Sabtu, 14 Desember 2019
Indonesia | English

Mendorong Semangat Lewat Gerobak Cinta Kasih

24 September 2019 Jurnalis : Arimami Suryo A.
Fotografer : Arimami Suryo A.


Para relawan Tzu Chi komunitas He Qi Pusat mengunjungi Ma’at yang sedang berjualan dengan gerobak Mi DAAI di wilayah Taman Sari, Jakarta Barat.

Kedatangan beberapa relawan Tzu Chi dari komunitas He Qi Pusat  disambut dengan sukacita oleh Ma’at (65), salah seorang penerima bantuan gerobak Mi DAAI dari Tzu Chi. Di lokasi berjualannya, tepatnya di Jl. Taman Sari V, Jakarta Barat, Ma’at pun berbincang-bincang tentang usahanya dengan gerobak Mi DAAI kepada relawan pada Kamis pagi, 19 September 2019.

“Saya bersyukur dikunjungi sama relawan, terima kasih banyak sudah pada datang,” ungkap Ma’at sambil menunggu para pembeli. Ia sendiri berjualan karena sudah tidak bekerja lagi dan melanjutkan berjualan seperti yang dilakukan mendiang istrinya yang meninggal dunia pada bulan Maret 2019 lalu.

Sebelumnya, Ma’at berjualan di depan sebuah toko dengan peralatan seadanya di belakang Pasar Asem Reges, Jakarta Barat. Setiap hari ia berjualan mi, kopi, dan gorengan dari pagi hingga pukul 17.00 WIB dengan menggunakan meja dan etalase yang kurang higienis. Relawan yang kebetulan tinggal di sekitar lokasi tersebut melihat kondisi Ma’at dan menawarkan bantuan kepadanya.


Bersama dengan relawan, Ma’at memasak Mi DAAI (vegetarian) untuk pembeli.

“Awalnya kita sedang ada program pemberdayaan ekonomi keluarga dengan memberikan bantuan kepada masyarakat yang memang benar-benar membutuhkan. Lalu ada salah satu relawan yang memberitahu kondisi pak Ma’at. Kemudian relawan melakukan survei dan kita menawarkan bantuan peminjaman gerobak DAAI. Pak Ma’at pun mau,” cerita Wylen, relawan yang menjadi koordinator bantuan.

Kemudian pada bulan Juli 2019, Ma’at menerima peminjaman satu unit gerobak Mi DAAI untuk menunjang usahanya yang sederhana. Ma’at pun berbahagia karena dengan gerobak ia bisa berjualan hingga malam hari. “Semenjak ada gerobak menjadi lebih baik dan praktis. Saya dagang bisa sampai malam. Bersyukur dikasih bantuan ini, jualan jadi rapi. Hasilnya juga lebih dari yang dulu dan setiap minggu saya bisa sisihkan uang 5 ribu untuk celengan yang dikasih relawan (celengan bambu),” ungkap Ma’at sambil tersenyum.


Relawan Tzu Chi, Wylen sedang berbincang-bincang dengan Ma’at seputar kegiatannya berjualan dengan gerobak Mi DAAI.

Perubahan yang terjadi pada Ma’at dalam berdagang juga diperhatikan oleh relawan Tzu Chi. Dalam beberapa kesempatan, para relawan rutin mengunjungi Ma’at untuk memberikan pendampingan. “Perubahannya cukup signifikan, dari meja yang kurang higienis sekarang sudah tertata rapi. Selama berjualan dari bulan Juli - September 2019, Pak Ma’at juga rutin berpartisipasi dalam celengan bambu. Melihat perkembangannya kami relawan berharap supaya pendapatannya stabil dan bisa terus menyajikan makanan-makanan yang lezat dan higienis kepada pembeli,” kata Wylen.

Menjelang siang, relawan kemudian beranjak dari wilayah Taman Sari menuju wilayah Pekojan, Jakarta Barat untuk meninjau penerima bantuan peminjaman gerobak Mi DAAI lainnya. Setelah melewati gang-gang sempit di tengah padatnya pemukiman warga, relawan disambut dengan sukacita oleh Rodiah (67) saat tiba rumahnya yang begitu sederhana.


Di pinggir salah satu ruas jalan di Pekojan, Rodiah dan menantunya berjualan dengan gerobak Mi DAAI.

Rodiah juga salah satu Gan En Hu (penerima bantuan Tzu Chi) yang setiap bulannya mendapatkan bantuan biaya hidup dari Tzu Chi untuk cucunya yang menderita Cerebral Palsy. Keseharian Rodiah membuat kue dan makanan kecil jika ada pesanan. Sebelumnya ia juga menjadi buruh cuci dan gosok pakaian. Karena sudah tua dan menurunnya kondisi kesehatan, Rodiah pun berhenti dari pekerjaan tersebut.

Di rumahnya yang sangat sederhana, Rodiah tinggal bersama 3 cucunya yang masih kecil dan seorang anak beserta menantunya. Relawan juga sering melakukan kunjungan kasih untuk melihat kondisi cucu Rodiah yang menderita Cerebral Palsy (gangguan gerakan, otot, atau postur yang disebabkan oleh cedera atau perkembangan abnormal di otak). “Nenek Rodiah ini adalah penerima bantuan Tzu Chi yang sudah 4-5 tahun dan kita sering datang kunjungan ke rumahnya.  Dalam satu kesempatan kita pernah tanya tentang pengeluaran selama satu bulan dan biaya terapi untuk cucunya. ‘Kalaupun biayanya kurang ya harus dicukup cukupin’. Ini kata Nenek Rodiah. Kemudian dari hal itu relawan berinisiatif untuk memberikan bantuan peminjaman gerobak,” cerita Wylen.


Salah satu menu yang disajikan Rodiah adalah Mi Vegetarian DAAI.

Di bulan yang sama (Juli 2019), Rodiah mendapatkan bantuan peminjaman gerobak DAAI. “Kaya ketiban bulan, nggak nyangka dipinjemin gerobak untuk usaha,” ungkap Rodiah menceritakan kebahagiannya saat mendapat pinjaman gerobak. Selama 3 bulan (Juli - September 2019) setelah mendapat peminjaman gerobak, bersama dengan menantunya kemudian gerobak tersebut dipakai usaha berjualan bakmi.

Rodiah pun sangat berbahagia karena para tetangga juga mendukungnya berjualan. “Gerobak ini sangat berarti, namanya orang nggak bisa bikin gerobak. Coba kalau bikin gerobak berapa biayanya? Jadi dirawat dan dipakai usaha saja gerobaknya,” ungkap Rodiah. Semenjak berjualan, kondisi ekonomi Rodiah dan keluarga perlahan membaik karena ada penghasilan tambahan dari berjualan bakmi dengan gerobak Mi DAAI.


Keakraban Wylen bersama Rodiah yang kerap melakukan kunjungan kasih di rumahnya.

Ia juga sangat senang karena kerap kali dikunjungi dan selalu dibantu oleh relawan Tzu Chi. “Terima kasih atas gerobaknya dari Tzu Chi, berkat bantuan ini ekonomi saya sekarang lumayan tidak seperti dulu lagi,” kata Rodiah berbahagia. Begitu pula dengan para relawan yang kerap mengunjungi Rodiah. Mereka sangat senang dengan kemajuan yang dicapai oleh Rodiah dan keluarga untuk terus maju. “Sangat inspiratif, karena Nenek Rodiah sangat bertanggung jawab terhadap keluarga. Semoga kehidupan keluarganya semakin membaik terus kedepannya,” tutup Wylen yang terharu melihat semangat Rodiah.

Editor: Hadi Pranoto

Artikel dibaca sebanyak : 371 kali


Berita Terkait




Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Gunakanlah waktu dengan baik, karena ia terus berlalu tanpa kita sadari.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat