Rabu, 21 Oktober 2020
Indonesia | English

Makin Mantap Menjalankan Misi Pendidikan

30 April 2019 Jurnalis : Khusnul Khotimah
Fotografer : Agus DS (He Qi Barat 2), Khusnul Khotimah


Rizky Mulyadi, guru bimbingan dan konseling di SMK Cinta Kasih Tzu Chi membawakan materi tentang perkembangan emosi dan karakter manusia.

Relawan Tzu Chi Indonesia di misi pendidikan terus berupaya meningkatkan wawasan mereka tentang perkembangan dunia anak. Ini merupakan keharusan, karena kalau tidak jarak antar dua generasi yang berbeda ini bakal lebih jauh lagi.

Akhir pekan lalu, tepatnya Sabtu 27 April 2019, sebanyak 130 relawan Tzu Chi di misi pendidikan mengikuti pelatihan. Ada tiga tema utama yang dibahas, yakni materi tentang perkembangan anak, talkshow tentang menciptakan kekompakan tim, lalu refleksi diri melalui Cha Dao atau seni penyajian teh.


Rizky Mulyadi mengajak relawan untuk konsentrasi dalam mendengarkan melalui games menggambar bujur sangkar. Rizky memberikan instruksi yang rumit. Games ini mengajarkan, bahwa saat mendengarkan anak bercerita, kalau tidak fokus, kita juga tidak dapat point yang diceritakan anak. 

“Jangan pernah ada kata menyerah. Sebandel-bandelnya anak, pasti ada cara untuk mengarahkannya. Justru yang dikhawatirkan adalah kalau gurunya, kitanya sudah menyerah,” kata Rizky Mulyadi.

Seluk beluk perkembangan emosi dan karakter anak disampaikan oleh Rizky Mulyadi, guru bimbingan dan konseling di SMK Cinta Kasih Tzu Chi, Cengkareng. Mulai dari ungkapan emosi anak di masa kanak-kanak, sampai keadaan emosi ketika beranjak remaja. Pemaparannya juga dihubungkan dengan pedoman guru humanis yang diajarkan oleh Master Cheng Yen. Misalnya saja, “Dalam memberikan bimbingan, maka tindakan lebih penting dari ucapan.”

Menciptakan Kekompakan Antar Relawan

Untuk menciptakan kekompakan di antara para relawan misi pendidikan, setiap relawan harus betul-betul mendalami visi dan misi pendidikan Tzu Chi. Setelah sepaham, relawan perlu sepakat bagaimana mencapai visi tersebut.


Talkshow tentang menciptakan kekompakan antar relawan dalam menjalankan misi pendidikan.  

“Setelah ada kesepakatan selanjutnya bagaimana kita sama-sama menjalankan misi tersebut,” kata Ernie Lindawati atau yang akrab disapai Mei Rong ini, yang menjadi penanggung jawab pelatihan.

Di sesi talkshow ini relawan juga bisa tanya jawab dan berbagi pengalaman selama mendampingi anak-anak.

Dalam berkegiatan di Tzu Chi, relawan juga tak boleh melupakan pentingnya waktu untuk merenungkan ke dalam diri. Sesi Cha Dao atau seni penyajian teh mengajak semua relawan pendidikan, setiap hari meluangkan waktu untuk sesi tenang. Relawan perlu berbicara dengan diri sendiri kurang lebih 10 menit, merefleksikan kembali ke dalam diri, untuk melepaskan hal-hal yang selama ini membebani pikiran.


Seluruh peserta pelatihan dari lima He Qi ini tengah merenung ke dalam diri melalui Cha Dao atau seni penyajian teh.

Seni penyajian teh ini juga mengajarkan para relawan agar selalu sadar atas setiap tindakan. Relawan juga harus lebih tenang menghadapi semua masalah, karena dengan ketenangan akan bisa berbuat lebih banyak, mengambil keputusan yang lebih baik lagi.

Semakin Mantap

Johan (51), relawan Tzu Chi dari komunitas He Qi Pusat menjadi relawan Tzu Chi sejak tahun 2015. Awal Januari 2016, ia pun fokus di Misi Pendidikan, yakni di penerimaan beasiswa anak asuh. Selain mendampingi para penerima beasiswa Tzu Chi untuk menjalani kuliah dengan baik, ia bersama relawan di tim ini punya tugas merumuskan materi gathering anak asuh yang dilaksanakan setiap awal bulan. Mendampingi anak asuh, memupuk kesabaran Johan.


Johan, (kedua dari kanan) merasa makin mantap menjalankan Misi Pendidikan.

“Anak asuh ini kan dari latar belakang kehidupan sosial yang ‘bawah’ yang beberapa agak kurang tata kramanya, jadi ketika diminta ini hanya dianggap angin lalu. Tapi buat saya, pendidikan ini kan jangka panjang, dengan terus bersosialisasi dengan mereka, lama-lama mereka bisa mengerti keinginan kita,” kata Johan.

Dengan mendampingi anak asuh, Johan pun sekaligus belajar untuk memperbaiki kualits diri. Seperti belajar lebih ramah, dan mengkondisikan emosi agar lebih terkendali. Bagi Johan, training yang berlangsung selama setengah hari ini, menguatkan tekadnya untuk menjalankan Misi Pendidikan lebih baik lagi.

Training ini semakin meneguhkan komitmen saya untuk berjalan di jalan Tzu Chi,” pungkas Johan.


Editor: Metta Wulandari

Artikel dibaca sebanyak : 699 kali


Berita Terkait




Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Menghadapi kata-kata buruk yang ditujukan pada diri kita, juga merupakan pelatihan diri.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat