Rabu, 13 November 2019
Indonesia | English

Kamp DAAI TV 2016: Melihat lebih Benar, Merenung lebih Dalam

18 April 2016 Jurnalis : Fammy Kosasih (He Qi Timur)
Fotografer : Fammy Kosasih (he Qi Timur), James Yip (He Qi Barat)

Lim Ji Shou (kanan), mengajak staf DAAI TV Indonesia untuk bersama-sama menelaah kembali visi misi awal DAAI TV

Di sesi sharing yang bisa juga dibilang sesi sharing puncak dari Kamp Pelatihan Budaya Humanis DAAI TV di hari Sabtu sore, 9 April 2016 itu menampilkan pembicara Lim Ji Shou, relawan komite Tzu Chi asal Malaysia. Yang menarik dari sharing tersebut ialah beliau menyampaikan bahwa di abad 21 ini semua orang harus berpikir keluar dari zona nyamannya. Untuk itu, Ji Shou mengajak para peserta menyegarkan diri dalam sebuah permainan cerdas kecil, mereka harus menghubungkan 9 titik menjadi 4 garis tanpa terputus di atas kertas.

Kemudian Lim Ji Shou yang membawakan materi dengan  tema “Melihat Lebih Benar, Merenung Lebih Mendalam”, mengajak para peserta kamp untuk bersama-sama menelaah kembali visi misi awal DAAI TV terbentuk. Di situ Lim Ji Shou menjelaskan sebenarnya visi awal DAAI TV yang dibentuk sejak tahun 2003 lalu adalah sama dengan visi Tzu Chi. Karena awalnya memang semua bermula dari Tzu Chi. Kebenaran, kebajikan dan keindahan adalah prinsip DAAI TV.

Menurut Ji Shou, misi DAAI TV adalah bagaimana membawa aliran air yang menjernihkan batin manusia, menjadi arus dharma yang menenteramkan kekacauan di tengah masyarakat dan membawa perhatian benar di tengah dunia yang kian mengalami kerusakan. Ji Shou pun memberikan sebuah perumpamaan jika kita manusia yang tinggal di bumi ini sungguh kecil, sungguh tidak berarti apa-apa dibandingkan alam semesta yang demikian megah dan besarnya ini. Dari situ baru kita bisa belajar bagaimana merendahkan hati kita. “Jadi kita mesti belajar dan terus belajar banyak hal kalau tidak kita rasanya kita sudah cukup besar,”  Imbau  Ji Shou kepada para peserta yang hadir. Oleh karena itu, menurut Ji shou refleksi itu cukup penting. “Kalau kita tidak refleksi, kita tidak bisa dapat apa-apa. Jadi dari refleksi apa yang mau dilihat adalah yang sebenar-benarnya tercermin. Siapa diri kita yang sebenarnya. Refleksi itu penting karena mencintai otak kita sebenarnya. Kita melihat sisi manusia kita sebenarnya. Itulah sebabnya kenapa dunia saat ini butuh yang namanya budaya humanis,” jelas Ji Shou. Jadi menurut Ji Shou tujuan adanya DAAI TV ialah bagaimana kita mengedepankan budaya humanis. Bagaimana setiap harinya hati kita merasakan mulai dari simpati lalu empati dan paling penting kita bisa memiliki rasa welas asih. “Banyak orang menderita bukan hanya karena bencana dan sakit, tapi banyak juga batinnya yang menderita. Itulah mengapa kebajikan menjadi gaya hidup insan Tzu Chi dan kita yang bekerja di DAAI TV seharusnya juga bisa rasakan. Kalau kita tidak punya perasaan bagaimana kita bisa membantu orang lain mendapatkan perasaan yang benar,” ungkap Ji Shou.  

Zulfril (mike), memberikan sharing mengenai pengalamannya bekerja di DAAI TV. Menurut Zulfril, DAAI TV mempunyai porsi yang sangat luas untuk menyebarkan berbagai macam infomasi baik kepada masyarakat umum.


Hari Sabtu, 9 April 2016, ruang lantai 2 Aula Jing Si dipenuhi oleh pata staf DAAI TV yang sedang mengadakan kegiatan Kamp Budaya Humanis

Memberikan Nilai Positif untuk Masyarakat

Sharing-sharing yang menarik sepanjang pagi hingga sore hari itu mengundang banyak perhatian dari peserta kamp. Salah satunya ialah Zulfril, yang bekerja di program Halo Indonesia ini selalu memastikan bahwa program di Halo Indonesia itu berjalan sesuai dengan tema yang sudah disepakati dan sesuai dengan pola DAAI TV dan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia. Staf yang sudah berkarya di DAAI TV selama 8 tahun ini menganggap kamp kali itu memiliki arti yang positif.”Bisa dibilang menjadi sarana buat kita saling mengenal satu sama lain dengan teman-teman kita yang beda divisi lebih mendalam,” ujarnya.

Menurut Zulfril, DAAI TV mempunyai porsi yang sangat luas untuk menyebarkan berbagai macam infomasi baik. “Di DAAI TV kita ditantang bagaimana kita mengolah suatu permasalahan yang sedang muncul di masyarakat, tapi dengan pola yang dimiliki oleh DAAI TV. Itulah tantangan bagi kami jurnalis di DAAI TV, ” jelasnya.  Ada pun pengalaman berkesan baginya adalah saat meliput satu profil figur seorang perancang busana ternama yang punya jiwa sosial, membuat rumah singgah buat anak-anak penderita Hidrosefalus. Dan ternyata hasil liputan yang dibuatnya mendapatkan respon yang baik dari sosial media, seperi Facebook. Di sana ia merasa ada satu kebanggaan di mana berita itu ditonton oleh orang dan memberi dampak positif buat orang lain maupun masyarakat. “Sebagai insan DAAI TV, kita buat liputan yang lebih baik, memberikan nilai-nilai positif untuk masyarakat. Semoga dengan liputan-liputan itu kita bisa mengajak lebih banyak masyarakat tergerak hatinya, bisa mengambil manfaat yang baik, untuk membantu orang lain yang kesusahan,” tutupnya.

Artikel dibaca sebanyak : 1478 kali


Berita Terkait


Suka Cita Dalam Kebersamaan

03 April 2017

Kamp Humanis DAAI TV: Menyelami Budaya Humanis Perusahaan

10 Maret 2015


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Jangan menganggap remeh diri sendiri, karena setiap orang memiliki potensi yang tidak terhingga.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat