefektur Niigata. Pada tahun 2004, para relawan pernah memberikan distribusi bantuan bagi warga di sana setelah gempa bumi melanda Chuetsu. Pada bulan Juli 2010 itu, para relawan kembali ke sebuah kota di Jepang barat yang hancur oleh gempa bumi enam tahun lalu untuk merayakan pemulihan dan bantuan yang telah diberikan selama bencana.

.

Enam tahun lalu, tanggal 23 Oktober 2004, gempa bumi Chuetsu yang berkekuatan 6,8 skala Richter, melanda Kota Ojiya, Prefektur Niigata. Gempa ini menewaskan 68 orang dan menghancurkan jalur kereta berkecepatan tinggi "Shinkansen" untuk pertama kalinya dalam sejarah Jepang. Relawan Tzu Chi tiba di lokasi untuk menyediakan makanan panas dan paket bantuan, termasuk selimut, untuk meringankan penderitaan warga. Cinta kasih yang terkandung dalam bantuan yang telah sampai pada warga dalam waktu kurang dari satu jam ini tidak pernah dilaupakan oleh warga.

Enam tahun kemudian, para relawan diundang kembali oleh warga setempat untuk bergabung dalam festival musim panas. Para relawan yang kebanyakan bermukim di Tokyo, menempuh perjalanan selama empat setengah jam untuk mencapai Ojiya. Ketika mereka tiba, para relawan disambut dengan hangat oleh wakil walikota, Kazama. Beliau menemani para relawan untuk melihat kota yang telah pulih dari bencana. "Bagian ini telah diperbaiki," jelasnya. "Foto ini diambil dari sini, dulu, ini merupakan tanah kosong yang biasa kami gunakan untuk tempat berlindung sementara. Sekarang di sini telah dibangun bangunan berlantai empat," lanjutnya.

Penduduk dan para relawan sangat bahagia dapat bertemu satu sama lain lagi setelah absen enam tahun. Tapi kali ini para relawan di sana tidak untuk memberikan bantuan, melainkan untuk ambil bagian dalam festival. Kota ini telah mengadakan malam Festival Musim Panas setiap tahun selama 13 tahun terakhir, kecuali tahun setelah gempa. Tzu Chi adalah organisasi luar pertama yang diundang untuk hadir. Para relawan menyanyikan lagu Jepang dan mempertunjukkan gerakan isyarat tangan kepada para pengunjung.

"Ketika masa sulit, kalian membawakan kami selimut, yang telah kita pakai dan simpan. Tentu saja kita berharap bahwa tidak akan ada lagi gempa bumi, tetapi jika sesuatu terjadi, kita akan dapat menggunakan selimut itu lagi,” kata Katsumata, Walikota Ojiya. Relawan Tzu Chi Chen Jinfa mengatakan bahwa dapat melihat semua orang tersenyum, adalah yang paling relawan Tzu Chi harapkan selama enam tahun lalu.

Hari itu adalah hari yang hangat, mencerminkan perasaan antara penduduk dan para relawan, sungguh menyenangkan dan menghangatkan. (Sumber: www.tzuchi.org, diterjemahkan oleh Riani Purnamasari/He Qi Utara)

  
 
 

Artikel Terkait

HUT Tzu Chi ke-25: Tzu Chi Hidup dalam Keragaman Indonesia

HUT Tzu Chi ke-25: Tzu Chi Hidup dalam Keragaman Indonesia

10 September 2018
Lagu-lagu daerah, lagu nusantara, dan lagu-lagu Tzu Chi nan apik dimainkan dengan mendayu diiringi oleh Twilite Orchestra yang dipimpin oleh Adi MS dalam perayaan HUT Tzu Chi Indonesia ke-25, Sabtu dan Minggu (8-9 September 2018). Sepanjang acara, ada 18 buah lagu yang paduannya mengingatkan kekayaan sekaligus keragaman bangsa Indonesia. 
Kamp 4 in 1 2018: Membekali Diri dengan Dharma

Kamp 4 in 1 2018: Membekali Diri dengan Dharma

20 Agustus 2018
Setiap tahunnya, insan Tzu Chi Indonesia terus meningkatkan kualitas diri dengan mendalami Dharma. Pada tahun ini, relawan tengah mendalami Sutra Makna Tanpa Batas yang merupakan landasan dari semangat Tzu Chi. Berbagai kegiatan pun dilakukan dengan mengusung Sutra Makna Tanpa Batas sebagai temanya.
Menanamkan Karakter dari Kegiatan Membersihan Sekolah

Menanamkan Karakter dari Kegiatan Membersihan Sekolah

17 Oktober 2022

Para relawan di Xie Li Sumatera Selatan 1 mengajak guru dan anak-anak SDN Karya Sakti membersihkan sekolah. Tak hanya sebagai sarana mempercantik suasana sekolah agar proses belajar dan mengajar terasa lebih nyaman.

Kita sendiri harus bersumbangsih terlebih dahulu, baru dapat menggerakkan orang lain untuk berperan serta.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -