Kisah dari Kuntum Teratai Hati

Jurnalis : Metta Wulandari , Fotografer : Dokumentasi Pribadi


Tangkapan layar tanda terima kasih untuk donatur Satu Juta Kuntum Teratai Hati yang dikirimkan oleh Yusniaty. Ia bersyukur dalam masa yang tidak pasti ini, masih ada banyak donatur yang bersedia mendukung Tzu Chi Hospital.

Penggalangan program Satu Juta Kuntum Teratai Hati masih berjalan. Program yang digalakkan sejak 1 Mei 2021 untuk Tzu Chi Hospital ini telah membuat kuntum teratai bermekaran di mana-mana. Tak hanya di Jakarta, di mana merupakan lokasi Tzu Chi Hospital berada, tapi juga hingga ke luar kota.

Yusniaty, seorang relawan Tzu Chi dari komunitas relawan He Qi Utara 1 bercerita bahwa banyak sahabat dan kerabatnya yang sangat antusias berdonasi kuntum Teratai melalui dirinya.

“Saya ajak teman-teman main zaman dulu, dari Makassar, Sulawesi, Batam, sampai dari Beijing. Ternyata mereka mau dan antusias,” cerita Yusni lewat sambungan telepon. “Jumlahnya sekarang 92 Kuntum Teratai, jie,” lanjutnya bahagia.

Jumlah donasi yang dikumpulkan Yusni sebenarnya sudah melampaui targetnya sendiri. Awalnya ia menghitung hanya bisa mengumpulkan sekitar 20 hingga 30 kuntum saja, tapi semakin hari semakin bertambah. “Rasanya lebih senang daripada dapat uang buat diri sendiri,” ungkapnya.

Bukan tanpa sebab, sejak awal Yusni sudah sangat tergerak karena Master Cheng Yen mengatakan bahwa memberikan donasi untuk rumah sakit sama saja dengan menanam benih kesehatan. Jadi dana rumah sakit tidak hanya dari orang tertentu saja, melainkan semua orang yang ingin bersumbangsih bisa ikut serta. Kekuatan banyak orang bisa memberikan kekuatan yang lebih besar untuk rumah sakit.

“Saat denger itu ketika sosialisasi, saya langsung benar-benar ingin ikut menggalang kuntum Teratai,” kenang Yusni.



Selain mengajak langsung teman-temannya melalui telepon ataupun WhatsApp, Yusni juga kerap mengunggah ajakan menanam Kuntum Teratai dari akun Facebooknya hingga beberapa ikut serta.

Semangat itu pula yang ia bagikan untuk teman-temannya. “Padahal teman-teman saya juga tidak di Jakarta, mungkin untuk lihat wujud rumah sakitnya juga dari internet. Tapi mereka sungguh ingin ikut bersumbangsih. Mereka pikir ini adalah kesempatan mereka untuk ikut bersumbangsih. Tentu saya happy, sangat bersyukur, gan en untuk semua,” kata Yusni.

Selain mengajak langsung teman-temannya melalui telepon ataupun WhatsApp, Yusni juga kerap mengunggah ajakan menanam kuntum Teratai dari akun Facebooknya. Tak jarang ia mengungkapkan terima kasih dengan mengunggah pula bukti donasi di sana. Dari situ, ia tak menyangka akan ada yang tertarik berdonasi pula.

“Sebenarnya saya nggak kenal beliau siapa, tapi kalau dilihat dari pertemanan, dia ada saudara sama teman saya. Jadi kita tahu di Facebook kan suka nyambung ya. Nah nggak disangka-sangka dari nggak kenal itu mau juga ikut donasi. Jadi kalau media sosial dijadikan ladang kebjikan, pasti hasilnya baik juga,” kisah Yusni antusias, “saya pikir ya ini salah satu usaha kita mendukung rumah sakit. Dengan begitu banyak yang ikut, mereka juga ikut berdoa untuk rumah sakit, untuk kesehatan semua orang juga. Jadi berapapun yang ikut itu adalah himpunan doa baik kita semua.”

Pernikahan yang Penuh Berkah



Shelly Widjaja bersama suami dan anak serta menantunya saat upacara pemberkatan pernikahan di gereja. Pernikahan yang digelar secara sederhana tersebut tidak mengurangi kebahagiaan dan doa-doa baik lainnya.

Kisah jalinan jodoh baik lainnya dalam penggalangan donasi Satu Juta Kuntum Teratai Hati adalah kisah dari Shelly Widjaja, relawan Tzu Chi komunitas He Qi Utara 1. Kisahnya terbilang sangat menggugah hati karena ia menggalang hati keluarganya sendiri, lebih tepatnya anak dan menantunya dengan jumlah 1.000 Kuntum Teratai.

Anak Shelly, Celyn Laurenzy beserta menantunya Robert Tedja masing-masing menyumbangkan 500 kuntum setelah menghemat biaya perkawinan mereka pada 29 Mei 2021 lalu. “Jadi uang yang dihemat ditambah sedikit angpao karena sebenarnya kami juga sudah bilang tidak menerima angpau. Ya mereka (kedua mempelai) mau donasikan, ya sudah. Pas ini ada program Kuntum Teratai,” kata Shelly.

Pernikahan Celyn dan Robert awanya direncanakan akan digelar di Bali, namun karena pandemi, rencana tersebut urung dilaksanakan. Sebagai gantinya, mereka hanya menggelar upacara pemberkatan sederhana di gereja di Jakarta. Hanya keluarga inti yang turut serta. Di samping itu, makan keluarga pun ditiadakan dan resepsi sama sekali tidak dilakukan.

“Dari pihak mempelai juga tidak komplain karena sama-sama tahu bahwa semua ini untuk kebaikan kita. Karena makin banyak orang yang datang, makin berisiko. Padahal waktu itu juga (kasus positif Covid-19) belum melonjak sebanyak sekarang. Saya bilang berkurang satu tamu, ada kontak berkurang,” tutur Shelly.

Shelly juga bercerita ia sempat berpesan kepada anaknya bahwa, upacara perkawinan yang spesial memang menjadi impian semua orang, namun lebih baik doa untuk perkawinan yang bahagia dan langgeng daripada sekadar pesta sesaat saja.

“Jadi yang penting kondisi kita ada sense of crisis. Ngapain kita habis banyak duit sementara orang lain banyak yang nggak makan. Kayaknya nggak cocok. Orang banyak yang sakit sementara kita hore-hore. Itu benar-benar nggak ada sense of empathy. Jadi semua ya langsung setuju (untuk tidak mengadakan pesta),” papar Shelly.

Anak dan menantu Shelly Widjaja, Celyn Laurenzy beserta Robert Tedja masing-masing menyumbangkan 500 Kuntum Teratai setelah menghemat biaya perkawinan mereka pada 29 Mei 2021 lalu.

Melihat kedua anaknya yang sangat berlapang dada, Shelly bersyukur dan senang. Ia menyertakan doa terbaiknya untuk untuk pernikahan yang penuh berkah dan bahagia selamanya.

Di luar kedua anaknya, Shelly juga sudah menggalang 600-an Kuntum Teratai lainnya. Sehingga apabila dijumlahkan kini sudah lebih dari 1.600 Kuntum Teratai Hati bermekaran.

“Kita maunya pasti Tzu Chi Hospital harus sukses, artinya sesuai dengan arahan dari Master Cheng Yen, yaitu menjadi rumah sakit yang untuk orang yang membutuhkan, yang memang berbeda dari rumah sakit lain. Ya fungsi rumah sakit kan mengobati orang sakit, tapi Master Cheng Yen ingin rumah sakit yang benar-benar ada cinta kasihnya,” ungkap Shelly, “Jadi semoga semua tenaga medis, tenaga kesehatan, dan semua yang di Tzu Chi Hospital punya mindset bahwa rumah sakit ini bukan untuk bisnis melainkan benar-benar membantu mereka yang membutuhkan. Seperti Pak Aguan bilang juga, semoga nantinya orang sakit nggak usah sedikit-sedikit ke luar negeri.”

Editor: Khusnul Khotimah


Artikel Terkait

Kamp 4 in 1 2019: Sentuhan Kasih di Tzu Chi Hospital

Kamp 4 in 1 2019: Sentuhan Kasih di Tzu Chi Hospital

30 Juli 2019
“Bila sebuah rumah sakit penuh cinta kasih, apakah kita akan merasa nyaman di sana? Kenapa? Karena ini adalah Tzu Chi,” kata Huang Ming Yue, relawan Komite Tzu Chi asal Taiwan yang menjadi pembicara dalam Kamp 4 in 1 2019, di Tzu Chi Center Jakarta, 27 Juli 2019. 
Mewujudkan Pelayanan Kesehatan yang Berbudaya Humanis

Mewujudkan Pelayanan Kesehatan yang Berbudaya Humanis

02 November 2020

Menjelang soft opening yang tinggal menghitung bulan, Tzu Chi Hospital Indonesia membekali para stafnya dengan berbagai pelatihan yang diadakan secara berkala. Ini bertujuan demi mewujudkan pelayanan kesehatan yang berbudaya humanis, berteknologi tinggi, dan bertaraf internasional.

Pekan Amal Tzu Chi 2018: Sumbangsih untuk Tzu Chi Hospital

Pekan Amal Tzu Chi 2018: Sumbangsih untuk Tzu Chi Hospital

26 April 2018

Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia kembali menggelar Pekan Amal Tzu Chi tahun 2018 yang diselenggarakan pada Sabtu dan  Minggu, 21-22 April 2018 di basement Tzu Chi Center, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara. Pekan amal ini menyediakan beragam kuliner vegetaris dan berbagai produk lainnya seperti barang kebutuhan pokok (beras minyak goreng, gula dan lainnya), perlengkapan rumah tangga, pakaian, hingga barang-barang elektronik.


Sikap jujur dan berterus terang tidak bisa dijadikan alasan untuk dapat berbicara dan berperilaku seenaknya.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -