Jumat, 15 November 2019
Indonesia | English

Keyakinan Diri dan Bersyukur pada Hidup

10 September 2019 Jurnalis : Shelfi (HQ Utara 1)
Fotografer : Erli Tan, Shelfi (HQ Utara 1)


Sebanyak 67 anak-anak mengikuti kelas budi pekerti Qin Zi Ban dan Tzu Shao Ban komunitas He Qi Utara 1 pada 25 Agustus 2019, di mana pembukaan kelas dipimpin oleh Tio Mei Hui Shigu.

Zao an Tzu Shao men……,” begitu sapa Wong Chuin Leen bersemangat membuka kelas Tzu Shao.

Zao an Laoshi…,” dengan tidak kalah semangat murid-murid membalas sapaannya.

Pagi itu, Minggu 25 Agustus 2019,  kelas budi pekerti komunitas He Qi Utara 1 yang digelar di Tzu Chi Center dihadiri 33 murid Tzu Shao dan 34 murid Qin Zi Ban. Seperti biasa mereka berkumpul dulu di Fu Hui Ting, membuka kelas dengan penghormatan kepada Master Cheng Yen, membaca ikrar, baru kemudian dibagi ke kelas masing-masing. Tema kelas hari itu di Tzu Shao Ban adalah Keyakinan, sedangkan di Qin Zi Ban adalah Bersyukur.


Salah satu Tzu Shao berusaha mencari cara bagaimana melubangi kertas agar dapat dilewati satu badan.

Murid-murid dibagi menjadi beberapa kelompok, tiap kelompok diberi 1 lembar kertas ukuran A4. Mereka diminta membuat lubang di kertas tanpa alat bantu seperti gunting atau cutter, dan lubang tersebut harus bisa dilalui satu orang dari kepala sampai kaki. Ada yang merobek kertasnya dari tengah, ada yang dari pinggir, macam-macam cara dilakukan. Lalu tiap kelompok mulai coba memasukkan badan melalui lubang itu.

“Wah sulit nih…. mana bisa lubang dari kertas melalui satu tubuh manusia.”

“Dicoba dulu, mana tau kita bisa,” celoteh beberapa anak Tzu Shao di satu kelompok.

“Ayooo….sudah selesai?” tanya Chuin Leen, satu per satu kelompok lanjut mencoba. Setelah beberapa menit berlalu, tiba-tiba ada satu kelompok mengangkat tangan dan menyahut, “Kami bisa….” Lalu dengan dibantu teman kelompoknya, salah satu anak mulai memasukkan kedua tangan, melewati kepala, bahu, perut, lalu kaki, sampai akhirnya seluruh tubuhnya benar-benar melewati lubang di kertas mereka.

Melihat dengan kagum, anak-anak dan Chuin Leen Laoshi memberikan tepuk tangan.

“Ayoo…kita coba sekali lagi, tapi kali ini kita mengikuti cara dari teman kalian ini ya?” ajak Laoshi.

Satu per satu mencoba lagi membuat lubang, kali ini dengan gunting.

“Wah…ternyata kalau dengan cara ini saya berhasil ya,” seru salah satu Tzu Shao.

 

Dennis Alexander Prasetio (kedua dari kiri) bersama teman-teman sekelompoknya berhasil membuat satu lubang besar di kertas yang dapat dilewati satu badan.

“Lihatlah.. sebelumnya kalian gagal, setelah mencoba dengan cara lain ternyata kalian pun dapat berhasil sama seperti teman kalian tadi,” komentar Chuin Leen Laoshi. “Nah…. makanya jangan putus asa di awal. Inilah makna games yang kalian mainkan, kadang pada saat masalah datang kita malah menyerah sebelum memulai. Memulai sesuatu juga harus dengan dasar keyakinan bahwa kita mampu menyelesaikan sampai akhir,” lanjut Chuin Leen memberikan penjelasan ke anak-anak.

Seperti yang dilakukan Dennis Alexander Prasetio, anak dari kelompok yang berhasil tadi awalnya tidak yakin, namun ia mau mencoba. “Tadi saya pikir-pikirin gimana caranya, saya gak yakin berhasil, saya cuma berusaha dan mencoba. Kalau berhasil syukur, kalau gak, saya akan coba lagi cara lain,” tutur Dennis. “Makna kelas hari ini bagi saya, yaitu jangan meremehkan apapun, karena bisa saja memiliki manfaat besar,” lanjut Dennis.

 

Setelah tahu caranya, anak-anak bahkan dapat membuat lubang yang lebih besar.

Menurut Chuin Leen yang profesinya memang seorang guru, permainan ini jarang ada yang bisa selesaikan. “Awalnya games yang mereka pikir gak mungkin, ternyata ada teman yang kepikir dan berhasil. Padahal  jarang yang langsung bisa berhasil dalam games ini,” tukas Chuin Leen.

“Intinya kita mau anak-anak bisa belajar, saat bertemu rintangan, diamati dengan tenang dan dipikirkan dulu baik-baik, jangan putus asa di depan,” lanjutnya. Ia berharap apapun yang dihadapi anak-anak kelak dalam perjalanan hidup, mereka harus memiliki keyakinan bahwa mereka bisa sukses jika mau berupaya dan pantang menyerah.

Bersyukur pada Hidup
Setelah itu, ruang Fu Hui Ting berganti dengan anak Qin Zi Ban, sedangkan anak Tzu Shao gantian latihan drama di ruang lain. Dengan tema Bersyukur dibawakan oleh Kimsry Widjaja Shigu, anak-anak Qin Zi Ban duduk dengan hening dan rapi mendengarkan arahan.

 

Para Xiao Pusa menggambar dan mewarnai rumah beserta isinya. 

Xiao Pusa, nanti kalian akan diberi cat warna untuk menggambar rumah, dan di dalam rumah gambarkan benda-benda favorit yang biasa ada di rumah kalian, tapi nanti ada yang dapat 1 warna, 2 warna, bahkan ½ warna,” jelas Kimsry Shigu.

Anak-anak lalu dituntun menuju lorong di samping Fu Hui Ting yang sudah ada meja kursi dan peralatan menggambar. Mereka dibagi menjadi 4 kelompok. Wajah mereka berseri-seri dan bersemangat karena akan mulai menggambar.

“Wah kita cuma dapat satu cat warna,” seru salah satu Xiao Pusa. “Saya dapat tiga warna, hijau, biru, kuning. Gambar saya pasti yang paling bagus,” ujar Xiao Pusa di kelompok lainnya.

 

Walaupun terasa geli, malu, dan tidak percaya diri, namun Xiao Pusa tetap maju per kelompok dan menjelaskan apa saja yang ada di dalam rumah mereka. 

Anak-anak mulai menggambar, ada yang mulai dengan membuat sketsa dari pensil. Mereka saling berbagi tugas, ada yang menggambar, ada yang mewarnai.

“Sudah selesai semua Xiao Pusa?” tanya Kimsry Shigu. Kelompok demi kelompok dengan bangga dan wajah tersenyum memperlihatkan hasil karya masing-masing. Macam-macam bentuk rumah dan perabotan yang ada di dalam rumah. Walau dengan warna yang sangat terbatas, anak tetap bisa berkreasi dengan indah.

Kembali ke dalam Fu Hui Ting, setelah tiap kelompok maju ke depan untuk menjelaskan gambar masing-masing, Kimsry Shigu memberi kesimpulan.

 

Kimsry Shigu menjelaskan makna di balik kegiatan menggambar hari ini.

“Tahukah kalian cat warna tadi melambangkan hal-hal terbaik yang dapat diberikan orang tua kepada kita, misalnya fasilitas agar kita hidup nyaman, memberi kita perlindungan dll. Nah tadi kan ada yang mendapat tiga cat warna, itu ibarat orang tua yang memiliki daya berkecukupan dan melimpah yang memberikan segala hal tersebut bagi anak-anaknya. Lalu tadi ada juga ada yang mendapat ½ cat warna ibarat orang tua yang walaupun keadaannya kekurangan tapi tetap berupaya memenuhi kebutuhan dan selalu memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya,” jelas Kimsry di depan anak-anak.

Makna dari permainan menggambar ini adalah agar anak-anak dapat bersyukur atas apapun yang mereka dapatkan dalam hidup ini, terutama pada kedua orang tua yang telah berupaya memberikan kehidupan yang penuh warna-warni kepada anak-anaknya. Kelas pun ditutup dengan sebuah Kata Perenungan yaitu: Berbakti dan merawat orang tua, sebagai wujud membalas budi orang tua yang telah merawat, membimbing, dan membesarkan kita; menghormati guru, sebagai wujud terima kasih telah mengembangkan kebijaksanaan.

Editor: Khusnul Khotimah

Artikel dibaca sebanyak : 266 kali


Berita Terkait




Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Walau berada di pihak yang benar, hendaknya tetap bersikap ramah dan bisa memaafkan orang lain.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat