Senin, 25 Mei 2020
Indonesia | English

Kisah Haru Keluarga Pemulung Penerima Sembako

12 Mei 2020 Jurnalis : Anand Yahya
Fotografer : Anand Yahya


Lia Listiawati salah satu penerima bantuan paket sembako yang juga penerima bantuan hidup dari Tzu Chi memberitahukan kondisi suaminya (Marwan) yang kini jatuh sakit. Lia menerima paket sembako dan dana untuk lebaran dari Yayasan Tzu Chi bertempat di depo Duri Kosambi Jakarta Barat.

Pagi pukul 09.00 WIB udara panas langit sangat cerah menyambut satu persatu penerima bantuan datang ke Depo Pelestarian Lingkungan Duri Kosambi, Jakarta Barat. Para relawan Tzu Chi yang bertugas menyiapkan paket sembako untuk dibagikan sesuai dengan prosedur PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Di pintu masuk depo, relawan juga sudah menyiapkan sarung tangan, masker, dan menjaga jarak fisik agar tidak terjadi penumpukan orang.

“Silahkan masuk bu, tolong pakai masker dan sarung tangan ya,” ujar dua orang relawan Tzu Chi yang bertugas di pintu masuk depo Duri Kosambi. “Bapak Marwannya kemana?” tanya relawan kepada Lia, istri Marwan. “Ada di rumah keponakannya, bu. Kan bapak sudah susah jalan, sakitnya makin parah,” ungkap Lia sambil memasuki depo.


Lia menerima bingkisan aket sembako dari relawan Tzu Chi. Isi paket sembako yang di berikan berupa 10 Kg beras, 1 liter minyak goreng, 20 bungkus Mi DAAI dan 2 bungkus biscuit. Selain itu para Gan en Hu menerima dana tunjangan hari raya agar dapat merayakan Lebaran dengan penuh sukacita.

Marwan dan Lia adalah salah satu keluarga gan en hu (penerima bantuan Tzu Chi) yang menerima bantuan biaya hidup secara rutin dari Yayasan Buddha Tzu Chi sejak bulan September 2019. Selain itu, keluarga ini juga menerima mi instan DAAI setiap bulannya. Keluarga ini berprofesi sebagai pemulung setiap harinya untuk menghidupi empat orang anak.

Dalam kegiatan ini, relawan Tzu Chi juga menyerahkan kaca mata bagi penerima bantuan yang sebelumnya memesan kaca mata, pemberian angpou lebaran, dan pemberian paket sembako yang berisi 10 kg beras, 1 liter minyak goreng, 1 kg gula pasir, biskuit, dan 20 bungkus mi instan DAAI.

Pemulung hanyalah seseorang yang berprofesi sebagai pengais sampah dan identik dengan kemiskinan. Mereka memulung bermodalkan tenaga dan fisik untuk merubah nasib mereka semata. Hal tersebut juga dijalani Marwan (48) dan Lia Listiawati (35) warga asli Rawa Buaya, Jakarta Barat untuk bertahan hidup. Suami istri ini juga tinggal di pemukiman padat penduduk rumah peninggalan buyutnya.

 

Lia sedang menerima dana tunjangan hari raya dari Elly Widjaya, relawan yang mendampingi keluarga Lia hingga saat ini.

Penyakit dan kotoran selalu menghantui para pemulung. Hal ini juga dialami Marwan sejak 7 tahun lalu. Awalnya, Marwan yang berjualan tanaman hias ini mengalami sakit kelenjar teroid, jantung, dan lambung. Lama-lama penyakitnya makin memburuk sejak tiga tahun belakangan ini. Penyakit inilah yang membuat usaha tanaman hias Marwan dan rumah miliknya dijual untuk biaya pengobatan penyakitnya.

Marwan menikahi Lia pada tahun 2003, mereka dikaruniai 4 orang anak. Setelah rumah dan usaha tanaman hiasnya dijual, mereka memutuskan untuk menjadi pemulung untuk menghidupi keluarganya. Pada malam hari, mereka memulung plastik, botol kaca, kertas, kayu, besi, logam, dan barang bekas yang mempunyai nilai jual. Pagi harinya mereka langsung menjualnya kepada pengepul untuk biaya makan dan kebutuhan sekolah anak mereka.

 

Pengambilan paket sembako bertempat di depo Duri Kosambi yang berjarak sekiat 4 Km dari rumah Lia di Rawa Buaya. Lia meminjam motor tetangganya untuk mengambil sembako.

Semenjak menjadi pemulung, penyakit Marwan makin parah. Menurut pengakuan Lia suaminya itu sejak tiga tahun lalu sudah tidak memulung lagi bersamanya. “Udah tiga tahun ini suami saya di rumah aja, udah gak kuat jalan. Sakitnya udah parah,” kata Lia.  Kini Lia memulung sendiri, terkadang di temani oleh anak bungsunya. “Kadang saya mulung sendiri, kadang saya ajak anak saya yang paling kecil,” ungkap Lia.

Berjodoh Dengan Tzu Chi
Satu ketika Lia memulung hingga ke wilayah Kapuk dan masuk ke Perumahan Pantai Indah Kapuk (PIK). Di perumahan PIK ini, Lia yang memulung bersama teman seprofesinya melewati Gedung Aula Jing Si. Teman Lia menyarankan untuk mengajukan bantuan ke Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia.

“Saya disuruh temen saya untuk coba minta bantuan ke Yayasan Tzu Chi. Keesokan harinya saya beranikan diri datang langsung ke Yayasan Tzu Chi dengan membawa surat keterangan,” kenang Lia.


Di rumah Lia membuka paket sembako yang diberikan oleh Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia.   Lia kini tinggal di rumah Anah ibu dari orang tua Lia. Di rumah berukuran 3 x 6 M² ini Lia bersama 4 orang anaknya tinggal.

Tak sampai seminggu, pengajuan bantuan Lia langsung di proses dan disurvei oleh relawan Tzu Chi tepatnya awal bulan September 2019 sambil membawa sembako. Bantuan yang di terima Keluarga Lia adalah bantuan biaya hidup  dan mi instan DAAI 20 bungkus.

“Saya masih ingat waktu awal survei ke rumah Marwan. Kita hubungi ternyata bukan nomer telepon Marwan, itu nomor tetangganya. Setelah beberapa kali di hubungi, ibu Lia kasih tau bahwa saat ini udah gak punya makanan. Kondisi mereka memang sangat sulit waktu itu, sampai untuk makan saja mereka tidak ada, akhirnya saya bersama Elly Widjaya (relawan Tzu Chi) memutuskan untuk membawa sembako untuk keluarga Marwan,” jelas Hendra, relawan Tzu Chi komunitas He Qi Barat 2.

Lia tidak henti-hentinya mengucap syukur dan berterima kasih. Pasalnya meski dirinya mengira tidak akan mendapat sembako ternyata dari Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia masih terus memperhatikan keluarganya dengan memberikan paket sembako dan uang untuk hari Lebaran.


Lia Bersama ibunya Anah sedang mulai usaha berdagang panganan kue kering untuk biaya hidupp keluarganya. Pasalnya di tengah pandemic covid 19 ini pemerintah menerapkan PSBB untuk memutus rantai penyebaran virus.

"Sembako ini sangat-sangat membantu saya sekali. Saya bersyukur Alhamdulillah…sangat terbantu banget. Apalagi anak saya yang besar mau masuk Sekolah Menengah Umum (SMU). Boro-boro mikirin buat baju Lebaran. Mangkanya saya sangat terima kasih dan bersyukur banget sama Yayasan Tzu Chi, ini dapat sembako dan dapat uang. Uang ini saya simpen buat anak saya masuk sekolah nanti, saya gak pernah rayain Lebaran, kayak beli baju baru gitu saya gak pernah,” jelas Lia setelah menerima bantuan dari Tzu Chi pada Minggu 10 Mei 2020.

Kepada Tzu Chi, Lia mengaku sembako dan uang lebaran ini sangat membantu kehidupan keluarganya terlebih lagi di tengah pandemi Covid-19. Sudah dua bulan ini Lia tidak memulung karena ada penerapan PSBB oleh pemerintah.

Kan karena virus corona ini saya gak bisa mulung lagi di perumahan karena pada di tutup jalannya. Mangkanya bapak (Marwan) saya ungsikan dulu di Kapuk Muara di rumah ponakannya. Biar ibu saya gak terlalu banyak beban (ekonomi), kan sekarang saya tinggal sama ibu saya,” jelas Lia menceritakan kondisi keluarganya.


Suasana ruang rumah Anah yang berukuran 3 x 6 M² yang sempit dan padat oleh barang-barang dan perabotan rumah tangga.

Memang ketika tim redaksi Tzu Chi mengunjungi rumah keluarga Lia sangat memprihatinkan. Rumah orang tua Lia, Anah (60) berada di gang sempit perumahan padat di wilayah Rawa Buaya. Rumah itu berukuran 3 x 6 m² dua lantai. Lia bersama 4 orang anaknya tinggal di lantai atas dan sang ibu Anah bersama adik Lia tinggal di lantai bawah.

“Ini ibu saya (Anah) lagi bikin kue Kembang Goyang, baru coba-coba hari ini, habis saya mulung udah enggak, nyuci kalo ada panggilan aja,”  jelas Lia saat dikunjungi.

Suasana ruangan yang lembab dan berdebu melekat di ruangan berukuran 3 x 6 m². Suasana ruangan pun tidak karuan karena dikelilingi oleh perabotan, pakaian menggantung di mana-mana. Seluruh lantai ruangan juga penuh dengan barang-barang. Sampai-sampai mau melangkah pun susah. Namun keluarga ini nampaknya sudah terbiasa dengan kondisi seperti ini. “Ya begini, pak. Maaf, rumahnya sumpek, habis gimana emang begini keadaannya,” ujar Lia.


Relawan Tzu Chi dalam memberikan paket sembako menerapkan protocol kesehatan yang sangat ketat, seperti warga yang dating mengambil paket diharuskan memakai masker dan sarung tangan ketika memasuki depo pelestarian lingkungan Duri Kosambi.

Di bagian belakang rumah terdapat pintu menuju Mandi Cuci Kakus (MCK). Barang-barang hasil pulungan Lia diletakkan di depan MCK tersebut. “Ini masih ada sedikit dua karung sisa-sisa,” ujar Lia sambil menunjukkan satu kantong plastik besar berisi botol-botol plastik yang belum dipisahkan.

Sesekali Anah juga ikut mengomentari kesulitan keluarganya di tengah pandemi Covid-19 dan PSBB dari pemerintah. “Ya begini pak. Saya usahakan apa yang bisa saya kerjakan aja. Ini lagi coba jualan kembang goyang, kali aja laku untuk biaya hidup cucu-cucu saya,” ungkap Anah.

Disamping Anah, Lia kemudian membuka paket sembako yang baru diberikan oleh relawan Tzu Chi bersama anak bungsunya. Ia kemudian menjelaskan semenjak suaminya (Marwan) sakit, Lia memulung sendiri bersama rekan-rekan seprofesinya. “Saya kalo mulung jalan malam hari, sebelum korona gini saya jalan jam 20.00 WIB sampe 24.00 WIB, tergantung dapatnya aja,” ujar Lia.


Lia menunjukkan sisa hasil memulungnya yang hanya dua karung plastik berisi botol-botol plastik dan beberapa lembar kardus.

Pagi harinya Lia juga harus bekerja lagi sebagai buruh cuci dan setrika di sekitar rumahnya. “Lumayan upah nyuci dan gosok sebulan 500 ribu,” cerita Lia. Kemudian hasil dari memulung malam hari Lia hanya mendapat puluhan ribu saja. “Mangkanya suka saya gabungin aja, kadang dua hari baru saya jual. Lumayan dapatnya Rp.40.000 kadang Rp.50.000, bisa buat jajan anak-anak sehari-hari,” ungkap Lia.

Keluarga Marwan dan Lia adalah salah satu dari 17 keluarga penerima bantuan paket sembako dari Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia. Pada 10 Mei 2020 lalu, 12 orang relawan Tzu Chi komunitas He Qi Barat 2 membagikan 17 paket sembako khusus bagi penerima bantuan Tzu Chi. Para penerima bantuan Tzu Chi ini sebelumnya sudah dihubungi oleh relawan pendamping mereka masing-masing.

"Mudah-mudahan bantuan tersebut bisa meringankan beban Gan En Hu (penerima bantuan Tzu Chi) yang merayakan Lebaran. Apalagi keadaan sekarang ini sedang susah untuk beraktivitas karena Covid-19 dan juga menjelang Lebaran," Ujar Elly Widjaya, relawan Tzu Chi komunitas He Qi Barat 2.


Tim relawan Tzu Chi komunitas He qi Barat yang bertugas membagikan paket sembako kepada penerima bantuan tetap Tzu Chi.

Profesi pemulung seperti keluarga Marwan dan Lia sangat rentan terhadap gangguan kesehatan. Efeknya akan menimbulkan dampak penyakit seperti kolera, thypus, disentri, dan lainnya karena pembawa penyakit ini berasal dari lalat dan segala jenis binatang lainnya yang berada di sampah dan kotoran.

Disisi lain, profesi pemulung juga telah melakukan eksistensinya dalam mengurangi volume sampah. Partisipasi mereka sangat jelas dalam menjalankan 3 R (Reuse, Reduce, Recycle) dan bahkan mereka melibatkan seluruh anggota keluarganya. Para pemulung sangat membantu meningkatkan kebersihan kota, memperpanjang umur Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan mengembalikan sampah menjadi sumber daya walaupun tujuan mereka adalah untuk mencari nafkah.

Editor: Arimami Suryo A.

Artikel dibaca sebanyak : 289 kali


Berita Terkait




Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Ada tiga "tiada" di dunia ini, tiada orang yang tidak saya cintai, tiada orang yang tidak saya percayai, tiada orang yang tidak saya maafkan.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat