Rabu, 08 April 2020
Indonesia | English

Kamp 4 in 1 2019: Mempraktikkan Sepaham, Sepakat, dan Sejalan

30 Juli 2019 Jurnalis : Khusnul Khotimah
Fotografer : Anand Yahya, James Yip (He Qi Barat 2) Johni Rusli (He Qi Utara 2), Yusniaty (He Qi Utara 1)


Seorang insan Tzu Chi harus memahami tentang Sepaham, Sepakat, dan Sejalan agar dapat berjalan di jalan Tzu Chi dengan bahagia. Ketika relawan berbahagia, barulah bisa mengajak orang, dengan demikian Tzu Chi baru bisa bertumbuh lagi. Kata Hendry Zou dari Tzu Chi Indonesia.

Ada satu prinsip yang harus dipahami betul oleh relawan Tzu Chi supaya dapat menjalankan kegiatan Tzu Chi dengan sukacita. Apa itu? Sepaham, sepakat, dan sejalan. Tiga kata ini juga yang menjadi tema sentral dari Kamp Pelatihan 4 in 1 2019 yang digelar Tzu Chi Indonesia pada 27-28 Juli 2018 yang lalu.

Materi yang disampaikan oleh Hendry Zou dari Tzu Chi Indonesia ini menjadi materi pembuka dari beberapa sesi materi yang dibagikan kepada 680 relawan peserta. Sebenarnya Sepaham, Sepakat, dan Sejalan bukanlah hal yang baru. Karena itu materi ini diberikan sebagai sebuah pengingat bagi relawan.  

Apa itu Sepaham? Semua relawan Tzu Chi harus sepaham bahwa semua manusia pada hakikatnya baik dan memiliki cinta kasih. Jika relawan berpikir hanya ia yang memiliki cinta kasih maka dia tidak akan bisa mengajak lebih banyak orang untuk bergabung ke Tzu Chi.

“Di sini kan relawan calon komite atau komite, salah satu yang harus dijalankan biasanya adalah galang hati galang dana. Kadang kita suka berpikir teman saya pelit, jangankan lima ribu rupiah, dua ribu saja dia hitung,” kata Hendry mencontohkan.

Ini, tambah Hendry menunjukkan bahwa si relawan belum punya kesepahaman bahwa semua orang punya cinta kasih. Dengan demikian relawan ini lebih dulu menutup kesempatan orang untuk berbuat baik. Padahal belum tentu seseorang itu pelit di semua hal. Ada seseorang yang sangat sederhana dalam hal makanan, tapi dalam hal berbuat baik sangat bersemangat.

Selanjutnya apa itu Sepakat? Relawan Tzu Chi harus sama-sama sepakat bahwa sifat hakiki manusia pada dasarnya sama. Tabiat dan kebiasaanlah yang berbeda-beda. Master Cheng Yen punya keyakinan bahwa sifat orang pada dasarnya baik sehingga tidak perlu diubah. Yang perlu diubah adalah kebiasaan dan tabiatnya.


Para peserta Kamp Pelatihan 4 in 1 2019 yang datang dari berbagai kota di Indonesia ini menyimak penjelasan para narasumber.


Mempelajari isyarat tangan bersama-sama membuat acara kamp tak membosankan.

Kalau relawan sepakat dengan poin ini, maka ia akan dapat menjalankan tugas dan tanggung jawabnya di Tzu Chi dengan lancar. Di Tzu Chi Indonesia khususnya, relawan berasal dari beragam latar belakang, baik suku, agama, dan juga pendidikan. Tentu ini juga melahirkan pemikiran dan sikap yang berbeda-beda. Tapi jika relawan tahu apa tujuannya di Tzu Chi, dan selalu ingat bahwa sifat orang pada dasarnya baik maka ia akan fokus dengan jalannya. Jika poin ini tidak dipahami yang ada ia bakal merintangi diri sendiri dan merintangi orang lain.

Yang ketiga adalah Sejalan. 

Dalam menjalankan empat Misi utama Tzu Chi, relawan harus mempraktikkan empat pikiran tanpa batas, yakni semangat cinta kasih agung tanpa penyesalan, lalu welas asih agung tanpa keluh kesah, sukacita agung tanpa kerisauan, dan keseimbangan batin tanpa pamrih. Dengan ini baru dikatakan sejalan, jika tidak, dalam menjalankan empat misi ini masing-masing relawan bakal menjalankan dengan caranya sendiri.

“Misi Tzu Chi harus dijalankan dengan empat pikiran tanpa batas ini sehingga dalam menjalankan ini relawan bisa belajar. Kalau bisa belajar, berarti kita sama-sama menciptakan berkah, yakni membawa manfaat kepada diri sendiri dan orang lain, juga mengembangkan kebijaksanaan kita,” jelas Hendry.


Para relawan yang bertugas di bagian konsumsi menjalankan tugasnya dengan penuh sukacita.

Saling Mengingatkan, Tapi Tanpa Pertikaian
Seperti yang dikemukakan sebelumnya bahwa Sepaham, Sepakat, dan Sejalan bukan hal yang baru bagi relawan, melainkan sebuah pengingat. Begitu pun Novriko (35), relawan Tzu Chi Palembang memaknainya.

Novriko mengenal dan mengikuti beberapa kegiatan Tzu Chi pada tahun 2011. Namun karena ingin fokus meniti karir dan bisnis, ia baru aktif kembali pada tahun 2018. Di tahun yang sama ia dilantik menjadi relawan Abu Putih.

“Dari situ saya aktif terus. Saya ditunjuk jadi PIC itu pertama kali kegiatan Bulan Tujuh Penuh Berkah. Kami adakan kegiatan jalan sehat sambil mengumpulkan botol-botol plastik. Dari situ berkembang terus, banyak kegiatan lainnya terutama di Misi Amal. Saya juga memang sangat tertarik dengan Misi Amal,” ujarnya.

Materi tentang Sepaham, Sepakat, dan Sejalan juga mengingatkan tekad Novriko untuk melanjutkan sesuatu yang telah dimulainya sejak aktif kembali menjadi relawan Tzu Chi pada 2018. Apa itu? 

“Saya sampai sekarang diminta Shijie Helen (Ketua Harian Tzu Chi Palembang) untuk jadi pemerhati relawan. Master Cheng Yen kan bilang Gan En Zhun Zhong Ai, Harmonis tanpa pertikaian dan menciptakan berkah bersama.”


Di pelatihan 4 in 1 ini Novriko melihat para pembicara dan relawan berusaha sungguh-sungguh menyerap Dharma dari Master Cheng Yen dan mempraktikannya. Ia juga melihat bahwa slogan Kita Satu Keluarga benar-benar ada.

Harmonis Tanpa Pertikaian inilah yang Novriko coba lakukan. Ia merangkul beberapa relawan Tzu Chi Palembang yang sempat tak aktif karena sedikit “pertikaian” akhirnya kembali lagi sehingga relawan Tzu Chi Palembang kini makin kompak. Bagi Novriko, inilah yang Master Cheng Yen mau dari para relawan. Bukan hanya berbuat baik tapi juga menumbuhkan kebijaksanaan, saling toleransi, saling mengingatkan, tapi tanpa pertikaian.

Bukan Datang untuk Main-main

Kalau boleh mengambil salah satu contoh siapa relawan Tzu Chi Indonesia yang menjalankan kegiatan Tzu Chi dengan sukacita, maka Susi, relawan Tzu Chi Tanjung Balai Karimun adalah orangnya. Susi (37) relawan asal Tanjung Balai Karimun langsung jatuh cinta dengan Tzu Chi ketika pertama kali mengikuti kegiatannya, di bulan April 2015.

“Waktu itu pertama kali saya mau daftarkan anak saya ke kelas budi pekerti. Di kelas itu anak-anak diajak ke depo. Saya langsung tertarik dengan kegiatan ini. Saya bilang Lisa Shijie kalau ada kegiatan Tzu Chi lainnya tolong beritahu saya. Saya mau ikut,” kenangnya. 

Susi ingin selalu bisa ikut kegiatan Tzu Chi. Tapi saat itu, kegiatan di Tzu Chi Tanjung Balai Karimun umumnya diadakan pada hari Minggu. Padahal hari Minggu ia harus buka toko.

“Pertama-tama saya ikut kegiatan, trus pulang saya buka toko lagi. Setelah beberapa bulan, saya merasa capek sekali ya sepulang kegiatan harus buka toko. Kenapa harus seperti itu? Rezeki kita itu ke mana-mana sama saja. Jadi saya merencanakan tutup toko pelan-pelan, tidak langsung,” ujarnya.


Susi memahami prinsip Sepaham, Sepakat, dan Sejalan bahwa kerja Tzu Chi tidak bisa dilakukan sendiri, harus sama-sama. Kalau tak ada kerjasama tak akan mendapatkan hasil yang bagus.

Agar bisa fokus berkegiatan di Tzu Chi, Susi pun menutup toko sembakonya. Sebelumnya toko ini buka sejak pagi sebelum pukul enam hingga pukul delapan malam, dari hari Senin hingga Minggu. Pelan-pelan rencana tersebut ia bicarakan dengan sang suami. Sebagai gantinya, ia akan mencari pekerjaan lain.

“Daripada jaga toko tapi saya tidak punya waktu bebas untuk berkegiatan Tzu Chi,” tambahnya.

Sekarang Susi mengajar di sekolah, dan sorenya mengajar les sampai malam bagi anak-anak SD. Lalu jika hari libur ia bisa ikut kegiatan Tzu Chi. Baginya hari Minggu adalah hari Tzu Chi dan biasanya ia pergi bertiga dengan kedua anaknya mengikuti kegiatan survei kasus dan kegiatan lainnya.

“Setelah saya tutup toko, saya bekerja dengan lebih senang sesuai karir saya. Dulu sebelum menikah saya mengajar les selama 11 tahun. Saya juga secara khusus memberikan les matematika,” tambahnya.

Lalu apa yang membuat Susi sampai sebegitunya dengan Tzu Chi?

“Mungkin jodoh. Pertama kali saya masuk Tzu Chi, saya sudah punya niat dan tekad menjadi relawan Tzu Chi, saya mau jadi relawan yang berseragam. Tak begitu lama saya jadi relawan Abu Putih. Tapi suatu hari saya ikut acara, saya lihat shijie-shijie mengenakan qipao (seragam Tzu Chi - gaun khas Tiongkok), dalam hati saya, saya tidak mau jadi relawan Abu Putih saja, saya mau jadi Relawan Komite. Pokoknya saya harus kerja dengan baik,” tambahnya.

Susi pun dilantik menjadi relawan komite pada November 2018. Setelah menjadi relawan komite, Susi tambah yakin sepenuhnya, ia ingin menjadi murid Master Cheng Yen, seorang murid yang tidak membuat gurunya khawatir. Materi Sepaham, Sepakat, dan Sejalan juga materi dari pembicara lainnya pun terus mengingatkan Susi pada tekadnya.

“Saya ingin lebih giat lagi kerja Tzu Chi agar bisa mengembangkan tanggung jawab. Saya betul-betul ingin kerja Tzu Chi, bukan datang main-main saja,” tutupnya.

Editor: Metta Wulandari

Artikel dibaca sebanyak : 1053 kali


Berita Terkait




Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Ada tiga "tiada" di dunia ini, tiada orang yang tidak saya cintai, tiada orang yang tidak saya percayai, tiada orang yang tidak saya maafkan.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat