Rabu, 18 September 2019
Indonesia | English

Memahami Arti dari Bulan Tujuh Penuh Berkah

15 Agustus 2019 Jurnalis : Sunaryo (Tzu Chi Tg. Balai Karimun)
Fotografer : Vincent, Calvin (Tzu Chi Tg. Balai Karimun)


Minggu, 11 Agustus 2019, Tzu Chi Tanjung Balai Karimun melakukan kegiatan rutin setiap bulan yaitu Kelas Budi Pekerti. Sebanyak 48 siswa-siswi mengikuti kegiatan ini.

Bulan 7 dalam ajaran Buddha adalah bulan yang penuh berkah dan bulan untuk berterima kasih. Maka dari itu, Yayasan Buddha Tzu Chi Tanjung Balai Karimun akan memberikan pemahaman kepada siswa-siswi budi pekerti dalam memaknai bulan 7 penuh berkah pada kegiatan kali ini.

Minggu, 11 Agustus 2019, tepat pukul 09.00 WIB, ruang kegiatan sudah dipenuhi siswa-siswi dan orangtua. Seperti biasanya, kegiatan Kelas Budi Pekerti ini dibagi menjadi dua kelas yaitu kelas bawah yang terdiri dari Pra-Tk hingga kelas 3 SD dan kelas atas yang terdiri dari kelas 4 SD hingga 6 SD yang dipandu oleh para relawan yang biasanya disebut Papa dan Mama oleh siswa-siswi.

Relawan yang bernama Dwi Papa membawa materi di kelas atas, mengawali materinya dengan bertanya tentang Bulan 7 kepada siswa-siswi. "Bulan tujuh itu apa?" Dengan lantangnya siswa-siswi berteriak "Bulan Hantu," "Hantunya Lepas,” dan "Kasih Makan Hantu,” jawab siswa-siswi dengan suara lantang.


Relawan yang bernama Dwi Papa memberikan pemahaman tentang bulan 7 penuh berkah kepada siswa-siswi kelas atas agar mereka bisa memaknainya dengan rasa yang penuh berkah dan terima kasih. Bukan dengan rasa takut karena bulan 7 biasanya disebut bulan hantu.

Sebenarnya seperti inilah yang perlu diluruskan dan perlu adanya pemahaman sejak dini. Pada perayaan ini jatuh pada tanggal 15 bulan 7. Bulan ke-7 Imlek juga dikenal sebagai bulan Hantu (Chinese Ghost Month) di mana ada kepercayaan bahwa dalam kurun waktu satu bulan ini, pintu alam baka terbuka dan hantu-hantu di alamnya dapat bersukaria berpesiar ke alam manusia. Sehingga pada pertengahan bulan 7 diadakan perayaan dan sembahyang sebagai penghormatan kepada hantu- hantu tersebut.

Tradisi ini sebenarnya merupakan tradisi masyarakat pada zaman dahulu yang bermula dari penghormatan kepada leluhur serta dewa-dewa supaya panen yang biasanya jatuh di musim gugur dapat terberkati dan berlimpah. Adanya pengaruh Buddhisme memunculkan kepercayaan mengenal hantu- hantu kelaparan (Makhluk Peta) yang perlu dijamu pada masa kehadiran mereka di dunia manusia.

Para siswa pun diberikan sebuah tayangan Master Cheng bercerita yang menceritakan pada zaman Buddha ada seorang Bhikkhu yang bernama Mogallana. Kekuatan Mogallana hampir menyamai kekuatan Buddha. Saat bermeditasi beliau melihat ibunya berada di alam setan kelaparan atau alam peta. Mogallana ingin membantu ibunya dengan memberi nasi, namun saat ibunya mau memakan, nasinya terbakar dan tidak dapat dimakannya.


Salah satu orangtua siswa kelas budi pekerti yang bernama Surtina sudah mengajarkan makna bulan 7 kepada anaknya sejak dini.

Akhirnya Mogallana bertanya pada Buddha "Bagaimana caranya agar bisa memberi makan ibunya?" Buddha pun menyuruhnya untuk mengumpulkan para Bhikkhu untuk membacakan doa untuk ibunya, dan Mogallana melayani sendiri dengan tulus. Akhirnya ibunya bebas dari siksaan yang dialaminya dan dapat terlahir kembali dialam bahagia.

Melimpahkan berkah dan berterima kasih adalah hal yang baik untuk memaknai bulan 7 penuh berkah ini. Seusai penyampaian materi, kegiatan pun dilanjutkan dengan menyanyikan lagu “Sutra Bakti Seorang Anak” dan dilanjutkan dengan Games yang berlangsung sangat meriah. Orang tua juga ikut serta dalam permainan tersebut.

Peran Orang Tua Juga Besar
Tradisi boleh kita percaya tapi kita harus bisa memahaminya, seperti yang sudah dilakukan oleh Surtina (38) yang sudah memberikan pemahaman kepada anaknya tentang bulan 7 penuh berkah.

“Saya sering menjelaskan ke anak saya tentang Ulambana, jadi anak-anak sudah mengerti kegiatan apa saja yang dilakukan pada bulan 7. Selain itu saya juga mengajari anak saya untuk bervegetaris, karena saya sudah 8 tahun bervegetaris,” ungkap Surtina.

Peran orang tua sangat besar dalam memberikan pemahaman kepada anak di rumah. Dengan pemahaman yang baik tentang bulan 7 maka anak tidak merasa takut dengan sebutan bulan tujuh yang dikenal dengan bulan hantu.


Anak Surtina yang bernama Nelson sudah tidak takut dengan sebutan bulan 7 yang biasanya disebut dengan bulan hantu.

Anak Surtina yang bernama Nelson (11), ia sudah tidak takut dengan sebutan bulan 7 yang biasanya disebut dengan bulan hantu. “Saya tidak takut dengan bulan 7, karena saya sering dijelaskan oleh orang tua saya dan guru di sekolah. Saya juga biasanya mendoakan leluhur- leluhur saya yang sudah meninggal,” ungkapnya.

Dengan adanya pemahaman sejak dini, anak-anak tidak akan takut lagi dengan bulan 7 yang sering dikatakan sebagai bulan Hantu.

Berpegang sikap hidup yang berlandaskan pada pandangan benar dan sikap yang positif, bulan 7 yang penuh berkah dapat kita isi dengan kegiatan- kegiatan seperti meningkatkan rasa bakti kita pada orang tua, berbuat baik, bervegetaris, berdoa pada leluhur-leluhur kita, mengasihi bumi dan serta menerapkan pelestarian lingkungan.

Berbakti pada Orang Tua
Sama halnya dengan kelas atas, kelas bawah pun sudah mulai mempelajari salah satu hal yang harus dilakukan pada bulan 7 penuh berkah, yaitu berbakti pada orang tua. Tema yang diangkat relawan ini bertujuan untuk mengajarkan siswa-siswi untuk berbakti kepada orangtua sejak dini. Para siswa-siswi pun diberikan nasihat-nasihat oleh relawan agar selalu berbakti kepada orang tua dan tidak boleh mengecewakan kedua orang tua.


Sukmawati Mama (49) menambahkan materi tambahan di kelas budi pekerti, seperti di kelas bawah yaitu bahasa Mandarin yang membuat kegiatan menjadi lebih menarik. 

Ada yang sedikit berbeda dari materi kelas bawah pada kegiatan kali, siswa-siswi diajarkan bahasa Mandarin oleh para Mama. Kelas Budi Pekerti ini rutin dilakukan oleh Tzu Chi Karimun. Hanya dengan materi saja, relawan merasa akan membuat siswa-siswi merasa kurang menarik. Sukmawati Mama (49) pernah disarankan oleh relawan Malaysia yang bernama Jishou untuk membuat kegiatan yang rutin dilakukan oleh Tzu Chi Karimun dengan dihiasi beberapa hal kecil agar menjadi lebih menarik, ia pun menambahkan materi tambahan yaitu belajar bahasa Mandarin.

"Saya pernah diberikan saran oleh relawan Malaysia yang pernah memberikan sharing di Tzu Chi Karimun agar menghiasi kegiatan dengan hal kecil yang bisa membuat kegiatan ini  lebih menarik. Ini pun sebagai salah satu tambahan materi untuk kelas budi pekerti dan akan dirutin dilakukan," ungkapnya.

Seperti salah satu Kata Perenungan Master Cheng Yen yang berbunyi. “Berbuat kebajikan dan berbakti kepada orang tua tidak boleh ditunda-tunda.”

Editor: Khusnul Khotimah

Artikel dibaca sebanyak : 313 kali


Berita Terkait


Menanamkan Sifat Murah Hati pada Anak-anak

12 September 2019

Merajut Tali Kasih Dengan Oma Opa di Panti Jompo

25 Februari 2019

Merentangkan Jalan Yang Bajik

04 Desember 2018

Menanamkan Budi Pekerti Sejak Dini

28 November 2018

Belajar Mencintai dan Merawat Lingkungan

21 November 2018


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Lebih mudah sadar dari kesalahan yang besar; sangat sulit menghilangkan kebiasaan kecil yang buruk.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat