Sabtu, 20 Juli 2019
Indonesia | English

Menentramkan Hati Warga Korban Kebakaran di Kelurahan Krukut

28 Maret 2019 Jurnalis : Johan (He Qi Pusat)
Fotografer : Johan (He Qi Pusat)


Lim Tet Kong (tengah) seorang relawan komite dari xie li Jembatan Lima, walaupun mempunyai keterbatasan fisik, namun selalu bersemangat dalam bersumbangsih.

Malam itu waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam, waktu bagi sebagian orang tengah nyenyak tidur, sebagian lagi baru mau istirahat dari segala kesibukan. Tetapi lain halnya bagi warga RW 5, Kelurahan krukut, Kecamatan Tamansari Jakarta Barat. Sabtu malam atau Minggu dini hari, 17 Maret 2019 adalah waktu tersibuk bagi mereka buat menyelamatkan diri dari kobaran si jago merah.


Briefing terlebih dulu dilakukan sebelum melakukan tugas agar tidak terjadi kesalahan prosedur.

Tak terkecuali bagi Ibu Linawati, 55 tahun. Warga RT 11/ 05 ini terlelap tidur dan tiba-tiba bangun karena mendengar suara ribut. Ibu yang malam itu kebetulan tinggal berdua dengan anak perempuannya itu sangat terkejut melihat api sudah membesar menuju rumahnya. Dengan jarak kobaran api dari rumahnya tidak lebih dari 10 meter, Linawati pun berhamburan keluar rumah berdua dengan anaknya dan hanya sempat mengambil sebuah tas berisi surat-surat.

 

Warga yang mengantre paket bantuan berbaris dengan tertib.

Saking paniknya, mereka berdua lari terpisah. Si ibu lari sejauh mungkin dari kobaran api yang kian membesar, sementara si anak gadisnya yang mengalami keterbelakangan mental malah berlari ke arah api datang. Panik, tegang, khawatir, cemas bercampur aduk dalam pikiran Linawati. Tapi apa daya, dia tidak kuasa mencari lagi keberadaan anaknya dalam keadaan hiruk pikuk begitu. Linawati akhirnya diselamatkan warga di halaman Masjid Jami Al-Ikhlas, lokasi yang dianggap aman. Sedangkan anaknya baru bisa diketemukan setelah dua jam kemudian oleh Linawati.

 

Pembagian paket dikoordinir oleh Yopie Budiyanto, relawan dari xie li Pademangan.

Lain lagi cerita Ibu Fatimah, 52 tahun, warga RT 08/05 yang  terkena stroke dan harus duduk di kursi roda. Saking panik dan terkejutnya, ia tidak mengerti apa yang terjadi dalam kondisi yang begitu genting, tahu-tahu sudah ikut berada di halaman depan masjid untuk berkumpul bersama warga lain yang terkena musibah kebakaran.

 

Sebagian paket bantuan yang sudah diturunkan oleh relawan.

Bencana tidak bisa diprediksi kapan datangnya, dan pastinya selalu menyisakan duka yang mendalam. Kehilangan tempat tinggal dan harta benda membuat para korban merasa sangat tidak tenteram. Kehidupan yang damai pun seketika berubah menjadi derita yang tidak berujung. Maka pada Jumat, 22 Maret 2019, Tzu Chi Indonesia melalui relawan tim tanggap darurat, hadir di tengah keluarga korban yang mengalami bencana untuk memberikan bantuan.

 

Ibu Fatimah, warga yang mengalami stroke sehingga harus duduk di kursi roda.

Menurut Djalal, salah seorang relawan, Tzu Chi telah terjun di lokasi bencana ini sejak hari pertama setelah kebakaran untuk melakukan survei bagi warga yang terkena kebakaran. Sebanyak 26 relawan saling bahu-membahu, dimulai dari pukul 8 pagi sudah berkumpul di titik lokasi di Jalan Thalib 2. Setelah briefing sebentar, tim relawan dipecah menjadi 6 kelompok kecil, yang masing-masing terdiri dari 2-3 orang mendampingi warga 1-2 RT yang terkena dampak kebakaran.

 

Relawan berkoordinasi dengan aparat setempat, dengan Nuryadin, Kepala satpol PP kelurahan dan Hamonang Simanurung, sekretaris kelurahan.

Pembagian kupon berjalan lancar sesuai rencana. Warga berbaris mengantre sesuai dengan kelompok RT masing masing, sesekali ditemani oleh ketua RT-nya. Pada pukul 10 pagi pembagian kupon selesai, para relawan segera mendirikan tenda dan mulai menurunkan paket-paket bantuan. Bantuan tersebut berupa terpal, ember, air minum kemasan dan satu box kontainer yang berisikan barang keperluan sehari-hari seperti handuk mandi, sandal, selimut, dan lain-lainnya.

 

Ibu Anne, salah satu relawan, yang walaupun usianya sudah 73 tahun, juga bersemangat turut memberikan cinta kasih dan perhatian kepada warga setempat yang mengalami bencana.

Pembagian paket kali ini memakan waktu hingga sore dikarenakan skala kebakaran cukup besar, meliputi 9 RT yang menghanguskan lebih dari 500 rumah. Isu yang beredar, kebakaran disebabkan oleh api yang berasal dari kompor, tetapi sampai artikel ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian. Sebanyak 420 paket akhirnya tersalurkan dengan sempurna diawali penyerahan simbolis kepada beberapa warga korban kebakaran.

Segera terlihat wajah-wajah sukacita dengan penuh rasa syukur setelah menerima paket bantuan. Sesuai dengan motto Yayasan Buddha Tzu Chi yang bertujuan agar dunia bebas bencana dan bebas derita, maka sangat terlihat pancaran raut kegembiraan dari para warga setempat.

 

Editor: Khusnul Khotimah

Artikel dibaca sebanyak : 323 kali


Berita Terkait


Memulihkan Semangat Warga Korban Kebakaran

30 Desember 2017

Mengulurkan Tangan, Meringankan Derita

25 Agustus 2017

Bergerak Cepat Membantu Korban Kebakaran

25 Agustus 2017

Meringankan Beban di Pinangsia

11 Januari 2017

Bantuan Kebakaran: Bentuk Cinta Kasih dan Menjalin Tali Silahturahmi

23 Maret 2016


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Cara kita berterima kasih dan membalas budi baik bumi adalah dengan tetap bertekad melestarikan lingkungan.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat