Rabu, 21 Agustus 2019
Indonesia | English

Kamp 4in1 2019: Tekad, Tanggung Jawab, dan Keyakinan dalam Bertindak

31 Juli 2019 Jurnalis : Felicite Angela Maria (He Qi Timur), Lili (He Qi Pusat), Sufenny (He Qi Utara 1)
Fotografer : Anand Yahya, Yusniaty (He Qi Utara 2)


Gan Wan Cheng, menyampaikan, dari insan Tzu Chi seharusnya mempraktikkan jalan kebenaran dan Dharma bagaikan air yang menyegarkan semua mahluk. Jika hati jernih semua bencana pasti bisa dihindarkan.

Sabtu 27 Juli 2019, di paruh hari pertama pelatihan Kamp 4in1 2019, berlanjut dengan materi bertemakan tekad dan tanggung jawab insan Tzu Chi. Relawan senior dari Tzu Chi Taiwan, Gan Wan Cheng membagikan pengalaman hidupnya selama 18 tahun menjalani Misi Pelestarian Lingkungan. Dirinya benar-benar mempraktikkan kegiatan daur ulang dalam aktivitasnya sehari-hari.

Gan Wan Cheng memutarkan tayangan video pengalaman hidup para relawan pelestarian lingkungan, yang selalu menjadi cerita yang paling disukai Master Cheng Yen dan dirinya juga. Para lansia yang bergabung sebagai barisan relawan pelestarian lingkungan, selalu menjadi teladan. Para lansia relawan daur ulang ternyata mereka juga berdonasi untuk Tzu Chi walau dari dana mereka yang kecil sekalipun, tetapi memberi makna yang besar.

Pekerjaan daur ulang yang di mata orang lain dianggap hina dan kotor, tetapi di mata Master Cheng Yen, pelestarian lingkungan, khususnya daur ulang adalah satu pekerjaan mulia yang mampu dikerjakan dengan sungguh hati dan dengan tulus. Walau secara fisik sudah lanjut usia, tetapi semangat menjadi insan yang lebih berguna menjadi tabungan usia senja yang membawa banyak manfaat kebajikan.


Kepada para peserta Kamp 4in1 2019, Wu Zhao Feng mengatakan setelah yakin menyelesaikan satu tekad, maka perlu segera melakukan tekad kebajikan berikutnya lagi tanpa perlu menunda-nunda.

Menurut staf senior tim rohani di Griya Jing Si ini, insan Tzu Chi harus rajin mendengarkan ajaran Jing Si, menyimak semangat Jing Si, menjalankan mazhab Tzu Chi, mendalami jalan kebenaran melalui xun fa xiang dan mempraktikkannya dengan baik. Lalu insan Tzu Chi tidak berseteru dengan orang lain, saling menghormati, saling bersyukur, saling mengembangkan welas asih, mampu mengembangkan berkah dan kebijaksanaan, menimbulkan kedamaian hati.

“Dengan mempraktikkan ini, hati manusia baru bisa menjadi baik dan mampu memupuk berkah dan kebijaksanaan,” ujarnya.

Semua insan Tzu Chi diharapkan tidak hanya mengemban 4 misi Tzu Chi dengan lebih bersungguh hati, lebih penuh tanggung jawab, memanfaatkan dan menggenggam waktu yang ada sebaik mungkin melakukan banyak kebajikan Tzu Chi, juga mampu mengembangkan 1 misi lagi yakni mengembangkan misi Tzu Chi sampai bisa menstabilkan masyarakat, menstabilkan negara.

Menumbuhkan Tekad Kebajikan Berikutnya
Demikian juga halnya yang disampaikan oleh Wu Zhao Feng, relawan yang masuk Tzu Chi melalui pengalaman berdonasi untuk Tzu Chi. Wu Zhao Feng selalu menggenggam jalinan jodoh baik di manapun dirinya berada. Mendengar bahwa di Indonesia sedang membangun rumah sakit, segera Wu Zhao Feng tanpa berpikir panjang langsung menyampaikan kepada insan Tzu Chi Indonesia untuk ikut menyumbang bagi pembangunan rumah sakit. Bagi Wu Zhao Feng, berbuat baik itu jika ada niat yang kuat pasti berbuah jodoh karma yang baik juga.


Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Peribahasa ini terlihat pada barisan  relawan yang menbentuk barisan yang indah dalam menata kursi dari Aula Jing Si ke lapangan di malam keakraban.

“Keyakinan yang selalu perlu ada di dalam hati setiap insan Tzu Chi sebagai fondasi dari semuanya, sebagai modal kita. Kalau kita percaya, kita baru akan melakukan itu seperti awalnya. Kita percaya Master, kita percaya semua hal melalui ajarannya ini adalah benar. Master Cheng Yen selalu mengajarkan hal yang baik kepada kita, sehingga kita bisa penuh keyakinan bertekad melakukan banyak hal kebajikan,” demikian ungkap relawan yang beberapa kali menjadi komisaris kehormatan Tzu Chi ini.

Baginya, setelah yakin menyelesaikan satu tekad, maka perlu segera melakukan tekad kebajikan berikutnya lagi tanpa perlu menunda-nunda. Menabung banyak kebajikan, seperti menyimpan deposito di langit, bagaikan menabung banyak karma kebajikan sebanyak-banyaknya.

Menimba Ilmu dari Kamp 4in1
Kamp 4in1 2019 berlangsung selama dua hari dan diikuti 680 relawan. Ada yang datang dari Papua, Tanjung Balai Karimun, Medan, Batam, Singkawang, Jakarta dan sebagainya.

Susanto adalah Wakil Ketua Hu Ai di bidang Misi Amal Medan Selatan, He Qi Jati. Setelah enam tahun menjadi relawan Tzu Chi, Susanto mengajak ibu mertua (Linda) dan bapak mertua (Rusmin) turut bersumbangsih melakukan kebajikan dengan memanfaatkan waktu yang ada. Merekapun aktif di Misi Pelestarian Lingkungan, hingga dilantik menjadi relawan pelestarian lingkungan, tahun lalu di Jakarta. Pada waktu itu Susanto, memikul tanggung jawab di Misi Pelestarian Lingkungan di daerah Titi Kuning-Medan.

 

Susanto merasakaan manfaat yang begitu penting dalam hidupnya, terutama setelah bergabung di Tzu Chi, ia lebih bisa bersyukur dan memaknai kehidupan ini.

Manfaat yang dirasakan Susanto setelah bergabung di Tzu Chi, lebih bisa bersyukur memaknai kehidupan ini. Semenjak menjadi fungsionaris di badan Misi Amal, dengan melihat berbagai kasus dan peristiwa serta terlibat langsung dalam penanganan masalah, membuat dirinya bertumbuh welas asih dan kebijaksanaan. Susanto bertekad lebih giat lagi untuk terus meringankan penderitaan orang lain, dalam hal pengobatan.

“Dulu, sebelum masuk Tzu Chi, bervegetaris sekali-kali, sekarang sudah bervegetaris setiap hari dan sudah dijalani selama 10 tahun,” kata Susanto yang merasakan manfaat bervegetaris untuk kesehatan dan demi melindungi bumi.

Melakukan segala sesuatu dengan hati yang bahagia, tidak ada kerisauan dan beban, tentu akan membuat hati menjadi bahagia. Itulah kesannya dalam mengikuti training 4in1 kali ini. Ia merasakan sukacita menjadi bagian dari Tzu Chi karena bisa berbagi pengalaman dan ilmu kepada orang lain yang membutuhkan.

“Sifat manusia itu berbeda-beda, misalkan seperti jenis plastik ada yang keras seperti hempek dan ada yang lunak seperti jenis plastic PE, demikian juga manusia, yang sifatnya berbeda-beda. Diharapkan bisa saling mengalah dalam berinteraksi sehingga bisa menjalankan Dharma Master Cheng Yen, seiya sekata seperti tema training kita kali ini, sepaham, sepakat dan sejalan,” pungkasnya

Memahami Filosofi Tzu Chi dari kerja di lapangan.
Sementara itu lancarnya pelaksanaan Kamp 4in1 2019 tak terlepas dari para relawan yang bertugas di lapangan, misalnya di bagian di konsumsi, pelayanan, penjemputan, dan penginapan. Walaupun tidak duduk di kelas para relawan ini sesungguhnya sedang mempraktikkan filosofi Tzu Chi dari kerja di lapangan.


Inti daripada kesuksesan tim penginapan adalah saling menghargai sehingga tercipta keharmonisan di antara relawan. Kata Juliana Shanty.

Juliana Santy misalnya, yang bertugas sebagai PIC bagian penginapan menjelaskan tim penginapan mempersiapkan penginapan untuk peserta 4in1 selama dua pekan. Tim yang bertugas ini bekerja dengan sangat kompak. Semua relawan saling bahu membahu dari membersihkan penginapan, mempersiapkan kebutuhan istirahat relawan, membagi kamar untuk relawan serta snack dan minuman untuk relawan yang menginap. Dengan bantuan koordinasi berjenjang oleh ketua He Qi masing-masing tidak ditemukan kendala yang berarti.

“Inti daripada kesuksesan tim penginapan adalah saling menghargai sehingga tercipta keharmonisan di antara relawan. Bekerja dengan tenang, saling penuh pengertian dan harus bersungguh hati. Semua ini adalah inti kelancaran dari kegiatan ini,” kata Juliana.

Menjalankan Filosofi Tzu Chi dalam Kehidupan Sehari-hari
Lili Sulistiawati, relawan dari Hu Xie 1 yang bertempat tinggal di Cibubur, Jakarta dan telah bergabung dengan Tzu Chi pada tahun 2018. Lili Sulistiawati merasakan banyak manfaat menjalankan filosofi Tzu Chi dalam kehidupan sehari-hari, terutama di keluarga. Bersama Tzu Chi ia semakin banyak melihat kehidupan orang lain yang masih membutuhkan pertolongan dan menjadikan dirinya sangat bersyukur.


Lili Sulistiawati mengumpamakan dirinya adalah batu bata biasa dan berharap dapat menjadi sebuah batu bata yang bentuknya baik, yang bisa berguna bagi orang lain di muka bumi ini.

Di Tzu Chi merupakan wadah bagi dirinya, sebuah ladang berkah  untuk berbuat lebih lagi baik di dalam sisa hidupnya, menjelang usia senja menuju 60 tahun.

“Saya adalah batu bata biasa, semoga saya bisa menjadi sebuah batu bata yang berbentuk baik, yang bisa berguna bagi saudara kita di muka bumi ini,” ujarnya.

Waktu bergulir terus harapan Lili Sulistiawati, dirinya kedepan bisa menjadi batu yang bisa membuat batu-batu lain bersinar di dalam kehidupan ini.

Editor: Khusnul Khotimah

Artikel dibaca sebanyak : 357 kali


Berita Terkait




Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Hakikat terpenting dari pendidikan adalah mewariskan cinta kasih dan hati yang penuh rasa syukur dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat