Minggu, 22 September 2019
Indonesia | English

Ketegaran Menghadapi Ujian Kehidupan

24 Juli 2019 Jurnalis : Suyanti Samad (He Qi Timur)
Fotografer : Suyanti Samad (He Qi Timur)


Selama 14 tahun Susanti harus berjuang dari penyakit autoimun (lupus). Cobaan kembali datang ketika pada tahun 2019 dokter mendeteksi adanya tumor otak di kepalanya.

Seringkali kita mendengar tentang penyakit autoimun, penyakit yang disebabkan oleh sistem imun atau kekebalan tubuh kita sendiri. Penyakit autoimun adalah penyakit yang terjadi akibat sistem kekebalan tubuh (sistem imun) menyerang sel-sel sehat dalam tubuh kita sendiri. Penyakit ini berkembang ketika sistem kekebalan tubuh kita salah dalam menilai sel sehat yang ada dalam tubuh kita dan malah menganggap sebagai zat asing. Akibatnya tubuh kita mulai memproduksi antibodi yang akan menyerang dan merusak sel sehat dalam tubuh kita. Penyakit autoimun dapat mempengaruhi hampir semua bagian tubuh, termasuk otak, saraf, otot, kulit, sendi, mata, jantung, paru-paru, ginjal, saluran pencernaan, kelenjar dan pembuluh darah.

Pada tahun 2005 silam, Susanti (37) di vonis menderita penyakit lupus ginjal. Dalam istilah ilmiah, disebut systemic lupus erythematosus (SLE). Penyakit ini merupakan salah satu penyakit autoimun. Penyakit ini menyebabkan terbentuknya antibodi yang justru menyerang hampir seluruh jaringan tubuh penderita.

Jam terasa berhenti berdetak sejenak bagi Susanti. “Hari itu saya baru lulus kuliah, dimana semua pengharapan besar untuk masa depan, saya malah dapat vonis lupus ginjal. Inilah masa terberat bagi saya.” tutur Susanti mendapat dukungan keluarga, teman-teman, komunitas dari agama telah membuatnya bisa melewati masa-masa sulit selama tahun 2005 kemarin. Dukungan terbesar ini juga menjadikan Susanti dapat bersahabat baik dengan penyakit lupus. “Dokter bilang penyakit ini belum ada obatnya hingga saat ini. Hanya bisa dimaintain bagaimana penyakit lupus tidak aktif.” cerita Susanti, anak sulung dari tiga bersaudara, dan tulang punggung bagi keluarga kecilnya. Pengobatan lupus umumnya bertujuan untuk menekan sistem kekebalan tubuh sehingga mengurangi peradangan dan mencegah kerusakan organ lebih lanjut. Ketegaran Susanti dalam menghadapi penyakitnya, telah membuat ginjalnya kembali normal.

Cobaan hidup seolah tak mau menjauh dari kehidupan Susanti. Pada awal tahun 2018 kemarin, Susanti mengalami gangguan penglihatan. Hari ke hari, Susanti makin merasa tidak nyaman dengan penglihatannya. Ia kemudian melakukan pemeriksaan ke salah satu klinik mata di Jakarta. Sebagai wanita yang bekerja, maka penglihatan yang jelas menjadi penting baginya. Ini membuatnya segera mencari tahu pengobatan mata yang tepat.

Dari hasil pemeriksaan ditemukan adanya katarak di dua mata Susanti yang cukup tebal. Dokter mengasumsikan ini adalah salah satu dari efek samping obat lupus yang selama 14 tahun dikonsumsinya. Dokter menyarankan harus segera dioperasi. Pada bulan Juli 2018, Susanti memutuskan untuk menjalani operasi katarak mata sebelah kanan, dan berselang sebulan kemudian operasi katarak mata sebelah kiri. Namun hasil operasi katarak tidak berdampak banyak terhadap penglihatan Susanti. Yang terjadi justru kondisi penglihatannya malah mengalami penurunan.

Awal tahun 2019, akibat keterbatasan biaya pengobatan, mendorong Susanti mengurus asuransi kesehatan dari pemerintah, BPJS. Proses pengobatan dimulai dari Puskesmas sampai ke RS Cipto Mangunkusumo Jakarta. Di sini Susanti diminta untuk menjalani tes (Magnetic Resonance Imaging) MRI. “Sampai akhirnya bulan April 2019, dokter mendianogsa ada tumor otak (jinak) sebesar 3 cm, tumbuh di antara persimpangan otak dengan saraf mata, sehingga menekan saraf mata. Ini yang menyebabkan penurunan penglihatan,” papar Susanti setengah putus asa. Dokter menyarankan agar segera dilakukan operasi pengangkatan tumor dengan resiko keberhasilan sebesar 90%. Bila gagal maka akan terjadi pendarahan pada otak yang mengakibatkan kebutaan.

Jalinan Jodoh dengan Tzu Chi
Ketegaran berjuang menghadapi penyakit lupus selama 14 tahun, mulai goyah dengan datangnya badai baru dalam hidup Susanti. Keberadaan tumor otak membuat Susanti sedih, takut, hingga sempat berkata dalam hati, “Selesailah hidup saya. Hari itu, hanya ada perasaan takut, kecewa, dan sedih. Sempat bertanya pada diri sendiri, kenapa harus saya lagi? Bersyukur saya segara menyadari dan kembali bersemangat.”


Relawan Tzu Chi mengunjungi Susanti dan memberikan semangat dan motivasi kepadanya agar tetap kuat dan semangat menjalani kehidupannya.

Setelah berhasil mendapat jawaban atas pertanyaan, dengan selalu berdoa, menjalani pengobatan, hingga berjodoh dengan teman-teman di Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia. Jalinan jodoh ini terjalin berkat dukungan keluarga, teman kantor, dan teman lainnya, Susanti mengajukan permohonan bantuan pengobatan ke Tzu Chi, “Hari itu, sebenarnya ada perasaan malu untuk mengajukan permohonan ke Tzu Chi. Sebagai seorang karyawati swasta (bagian keuangan) yang sudah 15 tahun lebih bekerja, secara nominal penghasilan harusnya cukup (mampu). Namun saat kita menghadapi suatu penyakit, juga keluarga ada yang sakit, kadang apa yang tidak terpikir bisa terjadi. Semua yang kita punya, dalam sekejap bisa hilang,” jelas Susanti. Ia harus segera menjalani operasi pengangkatan tumor otak. Bila tidak, secara medis,  tumor otak akan menyebabkan kebutaan.

Semua proses administrasi pengajuan permohonan bantuan Tzu Chi pun dilengkapi. Mulai dari survei, kunjungan, hingga akhirnya permohonan tersebut disetujui berupa dana operasi pengangkatan tumor otak. Proses operasi pengangkatan tumor dilakukan oleh Tim Medis Rumah Sakit Siloam Karawaci, Tangerang, Banten pada Juni 2019. Mendapat bantuan ini, Susanti sangat bersyukur. Terlebih operasi pengangkatan tumor otak di kepalanya berhasil sehingga ia dapat melihat dengan jelas dari mata sebelah kiri, sedangkan mata sebelah kanan masih dalam pemulihan. Semua kejadian yang dialaminya membuat Susanti sebesar mimpi buruk., “Seperti mimpi buruk, namun berkat dukungan semua orang, semuanya dapat saya dilewati dengan baik,” kata Susanti yang merupakan karyawati Agung Sedayu Grup.

Walau operasi tumor otak (bedah saraf) berhasil dilakukan, Susanti masih harus menjalani pengontrolan pengobatan penyakit lupus ginjal (autoimun). Susanti juga harus melakukan pengontrolan pengobatan saraf otak melalui MRI ulang pasca 3 bulan bedah saraf, “Secara periodik harus dipantau bagaimana perkembangan tumor itu. Dicek lagi, apakah tumornya itu kembali tumbuh, atau seperti apa terapinya nanti akan ditentukan dari MRI, 3 bulan setelah operasi, dan 1 tahun kemudian harus maintain ulang. Bila tumor tumbuh, maka harus menjalani terapi gamma knife (stereotactic radiosurgery), atau penyinaran atas tumor.” pungkas Susanti sangat berterima kasih kepada keluarga besar Tzu Chi, atas dukungan, bantuan, doa, pendampingan hingga dapat melewati masa-masa tersulitnya.

Editor: Hadi Pranoto

Artikel dibaca sebanyak : 381 kali


Berita Terkait




Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Jangan takut terlambat, yang seharusnya ditakuti adalah hanya diam di tempat.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat