Rabu, 18 September 2019
Indonesia | English

Memulihkan Kehidupan Melalui Perumahan Cinta Kasih Tzu Chi Pombewe

02 Juli 2019 Jurnalis : Metta Wulandari
Fotografer : Anand Yahya


Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) RI Jenderal TNI (Purn) Dr. H. Wiranto, S.H melakukan Peletakan Batu Pembangunan Perumahan Cinta Kasih Tzu Pombewe, Sigi, Sulawesi Tengah.

Kabar bahagia kembali menyapa para warga terdampak gempa dan tsunami di wilayah Palu, Donggala, dan Sigi, Sulawesi Tengah. Pasalnya, pembangunan hunian tetap (Huntap) akan kembali dimulai. Berlokasi di Desa Pombewe, Kec. Sigi Biromaru, Kab. Sigi, Sulawesi Tengah, peletakan batu pertama pembangunan Perumahan Cinta Kasih Tzu Chi Pombewe ini dilakukan pada Senin, 1 Juli 2019.

Bekerja sama dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) RI, Tzu Chi bersinergi untuk memberikan bantuan jangka panjang yakni berupa hunian tetap setelah gempa melanda wilayah ini pada 28 September 2018 lalu. “Kami sangat senang bisa saling mengisi dan membantu karena dari Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia langsung bisa membangun,” ujar Ketua Satgas Penanggulangan Bencana Sulawesi Tengah Kementerian PUPR, Arie Setiadi Moerwanto.


Relawan berfoto bersama usai kegiatan peletakan batu. Peletakan batu dilakukan oleh Menko Polhukam RI Jendral TNI (Purn) Dr. H. Wiranto, S.H dan dihadiri perwakilan dari Kementerian PUPR, Kementerian Sosial, Kementerian ATR/BPN RI, Kementerian Keuangan, Kepala BNPB, dan jajaran Pemda Sulawesi Tengah.


Kepada Wiranto, Hong Tjhin menjelaskan tahapan pembagian bantuan yang telah dilakukan oleh Tzu Chi pascabencana yang melanda Palu, Donggala, dan Sigi.

Peletakan batu pertama Perumahan Cinta Kasih Tzu Chi Pombewe dilakukan langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Polhukam) RI Jendral TNI (Purn) Dr. H. Wiranto, SH. Kegiatan ini juga dihadiri oleh jajaran Kementerian PUPR, Kementerian Sosial, Kementerian ATR /BPN RI, Kementerian Keuangan, Kepala BNPB, dan jajaran Pemda Sulawesi Tengah. Tak ketinggalan, relawan Yayasan Buddha Tzu Chi turut andil dalam pelaksanaan kegiatan.

"Groundbreaking ini adalah tanda bahwa kita memulai dan memberikan rangsangan kepada seluruh pihak: pemerintah pusat, daerah, yayasan, dan masyarakat untuk bersama-sama bahu-membahu agar rancangan kita untuk membangun hunian tetap bagi masyarakat dapat tercapai. Tanpa kerja sama, ribuan rumah tidak bisa dibangun dalam waktu yang singkat," pesan Wiranto dalam sambutannya.

Wiranto juga mengingatkan kondisi geografis Indonesia yang berada di ring of fire (daerah rawan bencana) sehingga masyarakat harus tetap waspada. Selain itu, pada tahap rehabilitasi dan konstruksi ini, pembangunan perumahan haruslah sesuai dengan spesifikasi serta kesepakatan rumah tahan gempa. Yang mana, pembangunan rumah yang dilakukan oleh Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia telah memenuhi kriteria-kriteria yang ditentukan tersebut.

Ibu Andi, salah satu warga yang hadir pada kegiatan ini merasa bahagia karena berita pembangunan hunian tetap (Huntap) bukanlan isapan jempol semata. “Bagaimana tidak senang bisa lihat langsung nanti ada pembangunan di sini, kan rumah kami sudah hancur, habis, tak bisa bangun lagi,” katanya. Rumahnya di Lolu hancur karena gempa tahun lalu. Hingga saat ini ia dan keluarganya masih bertahan di Rumah Senyum yang berbentuk tenda-tenda pengungsian. Ia hanya berharap bisa kembali hidup nyaman seperti sediakala.


Sarpin Lie, relawan Tzu Chi menjelaskan tentang aspek-aspek bangunan perumahan yang tengah dibangun oleh Tzu Chi.

Ibu Rosmiati, warga lainnya juga merasakan kebahagiaan yang serupa. “Rumah saya juga rusak tapi tidak terlalu berat, rusak sedang. Jadi mengungsi sementara saja. Lihat pembangunan ini akan dimulai, sudah pasti senang. Semoga bisa segera ditempati,” katanya.

Hal itu pula yang menjadi harapan dari Sarpin Lie, Relawan Koordinator Pembangunan Tzu Chi. “Saya senang karena pemerintah daerah mendukung dan menyediakan tanah, lahan yang cukup luas dan strategis untuk nantinya menjadi tempat tinggal warga yang membutuhkan. Semoga prosesnya cepat sehingga bisa segera ditinggali warga,” tuturnya.

Pada tahap pertama pembangunan Perumahan Cinta Kasih Tzu Chi Pombewe, Tzu Chi akan membangun sebanyak 500 unit rumah type 36 dengan luas tanah 150 meter persegi. Perumahan Cinta Kasih Tzu Chi Pombewe merupakan perumahan kedua yang dibangun oleh Tzu Chi di Sulawesi Tengah - setelah Perumahan Cinta Kasih Tzu Chi Tadulako yang kini masih dalam tahap pembangunan.

Bangkit Kembali Usai Bencana
Pada hari itu pula, Wiranto sempat meninjau langsung progress pembangunan Perumahan Cinta Kasih Tzu Chi Tadulako, Palu. Relawan Tzu Chi menyambut dan menjelaskan secara rinci apa saja yang telah Tzu Chi lakukan dalam masa tanggap darurat bencana hingga masa konstruksi dan rehabilitasi.

Melalui poster yang terpasang di lahan proyek, Hong Tjhin, relawan Tzu Chi menunjukkan bahwa Tzu Chi telah melakukan tiga tahap bantuan bencana: Menenteramkan Jiwa, Menenteramkan Raga, dan terakhir yang masih berjalan adalah Memulihkan kehidupan. Sementara itu, Sarpin Lie, menjelaskan kepada Wiranto mengenai aspek-aspek perumahan yang tengah dibangun.


Wiranto berpesan kepada warga untuk mensyukuri berbagai bantuan yang telah mereka dapatkan, dan bisa kembali bangkit dan mandiri. Ia juga berterima kasih kepada Tzu Chi yang memberikan bantuan secara sistematis.

“Kita bersyukur bahwa ada yayasan yang mempunyai satu program kemanusiaan seperti Buddha Tzu Chi dan saya melihat ada kesungguhan, ada ketulusan, keikhlasan, dan ada suatu perencanaan yang sistematis yang dilakukan. Yang penting adalah bagaimana kita juga bisa menerima bantuan itu dengan ikhlas, kemudian bisa membangun sinergi antara penyumbang, penerima, dan pemerintah. Apabila semua saling dukung, saya kira sebentar lagi akan berdiri hunian tetap. Makanya kita berterima kasih dengan Yayasan Buddha Tzu Chi yang telah memberikan bantuan kemanusiaan yang sedemikian rupa untuk masyarakat," ungkap Wiranto ketika menyempatkan diri meninjau proses pembangunan Perumahan Cinta Kasih Tzu Chi Tadulako.

Wiranto juga mengimbau warga untuk bisa kembali bergerak mandiri dan tidak hanya duduk menunggu bantuan. “Walaupun dalam masa bencana, warga juga harus bersyukur karena banyak sekali bantuan yang mengalir. Sementara ini hal itu yang bisa diberikan kepada masyarakat, maka terima itu sebagai anugerah. Dari kesulitan yang diderita kemudian bantuan yang diterima, bekerja kembali. Jangan kemudian tergantung terus kepada bantuan,” pesannya.


Editor: Hadi Pranoto

Artikel dibaca sebanyak : 291 kali


Berita Terkait




Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Sikap jujur dan berterus terang tidak bisa dijadikan alasan untuk dapat berbicara dan berperilaku seenaknya.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat