Sabtu, 19 Oktober 2019
Indonesia | English

Memaknai Bulan Tujuh dengan Benar

10 September 2018 Jurnalis : Elin Juwita (Tzu Chi Tebing Tinggi)
Fotografer : Erik Wardi ( Tzu Chi Tebing Tinggi), Amir Tan (Tzu Chi Medan)


Acara bulan tujuh penuh berkan di Tzu Chi Tebing Tinggi dimulai dengan penampilan pementasan Zhong Gu (Genderang dan Gentha) dari 16 relawan Tebing Tinggi dengan lagu 12 Ikrar Bhaisayjaguru.

Ketika masyarakat awam mendengar Bulan Tujuh dalam penanggalan Lunar, maka dalam pikiran mereka akan terbesit bahwa bulan tujuh adalah bulan hantu atau bulan yang tidak baik. Mitos ini cenderung memotivasi orang untuk percaya pada banyaknya pantangan yang tidak boleh dilakukan selama bulan tujuh baik saat beraktivitas maupun kebaktian.

Karena itu, tradisi membakar kertas sembayang dalam jumlah banyak atau memberi persembahan berupa makanan daging hewan masih sering kita jumpai di masyarakat dengan tujuan agar kita terhindar dari kejadian yang tidak baik.  Apakah ini makna Ulambana yang sebenarnya? Dalam ajaran Buddha, makna Ulambana adalah mengasihi dan melindungi makhluk berjiwa secara luas, dan menyelamatkan semua makhluk dalam penderitaan, serta menyeberangkan dari tempat penuh penderitaan ke tempat yang aman.

Tzu Chi menjadikan bulan tujuh penanggalan Lunar menjadi bulan yang penuh berkah, bulan bersukacita, dan bulan berbakti pada orang tua. Setiap tahunnya insan Tzu Chi mensosialisasikan makna tersebut kepada masyarakat luas untuk merubah pandangan tradisional (takhyul) kepandangan yang benar. Sosialisasi makna ini pun terwujud dalam acara doa bersama bulan tujuh penuh berkah yang diadakan di Tzu Chi Kantor Penghubung Tebing Tinggi pada Minggu, 2 September 2018.

Kegiatan ini juga dihadiri sekitar 380 tamu undangan yang berasal dari berbagai lapisan masyarakat dari berbagai agama, organisasi, dan juga tokoh masyarakat. Sebanyak 7 orang Bhante dan 3 orang suster Katholik Harapan Jaya juga mengikuti kegiatan tersebut. “Kita harapkan bisa merubah pandangan kepada masyarakat khususnya umat Buddha dari kepercayaan tradisi menjadi kepercayaan yang benar sesuai ajaran Buddha. Ada beberapa kegiatan pendukung yang kami lakukan sebelumnya karena sebelum seremonial ini kita adakan sosialisasi kepada para warga, para relawan dan khususnya kepada para Bodhisatwa cilik dari kelas Budi Pekerti,” jelas Wardi salah satu relawan Tzu Chi Tebing Tinggi.


Sebanyak 24 relawan membawa persembahan pelita, bunga, dan buah yang diiringi dengan lagu Pendupaan.


Sebanyak 25 Bodhisatwa cilik juga mementaskan drama “Sebersit Niat Pikiran”. 

Acara ini dimulai dengan penampilan pementasan Zhong Gu (Genderang dan Gentha) dari relawan Tzu Chi Tebing Tinggi dengan lagu 12 Ikrar Bhaisayjaguru. Menabuh genderang bermakna mengingatkan para praktisi ajaran Buddha untuk tekun dan giat. Menabuh gentha bermakna mendatangkan keharmonisan dan kedamaian, juga menyampaikan penghormatan dan pemberkatan pada setiap orang. Dalam ceramahnya, Master Cheng Yen pernah mengatakan bahwa “Genderang dan Gentha jika  tidak ditabuh takkan berbunyi. Genderang dan Gentha harus ditabuh orang. Demikian juga Ajaran Jing Si harus diwariskan oleh orang.” Inilah “Pewarisan Dharma melalui Genderang dan Gentha” dari insan Tzu Chi.

Setelah selesai, kemudian sebanyak 24 relawan membawa persembahan pelita, bunga, dan buah yang diiringi dengan lagu Pendupaan. Pelita melambangkan penerangan batin. Pelita bukan saja digunakan untuk menerangi ruangan tetapi juga menerangin batin sendiri agar dalam kehidupan ini tidak berjalan kearah yang tersesat. Bunga melambangkan ketidakkekalan. Segala sesuatu didunia ini pasti mengalami perubahan. Seperti hidup manusia yang mengalami lahir, sakit, tua dan mati. Jadi mengapa kita masih melekat pada segala kondisi fisik kita. Buah melambangkan buah Karma. Benih apa yang ditanam, itulah hasil yang kita tuai. Oleh karena itu kita harus senantiasa menjaga sebersit niat pikiran yang timbul.

Dalam kegiatan ini juga ditampilkan ceramah Master Cheng Yen dengan tema “Menarik Kereta di Alam Neraka”. Dalam ceramahnya, Master Cheng Yen menjelaskan karena hati dan pikiran manusia yang penuh dengan noda dan kegelapan batin sehingga menciptakan kekeruhan dan ketidakselarasan di dunia ini. Akhirnya kehidupan ini dipenuhi dengan penderitaan. Akan tetapi jika sebersit niat pikiran yang baik timbul, maka bisa menyelamatkan diri sendiri dan makhluk hidup yang menderita dialam neraka.

Sebanyak 25 Bodhisatwa cilik juga mementaskan drama “Sebersit Niat Pikiran”. Drama ini menceritakan bahwa kehidupan semua makhluk pada awalnya hidup dengan tentram dan riang. Namun karena keserakahan manusia demi memenuhi nafsu, mereka tega mendengar jeritan dan ratapan sedih makhluk hidup yang disembelih. Namun diantara penjagal hewan masih ada sekelompok orang yang berhasil mengubah sebersit niat pikiran dan menyerap Dharma dengan benar.


Para tamu undangan dan seluruh relawan diajak untuk berdoa bersama dengan hati yang tulus.

Sebelum acara berakhir, para tamu undangan dan seluruh relawan diajak untuk berdoa bersama dengan hati yang tulus. Kemudian satu persatu tamu undangan dituntun oleh relawan untuk maju ke depan altar untuk berdoa.  Berdoa untuk menyucikan batin manusia. Membangkitkan ketulusan dan menyelaraskan pikiran. Bersyukur atas hari-hari yang dilalui dengan tentram sehingga terwujud masyarakat yang harmonis dan dunia terbebas dari bencana.

Editor: Arimami Suryo A.

Artikel dibaca sebanyak : 292 kali


Berita Terkait


Mengubah Arah Hidup dengan Pandangan dan Keyakinan Yang Benar

02 September 2019

Bulan Tujuh Bulan yang Penuh Cinta Kasih

16 Agustus 2019

Memahami Arti dari Bulan Tujuh Penuh Berkah

15 Agustus 2019

Rangkaian Kegiatan Bulan Tujuh Penuh Berkah

18 September 2018

Bulan Tujuh Penuh Berkah

14 September 2018


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Jangan takut terlambat, yang seharusnya ditakuti adalah hanya diam di tempat.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat