Kamis, 12 Desember 2019
Indonesia | English

Membangun Harapan di Rumah yang Lebih Baik

18 November 2019 Jurnalis : Hadi Pranoto
Fotografer : Anand Yahya, Arimami Suryo A., Hadi Pranoto


Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia Liu Su Mei (kanan), Teksan Luis (tengah), dan Andi Tju mengunjungi rumah Sulusia (Komarudin) setelah dibangun kembali oleh Tzu Chi.

Dengan wajah sumringgah, Sulusia (36) menyambut kedatangan relawan Tzu Chi yang mengunjunginya. Warung sederhana miliknya ia titipkan kepada Zahra, putrinya yang masih duduk di kelas 2 sekolah menengah pertama. Dengan bersemangat, istri dari Komarudin ini menunjukkan rumahnya di RT 004/ RW 001, Kecamatan Penjaringan, Kamal Muara, Jakarta Utara yang telah selesai dibangun kembali oleh Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia.

Hari itu, Kamis, 14 November 2019, relawan Tzu Chi mengunjungi 10 rumah warga penerima bantuan bedah rumah Tzu Chi. Namun karena banjir pascahujan deras siang itu maka hanya ada 5 rumah yang bisa didatangi relawan. Kedatangan relawan sendiri untuk melihat hasil pembangunan rumah warga jika ada hal-hal yang tidak sesuai dengan spesifikasi atau memerlukan perbaikan ringan. Karena itulah relawan juga mengajak kontraktor pembangunan bersama mereka.


A. Kondisi rumah Sulusia sebelum dibedah. Jika hujan deras dan dan banjir maka Sulusia sekeluarga akan mengungsi.


B. Kondisi rumah Sulusia setelah dibangun kembali oleh Tzu Chi.

Teksan Luis, relawan yang menjadi koordinator Bedah Rumah Tzu Chi di Kamal Muara mengatakan, “Kita memastikan bahwa bangunan yang telah jadi ini telah sesuai dengan spesifikasi dan yang telah direncanakan. Jadi sebelum diserahterimakan ke warga kita pastikan dulu kualitasnya. Warga sendiri mengaku sangat puas dengan hasil bangunan ini,” jelas Teksan.

Dan benar saja, setali tiga uang dengan Teksan, Sulusia mengaku sangat senang dengan kondisi rumahnya sekarang. “Bagus banget, kekar bangunannya, rapi, bagus,” kata wanita yang sehari-hari berjualan makanan ringan di sekolah dekat rumahnya ini.

Dengan terharu, Sulusia menceritakan masa-masa dulu sebelum rumahnya dibedah oleh Tzu Chi. “Dulu rumah kondisinya sangat menedihkan, saya sangat sedih sekali. Kalo hujan rumah kebocoran, kalo panas (kita) kepanasan. Apalagi rumah saya juga dah mau rubuh, apalagi kalo hujan deras bercampur angin,” kenang ibu dua anak ini.


Untuk menambah penghasilan keluarga, Sulusia berjualan makanan ringan di dekat rumahnya.

Saking takutnya, jika hujan lebat dan berangin kencang maka Sulusia memilih mengungsi ke rumah orang tuanya yang berada di samping rumahnya. “Kalo ujan gede campur angin saya takut, kasihan anak-anak nggak bisa tidur. Dulu mereka kalo mau belajar juga susah, kalo sekarang alhamdulillah rumah dah dibedah sama Buddha Tzu Chi, saya terima kasih banget sama Buddha Tzu Chi yang sudah menolong saya. Ngebantu saya,” ujarnya terisak menahan haru.

Bertahan di Tengah Keterpaksaan
Sulusia dan Komarudin bukannya tak memiliki keinginan memperbaiki rumah peninggalan orang tua Sulusia itu, tapi kondisi keuanganlah yang tak memungkinkan mereka mewujudkan sebuah rumah yang layak, bersih, dan sehat untuk kedua buah hati mereka.

Penghasilan Komarudin sebagai pengantar barang di pasar ikan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari suami-istri dengan dua anak ini. Begitu juga penghasilan Sulusia berdagang, yang hasilnya lebih untuk mendukung kegiatan belajar atau sekolah anak-anak.


Zahra merasa senang karena kini memiliki kesempatan untuk belajar di rumah.

“Bagaimanapun sekolah tetap yang saya utamakan,” kata Sulusia. Jadi, keluarga ini mesti bertahan selama belasan tahun tinggal di rumah yang kondisinya memprihatinkan.

Beruntung, doa Sulusia dan Komarudin terwujud. Mereka menjadi salah satu penerima bantuan program bedah rumah Tzu Chi di Kamal Muara, Jakarta Utara. Rumah baru, harapan baru. Hal ini pula yang dirasakan Zahra, anak pertama Sulusia dan Komarudin. “Perasan senang rumahnya dah bagus, jadi bisa belajar lebih tenang,” katanya. Bahkan, beberapa waktu lalu Zahra mengajak teman-teman sekolahnya berkunjung ke rumah, sesuatu hal mustahil dulu akan dilakukan Zahra. “Dulu malu kali kalau bawa teman, jadinya paling diajak ke rumah neneknya,” canda Sulusia.

Dengan kondisi rumahnya sekarang, Zahra mengaku lebih semangat untuk belajar. Cita-citanya sendiri ingin menjadi dokter, sebuah cita-cita yang membutuhkan banyak perjuangan dalam mewujudkannya. “Memang dia anaknya pintar dari dulu, ya semoga bisa lebih baik nilai-nilainya,” kata Sulusia sambil berdoa.


Hendra (26) mendapatkan celengan bambu Tzu Chi dari Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, Liu Su Mei saat penyerahan kunci bedah rumah Tzu Chi.

Rumah yang Dulu Tak Pernah Kering
Hendra, penerima bantuan bedah rumah lainnya mengaku merasa seperti mimpi melihat kondisi rumahnya saat ini. Tak terbayang dalam benaknya jika rumah yang dulu selalu terendam air ini kini tampak bersih, indah, dan nyaman dihuni. Bersama kakaknya Hendrik, Hendra menempati rumah dengan dua kamar ini.

Dulu, rumah mereka tak pernah kering dari air. Tak usah menunggu hujan turun, ketika air laut naik atau pasang, alhasil rumah mereka pun terendam air. “Dulu kondisinya parah banget, banjir, kalo tengah malam hujan pada nggak bisa tidur, ngeliatin air naik (tinggi) atau nggak. Kalo naik kita pindah ke bale, biar nggak kebanjiran. Kalo banjir tambah tinggi ngungsi ke rumah saudara dan tetangga,” kenang Hendra, “(Suka) ngeri juga kalau rumah bakal ambruk, apalagi kalo hujan angin.”


A. Kondisi rumah Hendra sebelum dibedah yang selalu tergenang air meski tak di musim hujan sekalipun.


B. Kondisi rumah Hendra setelah dibangun kembali oleh Tzu Chi.

Seperti warga-warga penerima bantuan bedah rumah lainnya, Hendra dan Hendrik bukan tak berkeinginan memperbaiki rumah peninggalan orang tua mereka, tetapi penghasilan mereka sebagai pekerja di salah satu pabrik pembuatan kuas jauh panggang dari api untuk memperbaiki rumah yang membutuhkan biaya tak sedikit. Apalagi sang kakak yang telah berkeluarga dan memiliki satu orang anak. “Boro-boro buat betulin rumah, buat makan sehari-hari aja pas-pas an,” ungkapnya. Kondisi ekonomi orang tua yang pas-pas an membuat Hendra dan Hendrik dulu hanya mengenyam pendidikan setingkat SMP saja. Dengan pendidikan yang minim maka pekerjaan yang diperoleh kakak-beradik ini pun tak jauh dari pekerja pabrik.


Teksan Luis dan Hardiman bersama relawan Tzu Chi lainnya melihat langsung progres pembangunan bedah rumah Tzu Chi di Kamal Muara, termasuk rumah Hendra.

Karena itulah ketika rumah mereka diperbaiki oleh Tzu Chi, keduanya mengaku sangat bersyukur dan berterima kasih. Wujud rasa terima kasih ini mereka wujudkan dengan ikut membantu proses pembangunan rumah yang dikerjakan kurang lebih selama 2 bulan. “Ya bantu-bantu, mulai dari bawain material, nguruk, sampai ngaduk pasir dan semen,” kata Hendra. Dan melihat hasilnya, Hendra mengaku sangat puas. “Bagus banget, kekar, orang-orang juga bilang kalau dibantu Tzu Chi mah bangunannya bagus,” kata Hendra.

Rumah telah dibangun, semoga harapan dan cita-cita warga pun kembali melambung. Dengan rumah yang lebih baik, relawan Tzu Chi berharap warga juga semakin meningkat kualitas kehidupannya, baik dari segi ekonomi, kesehatan, kebersihan, dan tentunya juga pendidikan anak-anak mereka. Karena mimpi besar sekalipun dibangun dari tidur seorang anak di rumah mereka.

Editor: Metta Wulandari

Artikel dibaca sebanyak : 1153 kali


Berita Terkait


Kisah Haru Sang Guru Ngaji

09 Desember 2019

Doa dan Harapan di Rumah yang Baru

18 November 2019


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Ada tiga "tiada" di dunia ini, tiada orang yang tidak saya cintai, tiada orang yang tidak saya percayai, tiada orang yang tidak saya maafkan.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat