Rabu, 23 Oktober 2019
Indonesia | English

Mata Air untuk Kebun Percontohan

27 September 2017 Jurnalis : Marcopolo (Tzu Chi Biak)
Fotografer : Marcopolo (Tzu Chi Biak)

Relawan Tzu Chi ditemani beberapa warga Desa Dofyo Wafor melakukan survei mata air. Survei telang berlangsung dua kali.

Hari masih pagi, namun udara terasa hangat. Waktu menunjukkan pukul 08.00 WIT, saat relawan Tzu Chi Biak memulai perjalanan ke Desa Dofyo Wafor yang memakan waktu 30 menit. Sesampai di Desa Dofyo Wafor, relawan bergegas ke kantor desa sementara yang juga rumah kepala desa. Kedatangan relawan pada Rabu 13 September 2017 kali ini membahas mengenai lahan yang menjadi kebun percontohan Tzu Chi di desa itu.

Dipimpin oleh Nataniel, relawan sharing dengan Kepala Desa Dofyo Wafor Alfius Kafiar. Ia menyambut baik niat relawan yang ingin membuka lahan sebagai kebun percontohan. Setelah berjalan 10 menit dari rumah kepala desa, relawan melihat sebuah lahan yang rata dan tanah yang baik untuk pertanian. Lahan itu sendiri masih belum diolah oleh masyarakat Desa Dofyo Wafor.

Weiliam Lahuang, relawan Tzu Chi Biak melihat mata air dari dekat.


Sepekan sesudahnya, Kamis, 21 September 2017, relawan Tzu Chi Biak kembali datang untuk survei mata air kedua dengan menyusuri hutan.

Tidak jauh dari lahan tersebut terdapat mata air kecil yang menjadi sumber air minum dan tempat mencuci baju bagi sebagian warga desa. Ada juga sebuah mata air lainnya yang mengalir ke arah Kali Wafor yang letaknya jauh ke dalam hutan. Mata air ini nantinya akan digunakan sebagai sumber pengairan bagi kebun percontohan Tzu Chi dan juga untuk penampungan air bagi warga desa.

Sepekan sesudahnya, Kamis, 21 September 2017, relawan Tzu Chi Biak kembali datang untuk survei mata air kedua. Medan yang ditempuh kali ini cukup berat karena harus menembus hutan dan bukit, namun relawan terus semangat.

Salah satu relawan yang mengikuti survei ini adalah Hamka yang merupakan anak dari Hairil, yang juga relawan Tzu Chi. “Sangat senang bisa diajak untuk survei mata air ini karena saya suka dengan kegiatan pelestarian lingkungan yang lebih memperhatikan alam daripada hanya bermain-main di hari libur ini,” kata Hamka.

Relawan tiba di mata air kedua.


Setelah mendapatkan hasil survei, relawan kembali pulang dengan mengambil jalan memutar yang medannya tidak sesulit ketika berangkat.

Setelah berjalan sekitar satu jam tibalah relawan di mata air yang dimaksud. Debit air tidak begitu banyak, air keluar dari bebatuan dan bisa langsung diminum. Relawan sempat melepas lelah dan beristirahat sejenak sambil membicarakan langkah selanjutnya.

Setelah mendapatkan hasil survei, relawan pun kembali pulang dengan mengambil jalan memutar yang medannya tidak sesulit jalur ketika berangkat. Setelah menembus hutan, hamparan kebun warga desa pun memanjakan mata relawan. Di kiri kanannya banyak tumbuh dengan subur jagung, cabai, serai, dan tanaman lainnya. 

Editor: Khusnul Khotimah


Artikel dibaca sebanyak : 1056 kali


Berita Terkait




Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Menyayangi diri sendiri adalah wujud balas budi pada orang tua, bersumbangsih adalah wujud dari rasa syukur.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat