Senin, 25 Mei 2020
Indonesia | English

Kisah Haru dari Sebuah Paket Bantuan

19 Mei 2020 Jurnalis : Anand Yahya
Fotografer : Anand Yahya


Hwa Hwa menerima paket dari pengendara transportasi online yang dikirim langsung oleh relawan Tzu Chi dari Depo Pelestarian Lingkungan Duri Kosambi.

Relawan Tzu Chi komunitas wilayah Jakarta Barat He Qi Barat 2 menyalurkan bantuan paket sembako kepada 18 keluarga penerima bantuan jangka panjang Tzu Chi (Gan En Hu) dan 9 orang anak asuh pada Minggu17 Mei 2020. Relawan Tzu Chi, Hendra Tanumihardja mengatakan kali ini relawan mau berbagi juga dengan para pengendara ojek online agar mereka juga mendapat berkah dari bantuan yang disalurkan. “Kita 16 orang relawan yang hadir memesan ojek online untuk mengantar bantuan sembako ini. Kita juga ada kasih bingkisan tersendiri untuk pengemudi ojek online ini,” kata Hendra di Depo Pelestarian Lingkungan Tzu Chi Duri Kosambi. Menurut Hendra, selain kita memberikan bantuan kepada penerima bantuan Tzu Chi dan anak asuh kita juga secara langsung memberikan penghasilan kepada para pengemudi ojek online.

"Bantuan tersebut, total semuanya ada 27 paket, isinya beras 5 Kg, gula 1 Kg, minyak goreng 1 liter, masker 3 pcs dan biskuit 1 pcs," terang Hendra. Salah satu penerima bantuan adalah keluarga Marcel Tjandra (59), yang tinggal bersama Tan Kwie Hwa (59) istri yang biasa disapa Hwa Hwa dan sepasang anak yang menderita talasemia Evelyn dan Malvin. Kisah hidup keluarga ini diselimuti oleh berbagai penyakit pada masing-masing anggota keluarganya. Dimulai dari kedua anak mereka, Evelyn dan Malvin yang menderita talasemia sejak berumur 6 tahun. Kemudian, pada tahun 2008 Tjandra terkena stroke, dan Hwa Hwa menderita kanker ovarium sejak tahun 2015.       

Tjandra mengalami stroke sejak tahun 2008, dan sejak itu ia tidak bisa bekerja lagi sebagai kontraktor. “Ini perumahan yang sebelah sana rumahnya saya yang bangun,” akunya dengan suara terbata-bata dan sedikit cadel akibat strokenya. Berusaha untuk menyambung hidup keluarga, sang istri Hwa Hwa berjualan nasi bakar di pasar.


Marcel Tjandra sangat terharu ketika paket sembako dari Yayasan Buddha Tzu  Chi Indonesia datang melalui ojek online. Tjandra menderita stroke sejak 2008, sang istri menderita kancer dan kedua anaknya mengalami talasemia yang mengharuskannya untuk tranfusi darah sebulan sekali.

Baru merintis berjualan nasi bakar, Hwa Hwa divonis terkenakanker ovarium pada akhir tahun 2015. Sejak itu ia tidak berjualan nasi bakar lagi. Saat itu kehidupan keluarga ini semakin sulit. Tjandra yang terkena stroke sempat berpikiran ingin mengakhiri hidupnya di rel kereta. Menurutnya dirinya sudah tidak berguna lagi di keluarga, apalagi di masyarakat.

Menurut Hwa Hwa suaminya sering sekali marah-marah, emosinya kadang tidak bisa dikontrol. “Saya bahkan pernah hampir dipukul sama tongkatnya,” kenang Hwa Hwa. Di masa-masa sulit itu, terbuka sebuah jalan. Ketika Tjandra berjalaan-jalan ke pasar, ia bertemu dengan Johnny Chandrina, relawan Komite Tzu Chi yang merupakan pelanggan nasi bakar Tjandra dan Hwa Hwa. Ketika itu Jhonni menanyakan mengapa tidak berjualan nasi bakar lagi. Tjandra menjelaskan bahwa istrinya sudah tidak bisa lagi membuat nasi bakar karena sakit kanker.

“Saya ketemu Johnny, dia tanya apa kabar, gimana kesehatannya, dan kenapa tidak berjualan lagi? Saat itu saya jelaskan bahwa istri saya kena cancer ovarium, jadi gak bisa bikin nasi bakar lagi” ungkap Tjandra menjelaskan sambil menangis. Beberapa hari kemudian relawan Tzu Chi berkunjung ke rumah Tjandra di Perumahan Kosambi Baru untuk melihat kondisi Hwa Hwa. Ternyata ketika berkunjung Hwa Hwa tidak di rumah, ia sedang mengantar kedua anaknya ke rumah sakit untuk tranfusi darah karena menderita talasemia sejak umur 6 tahun. Padahal sebelumnya relawan tidak ada yang mengetahui bahwa kedua anak Tjandra ini mengalami talasemia yang mengharuskan mereka tranfusi darah merah setiap bulannya. Dari kunjungan kasih inilah jalinan jodoh Tzu Chi dapat membantu keluarga Tjandra hingga saat ini.


Relawan Tzu Chi sejak pagi hari sudah menyiapkan paket sembako untuk Gan en Hu dan anak asuh Tzu Chi di tengah wabah pandemik Covid-19.

Tim redaksi berkesempatan mengikuti pengendara ojek online yang mengantar paket bantuan Tzu Chi untuk keluarga Tjandra. Lokasi rumah Tjandra cukup dekat dari Depo Pelestarian Lingkungan Duri Kosambi. Keluarga Tjandra tinggal di Perumahan Kosambi Baru, Cengkareng, Jakarta Barat. Pengendara ojol sempat berputar-putar mencari alamat rumah Tjandra, akibat wabah Covid-19, perumahan ini menutup berbagai akses jalan menjadi satu pintu. Perlahan ojol menemukan alamat yang tercantum di paket. Motor Ojol tepat berhenti di pagar depan rumah Hwa Hwa.

“Permisii……paket…..paket……,” seru pengemudi Ojol.

”Selamat pagi, Bu. Rumah Ibu Tan Kwie Hwa?”

“Iya benar saya sendiri,” jawab Hwa Hwa.

“Ini tolong diterima Bu, pengirimnya dari Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia,” jelas pengemudi ojol.

“Baik terima kasih Pak,” sahut Hwa Hwa dengan wajah tersenyum.

Tak lama berselang pengumudi ojol bergegas meninggalkan kami di depan rumah Tjandra. Di depan rumah Tjandra, kami Tim Redaksi diterima dengan sangat ramah. Sebelum masuk kami memperkenalkan diri bahwa maksud dan tujuan kami adalah untuk berkunjung dan melihat keadaan kesehatan Tjandra dan Hwa Hwa juga anak mereka.

“Mari silahkan masuk….maaf rumahnya berantakan,” ujar Hwa Hwa.

Di depan pintu ruang tamu Tjandra berdiri tak tegap, tangan kirinya sedikit melengkung ke samping kaku di atas dadanya. Saat berjalan langkah kaki kirinya sedikit diseret untuk melangkah. Tjandra mengenakan celana pendek dan kaus putih melangkah ke sofa di ruang tamu sambil mengajak kami untuk duduk di ruang tamunya. Rumah Tjandra cukup besar, namun terlihat tak terawat. Berbagai barang-barang tak terurus dengan rapih. Teras rumahnya terlihat tak terawat. Maklumlah seluruh anggota keluarga ini menderita sakit yang sangat berat.


Hwa Hwa membuka paket sembako yang dikirimkan oleh relawan Tzu Chi. Keluarga Tjandra sangat senang dan bersyukur bahan makanan ini nantinya bisa dinikmati bersama keluarga.

Saat kami berkunjung hanya ada Tjandra, dan istrinya di rumah, sementara anaknya yang laki-laki Malvin pergi bekerja dan yang perempuan sedang menemui orang yang memesan gambar (arsitek).

“Puji Tuhan, terima kasih sudah mau berkunjung dan memberikan paket ini, terima kasih Yayasan Buddha Tzu Chi yang selalu perhatiin kita,” tegas Hwa Hwa.

Di tengah perbincangan kami, Hwa-Hwa mohon izin untuk ke belakang, rupanya Hwa Hwa sedang memasak untuk suami tercinta. “Saya sedang masak, itu suami saya minta di gorengin tahu nanti pakai sambal kecap aja,” jelas Hwa Hwa.

Sayapun ikut turut kedapur yang masih satu ruangan dengan ruang tamu, posisinya paling belakang di rumah itu. Sambil menggoreng tahu Hwa Hwa menceritakan kisah keluarganya hingga dibantu oleh Yayasan Tzu Chi.

“Dulu suami saya orangnya gampang marah, tetapi semenjak sering ke depo pelestarian lingkungan setiap Selasa dan Kamis lumayan itu mulai berubah,” jelas Hwa Hwa tersenyum.

Tjandrapun menimpali perkataan Hwa Hwa bahwa di depo dia banyak mendapatkan teman-teman sebaya, selain itu ia juga bisa membantu memilah-milah botol plastik. “Ternyata walaupun saya stroke ternyata tenaga saya masih berguna dan dihargai buat dunia ini,” jelasnya sambil menangis.

Menanggapi pemberian paket sembako dari Tzu Chi, Hwa Hwa mengucapkan terima kasih. “Saya seneng banget Tzu Chi masih perhatiin kita dan peduli terhadap kami. Anak saya bulan ini hanya digaji setengah aja,”Aku Hwa Hwa. Kini penghidupan mereka hanya mengandalkan dari anak laki-lakinya Malvin yang bekerja di sebuah hotel di Jakarta, sedangkan Evelyn penghasilannya tidak tetap, hanya kalau ada orderan bikin gambar saja.

Bahan-bahan sembako ini nantinya akan dimasak untuk kebutuhan sehari-hari. “kita bersyukur masih ada orang yang memperhatikan kita,” ujar Hwa Hwa. Hwa Hwa menjelaskan awalnya ia sangat berat menjalani hidup keluarganya ini, “Sangat-sangat berat, cuma ada Tuhan yang selalu beserta kita, trus juga ada teman-teman yang peduli, relawan Tzu Chi, saudara-saudara juga semua mendukung jadi kita ada semangat dan ada harapan,” ujar Hwa Hwa.


Hwa Hwa sedang menggoreng tahu untuk suaminya. Keluarga ini sangat bersyukur relawam Tzu Chi masih terus memperhatikan keluarganya.

Hwa Hwa mengakui jika dulu keluarganya sudah tidak mempunyai arah tujuan, namun karena banyak teman seperti relawan Tzu Chi yang sering datang berkunjung dan selalu kasih semangat jadinya keluarga ini mulai tumbuh harapan. Tak henti-hentinya Hwa Hwa selalu berucap bahwa Tuhan selalu beserta keluarganya. “Saya sangat percaya bahwa Tuhan selalu beserta kita,” tegasnya. Hwa Hwa menceritakan bagaimana dulu sewaktu kedua anaknya masih sekolah, sementara suaminya, sedangkan ia  juga sedang mengalami pendarahan hebat. Begitu juga anaknya yang mengalami pendarahan hebat. “Saya bawa sendiri ke rumah sakit, namun saya tetap bersyukur Tuhan izinkan kita hidup dan diberi kekuatan sehingga saya bisa hidup hingga saat ini,” tutur Hwa Hwa dengan berurai air mata.

Hwa Hwa menegaskan bahwa yang membuat ia kuat dan bisa bertahan hidup adalah  karena adanya Tuhan yang selalu mendampinginya, teman-teman, saudara-saudara, temen-teman gereja, dan kadang relawan Tzu Chi itu yang membuat Hwa Hwa dan keluarganya terhibur.

Mengurus sang suami juga butuh perjuangan juga selain kedua anaknya. Hwa Hwa menjelaskan awalnya suaminya itu sering teriak-teriak, ngamuk-ngamuk. “Bilangnya mau mati melulu, mau ke rel kereta mau nabrakin diri, malu sama tetangga,” aku Hwa Hwa.

Namun sekarang Tjandra banyak berubah setelah datang ke Depo Pelestarian Lingkungan (PL) seminggu dua kali. Banyak perubahan secara fisik dan sifat dari diri Tjandra, marah-marahnya berkurang, secara fisik tangan kirinya jari-jarinya sudah mulai bergerak lagi. ”Tadinya setiap saya ajak gerakin tangannnya marah-marah, ngamuk-ngamuk, namun sejak sering ke depo PL dia udah latih sendiri. Sekarang dia mudah nangis karena banyak bersyukur ketika di depo PL ternyata tenaganya masih bermanfaat buat orang banyak dan lingkungan,” kata Hwa Hwa.

Editor: Hadi Pranoto

Artikel dibaca sebanyak : 148 kali


Berita Terkait




Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Dengan kasih sayang kita menghibur batin manusia yang terluka, dengan kasih sayang pula kita memulihkan luka yang dialami bumi.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat