Sabtu, 21 September 2019
Indonesia | English

Memotivasi Diri untuk Tetap Tegar Menghadapi Kanker

16 Agustus 2019 Jurnalis : Suyanti Samad (He Qi Timur)
Fotografer : Suyanti Samad (He Qi Timur)


Josh (12), putra tunggal Marmi menyisihkan uang jajannya di celengan Tzu Chi.

Kanker ovarium merupakan kanker yang muncul di jaringan indung telur. Hingga saat ini, penyebab terjadinya kanker ovarium belum diketahui dengan pasti. Namun, kanker ovarium lebih sering terjadi pada wanita lanjut usia dan wanita yang memiliki keluarga dengan riwayat kanker ovarium. Kanker ovarium jarang menimbulkan gejala pada stadium awal dan lebih mudah untuk diobati dibandingkan kanker ovarium yang baru terdeteksi setelah masuk stadium lanjut atau sudah menyebar ke organ tubah lain. Oleh karena itu, penting untuk melakukan pemeriksaan berkala ke dokter kandungan setelah menopause.

Marmi (39) adalah seorang penerima bantuan Tzu Chi berupa susu, dan biaya obat di luar BPJS. Ia tidak memiliki riwayat keluarga penderita kanker ovarium dan usianya juga masih tergolong muda namun telah divonis dokter menderita CA (Cancer Antigen) 125 kanker ovarium stadium 1A pada tahun 2002 silam. Cancer Antigen 125 (CA125) adalah suatu protein yang ditemukan pada kebanyakan sel kanker ovarium, yang tersebar ke dalam darah dan dapat diukur.

Setiap bulan, ketika haid datang menghampiri, Marmi tidak bisa menghindari rasa nyeri yang hebat sejak tahun 2000. Ketika itu Marmi masih duduk di bangku kuliah tahun pertama di salah satu universitas di Yogyakarta. Seperti wanita dewasa lainnya, rasa nyeri yang terjadi selama haid berlangsung, adalah hal biasa yang sering dialami setiap wanita. Oleh karena itu, Marni hanya mengkonsumsi obat penghilang rasa nyeri dan tidak pernah melakukan pemeriksaan ke rumah sakit.


Himpitan ekonomi tidaklah membuat Marmi dan Alvin (suaminya) berat untuk berbagi dengan sesama melalui celengan Tzu Chi.

Namun suatu ketika, rasa nyeri ini tidak terelakkan pada tahun 2002. Marmi terpaksa dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa. Hasil pemeriksaan menunjukkan CA-125 kanker ovarium stadium 1A.

“Kata dokter, stadium 1A, kanker ganas dari hasil PA (patologi anatomi), harus segera dilakukan tindakan operasi pengangkatan satu indung telur dan dilanjutkan enam seri kemoterapi,” jelas Mimi, panggilan kecilnya, anak ketiga dari empat bersaudara.

Patologi anatomi sendiri merupakan pemeriksaan jaringan dan sel yang umumnya melibatkan pemeriksaan visual kasar dan mikroskopik pada jaringan dengan pengecatan khusus dan imunohistokimia yang dimanfaatkan untuk memvisualisasikan protein khusus dan zat lain pada atau di sekeliling sel.

Di tahun yang sama, keluarga Marmi yang mengharapkan Marmi bisa sembuh dari kanker ovarium, orang tua Marmi berupaya mengusahakan biaya pengobatan dengan menjual tanah keluarga hingga melakukan peminjaman uang ke kantor karena saat itu belum ada BPJS Kesehatan dari kantor tempat kerja orang tuanya.

“Sekitar dua minggu harus menjalani rawat inap, sebelum dilakukan tindakan operasi pengangkatan satu indung telur,” tutur Marmi, bersikap tegar menerima kenyataan bahwa dia tidak bisa hamil karena indung telur hanya tinggal satu. 

Walaupun sudah dinyatakan sembuh pada kemoterapi yang ketiga, Marmi masih harus terus menjalani tindakan cek laboratorium secara rutin setiap bulan di rumah sakit untuk memastikan sel kanker tidak tumbuh kembali.


Tahun 2017, Marmi bersama Alvin, suaminya, mendatangi Tzu Chi Center, Pantai Indah Kapuk, mengajukan permohonan bantuan susu (peptisol) sebagai makanan tambahan (supplement) dan obat yang tidak ditanggung BPJS.

“Hasil dari kemoterapi seri ketiga, CA-125 (Cancer Antigen 125) sudah bagus, tidak ada sel kanker. Lagi pula secara ekonomi, keluarga sudah tidak mampu membiayai pengobatan saya,” pungkas Mimi, memutuskan untuk tidak melanjutkan proses kemoterapi hingga enam seri sesuai saran dokter.

Kegembiraan atas kesembuhan dari kanker ovarium tidak berlangsung lama. Memasuki tahun kelima, di tahun kedua usia  perkawinannya, tepatnya pada tahun 2006, pada masa kehamilan bulan ketiga Marmi melakukan pemeriksaan di Rumah Sakit Husada. Dari hasil USG (ultrasonography atau prosedur pencitraan menggunakan teknologi gelombang suara berfrekuensi tinggi untuk memproduksi gambar tubuh bagian dalam, seperti organ tubuh atau jaringan lunak), dokter mengatakan ada benjolan yang sangat besar dalam perut dan akan membahayakan janin dalam kandungan.

“Janin anak ini pasti tidak bisa berkembang, akan cacat karena ada kanker, kata dokter,” tambah Marmi. Akhirnya dokter memberikan rujukan ke Rumah Sakit Dharmais setelah mengetahui Marmi memiliki riwayat kanker ovarium.

“Secara medis, benjolan makin membesar sedangkan janin terus berkembang, pasti anak ini akan cacat,” tambahnya.

Walau sudah dirujuk ke Rumah Sakit Dharmais, tapi itu tidak dilakukan Marmi karena tidak mempunyai biaya pengobatan lagi. Rasa sakit (nyeri) pun tak terelakkan di masa kehamilan.

“Sakit sekali, tidak bisa bergerak, tidak bisa bangun, tidak bisa makan, tidak bisa minum, saya tiduran di ranjang. Perut kadang membengkak kadang kempes sendiri, bengkak lagi dan kempes lagi secara terus menerus. Saya tidak berani minum obat,” cerita Marmi dengan mata berkaca-kaca.


Selain bantuan Tzu Chi berupa dana dan susu, keluarga Marmi juga mendapat bingkisan mi instan Daai Mi.

Sambil menunjukkan tangan ke arah Josh (12) putra tunggalnya, Marmi menambahkan bahwa melahirkan putra tunggalnya penuh perjuangan dan penderitaan yang harus dilaluinya. Pada masa kehamilan, dokter sudah menyarankan Marmi agar tidak mempertahankan janinnya disebabkan akan membahayakan nyawa Marmi dan nyawa janinnya.

Himpitan ekonomi, serta tidak ada kartu BPJS Kesehatan, ataupun KJS inilah membuat Marmi hanya bisa berpinta (berdoa). “Tuhan, kata dokter, saya tidak bisa hamil, terus ini bisa hamil. Apapun yang terjadi berarti anak ini berhak lahir,” lanjut Marmi tidak melanjutkan pemeriksaan lanjutan selama proses kehamilan. Marmi menjalani kehamilannya hanya di rumah, sambil menangis untuk menahan rasa sakit yang terus merongrongnya, hingga menyebabkan berat badan turun drastis.

Pada kehamilan bulan kesembilan, salah satu bidan mengatakan bayi Marmi harus di USG untuk mendapat bantuan medis. Oleh salah satu dokter di rumah Sakit di Cengkareng juga menyarankan segera dilakukan operasi caesar untuk menolong bayi tersebut. Berkat bantuan bidan yang menceritakan kondisi Marmi ke dokter tersebut, meluluhkan hatinya untuk membantu operasi caesar di salah satu rumah sakit TNI dengan hanya membayar setengah dari biaya operasi caesar.

“Satu hari rawat di rumah sakit, selanjutnya di rawat di bidan,” jelas Mimi, ia sangat bersyukur bisa berjodoh dengan dokter tersebut.  

Ujian kehidupan tidak berhenti. Tiga bulan kemudian pasca melahirkan, perut kembali membengkak penuh cairan, kadang mengempis. “Saya tidak tahu cairan itu hilang ke mana saat perut kempes. Kadang membesar. Seluruh badan sakit selama seminggu, nyeri, muntah. Saya hanya minum obat herbal,” tutur Mimi

KJS, Kado terindah di Hari Natal
Desember 2013, Tuhan menjawab doa Marmi, akhirnya ia mendapat KJS (Kartu Jakarta Sehat) sebagai kado terindah di hari Natal.

“Salah satu dokter di RS. Pluit cabang Telok Gong memberikan surat rujukan ke RSCM. Akhinya saya bisa masuk ke rumah sakit,” cerita Marni girang.

 

Setiap bulan Marmi harus menjalani pungsi atau penyedotan cairan (protein) atau darah dalam tubuh, membutuhkan susu sebagai makanan tambahan (supplement) pengganti protein yang terbuang.

Satu tahun kemudian (2014), Marni kembali menjalani kemoterapi kedua, hingga akhirnya kritis akibat infeksi paru-paru (shock septic) selama 1 bulan. Cairan dalam perut naik ke paru-paru. Sehingga Marmi harus memasang selang untuk mengeluarkan cairan dari paru-paru.

Walau dokter sudah menyatakan Marmi tidak bisa melanjutkan kemoterapi hingga enam seri, namun Marmi berjuang dan menyakinkan dokter bahwa ia bisa menjalani kemoterapi hingga enam seri, hasil akhir dokter mengatakan bahwa Marmi tidak mungkin menjalani operasi, kemoterapi (cukup sampai enam seri) karena kankernya sudah menyebar ke seluruh organ tubuh.

“Saya shock, menangis. Saya kembali menata hati saya untuk bangkit. Dokter tidak bisa obati, berarti diri saya yang harus obati. Hati yang gembira adalah obat,” kata Marmi, belajar mengucap syukur dibalik ujian kehidupan.

Setiap bulan Marmi harus menjalani pungsi. Adalah suntikan (tusukan) untuk mengeluarkan cairan atau darah dalam tubuh. Segala resiko (seperti kematian) yang terjadi pada saat pungsi berlangsung harus menjadi tanggung jawab Marni.

Jalinan Jodoh Dengan Tzu Chi
Dua tahun silam (2017), Marmi bersama Alvin (43) suaminya, mendatangi kantor Tzu Chi Center yang berlokasi di Pantai Indah Kapuk, untuk mengajukan permohonan bantuan susu (peptisol) sebagai makanan tambahan (supplement) dan obat yang tidak ditanggung BPJS.


Johan Kohar (65), bersama insan Tzu Chi komunitas He Qi Timur selalu melakukan pendampingan berupa kunjungan kasih bagi keluarga Marmi.

“Senang akhirnya permohonan saya disetujui oleh Tzu Chi,” kenang Marmi, harus menunggu hampir sebulan hingga permohonannya disetujui oleh Tzu Chi.

Sementara itu sejak kecil, Josh (12), putra tunggal Marmi, telah dididik dengan cara displin, hidup mandiri, hidup sederhana dan selalu bersyukur. Semua ini dibekali agar bila suatu hari Marmi tidak ada di sampingnya, Josh tegar dan kuat menghadapi semua ujian kehidupan.

Johan Kohar (65), bersama insan Tzu Chi komunitas He Qi Timur selalu melakukan pendampingan berupa kunjungan kasih di rumah Marmi.

“Marmi memiliki motivasi diri yang kuat, tetap bersandar pada iman dan kepercayaannya, dan Marmi menjadikan dirinya sebagai motivator (titik terang) dengan memberi semangat bagi orang-orang yang senasib dengannya serta bisa bersosialisasi dengan baik di rusun,” tutur Johan Kohar, insan amal He Qi Timur, memotivasi Marmi untuk mandiri sehingga Marmi bisa membantu orang lain sesuai dengan visi misi Tzu Chi dan keinginan Master Cheng Yen.

Editor: Khusnul Khotimah

Artikel dibaca sebanyak : 255 kali


Berita Terkait




Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Kita harus bisa bersikap rendah hati, namun jangan sampai meremehkan diri sendiri.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat