Rabu, 15 Juli 2020
Indonesia | English

Mengalirkan Cinta Kasih dari Pintu ke Pintu

25 Juni 2020 Jurnalis : Yuliati (Tzu Chi Sinar Mas)
Fotografer : Dok. Tzu Chi Sinar Mas Pati


Suwardi memberikan bantuan kepada salah seorang warga di Pati, Jawa Tengah.

Mbah, niki enten sembako saking Yayasan Buddha Tzu Chi. Mugi-mugi saget membantu Mbah sekeluarga (Mbah, ini ada sembako dari Yayasan Buddha Tzu Chi. Semoga dapat membantu mbah sekeluarga -red),” ucap Suwardi, relawan Tzu Chi.

Setiap kali menyerahkan sembako dari rumah ke rumah penerima bantuan, Suwardi selalu mengatakan hal yang sama kepada mereka. Bapak dua anak ini mengaku bahagia bisa turut bersumbangsih menggarap ladang berkah membantu sesama yang membutuhkan. Apalagi di saat seperti sekarang ini yang sedang dilanda wabah Covid-19. Hampir semua terdampak, khususnya dalam bidang ekonomi.

“Saya sungguh merasa gembira meskipun kami hanya sebagai perantara untuk penyaluran bantuan sembako, tetapi bantuan ini tepat sasaran. Sebagian besar yang dibantu, mereka adalah para Lansia (lanjut usia),” ungkapnya.

Meski baru menjadi relawan Tzu Chi (relawan kembang), namun Suwardi melakukan tugasnya dengan penuh kesungguhan hati. Ia tak pernah absen mengikuti kegiatan ini mulai dari pengepakan hingga pembagian sembako berakhir, yang menyebar di berbagai wilayah dengan medan yang berbeda-beda baik di pesisir maupun pegunungan. Beberapa hari mengikuti kegiatan ini, ia mengaku mendapatkan kesan tersendiri selama pembagian sembako berlangsung.


Bantuan paket sembako ini ditujukan kepada mereka yang kurang mampu, khususnya mereka yang telah berusia lanjut.

“Dapat langsung bertatap muka dengan orang-orang yang saat ini sangat membutuhkan bantuan. Ada yang tinggal sebatang kara, ada yang sakit di usia lanjut, semua itu menyentuh hati saya. Ternyata rasa lelah saya dan teman-teman relawan melebihi perasaan beliau-beliau yang membutuhkan bantuan,” ungkapnya.

Kegiatan pembagian sembako dilakukan selama lima hari terhitung sejak tanggal 17-21 Juni 2020 secara door to door kepada 331 di Kabupaten Pati dan Jepara, Jawa Tengah.

Tidak hanya membagikan sembako, pada kesempatan ini para relawan sekaligus memberikan pengenalan tentang Yayasan Buddha Tzu Chi dan Tzu Chi Sinar Mas serta program-programnya yang dijalankan di Pati yang sejauh ini telah berjalan seperti celengan bambu dan anak asuh. Paket sembako berisi beras 10 kg, minyak goreng 1 liter, gula pasir 1 kg, biskuit 1 bungkus, mi instan 4 bungkus, dan kopi instan 1 bungkus.

“Semoga bantuan yang diberikan Tzu Chi Sinar Mas ini dapat bermanfaat dan membantu meringankan beban para penerima,” harap Suwardi. 

Bingkisan untuk Menyambung Hidup


Sambil memberikan bantuan, relawan juga berbincang dengan para penerima bantuan yang kebanyakan merupakan orang tua lanjut usia.

Mbah Sawinah yang sedang duduk bersantai di teras rumahnya tersenyum melihat kehadiran relawan Tzu Chi yang membawa tas biru berlogo Tzu Chi Sinar Mas yang berisi paket sembako. Relawan pun segera menghampiri dan menyerahkan sembako, Mbah Sawinah pun menerimanya dengan penuh sukacita.

Matur nuwun mpun diparingi sembako, keno go nyambung urip. Matur nuwun le (Terima kasih sudah memberikan sembako, bisa untuk menyambung hidup. Terima kasih nak),” ucap Mbah Sawinah.

Lansia 94 tahun ini tinggal seorang diri di Desa Karangsari, Cluwak, Pati. Mbah Sawinah terkenal sebagai seorang pekerja keras. Dulu, untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari ia menjadi seorang pengrajin bambu yakni membuat gedek (anyaman bambu), pengki, dan tede (tampah). Namun di usianya yang sudah lanjut sekarang, Mbah Sawinah mulai sering sakit-sakitan dan sudah tidak mampu mengerjakan pekerjaan apapun termasuk memasak. Sehingga cucunya lah yang sering mengirim makanan untuk kakeknya tersebut.

Ada pula Mbah Jamini yang juga hidup seorang diri lantaran sang suami sudah meninggal 18 tahun lalu. Wanita kelahiran tahun 1954 ini mencukupi kebutuhan sehari-harinya dengan mengumpulkan daun cengkeh kering yang sudah rontok untuk dijual. Perkilo daun cengkeh kering pun dihargai seribu rupiah. Selain itu, Mbah Jamini juga menggarap sawah milik adiknya yang tinggal di Jakarta. Jika musim cengkeh berlangsung seperti saat ini, Mbah Jamini juga memanfaatkan waktunya untuk mengais buah cengkeh yang rontok di tanah setiap ia melintas ketika ke sawah.

Mendapatkan paket sembako dari Tzu Chi Sinar Mas, ia merasa sangat bahagia. “Remen niki, matur nuwun mpun diparingi sembako (Senang ini, terima kasih sudah dikasih sembako),” ujarnya semangat. “Mugo-mugo seger waras, lancar sekabehane (semoga sehat selalu, lancar semuanya),” Mbah Jamini turut mendoakan.

Terima Kasih Terus Diperhatikan


Dengan raut wajah bahagia seorang nenek menerima bantuan dari relawan.

Sembako yang dibagikan Tzu Chi Sinar Mas juga diberikan kepada 23 anak asuh Tzu Chi di Pati selain bantuan biaya sekolah. Purwoko Ariya Setiawan yang kini hidup bersama sang tante pun merasa bahagia mendapatkan sembako. “Sembako ini sangat membantu kami untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ujar Ariya, sapaan karibnya.

Sejak ibunya meninggal, Ariya tinggal bersama tantenya yang juga seorang diri. Rumahnya pun bersebelahan. Sementara sang ayah yang telah lama merantau di luar pulau pun jarang pulang. Hadirnya Tzu Chi Sinar Mas tentu memberikan kesejukan tersendiri. Lebih-lebih sang tante, Winarsih sehari-hari hanya mendapatkan penghasilan dari menjual daun cengkeh kering seperti yang dilakukan Mbah Jamini. Saban harinya wanita 40 tahun ini mengumpulkan daun cengkeh kering yang rontok untuk memenuhi keperluan dapur. Ia juga memelihara kambing milik orang lain dengan sistem bagi hasil. Tentu adanya paket sembako dari Tzu Chi sangatlah membantu.

Nggeh sangat membantu, (hasil jual daun cengkih kering) bisa untuk kebutuhan lain,” ujar Winarsih penuh senyum.

Meski hidup penuh kesederhanaan, namun Winarsih terus memberikan dukungan semangat kepada sang keponakan agar tidak merasa rendah diri dan tetap semangat belajar. Ariya yang kini naik kelas tiga SMK pun memiliki tekad untuk menjadi orang yang sukses kelak. “Karena masa depan saya masih panjang dan saya harus memperjuangkan itu untuk mencapai kesuksesan,” tandasnya. Maka tak heran jika Ariya selalu siap jika ada yang meminta bantuannya.


Perjalanan yang terjal tak menjadi penghalang bagi relawan untuk menghantarkan bantuan.

Ariya pernah memberikan sharing pengalamannya di  dalam kegiatan penuangan celengan bambu Tzu Chi beberapa bulan lalu dengan penuh percaya diri. Ia juga pernah memberikan sambutan tuan rumah ketika ada kegiatan di wiharanya. “Semenjak saya menjadi anak asuh Tzu Chi saya merasa jadi lebih berani untuk berbicara di depan umum,” ucapnya tersipu.

Winarsih yang melihat perkembangan keponakannya pun sangat terharu. Mereka berdua juga aktif mengisi celengan bambu Tzu Chi meski kehidupannya serba pas-pasan. “Bagi saya celengan bambu (Tzu Chi) adalah sarana bagi kita untuk berbuat baik karena dengan celengan bambu ini yang nantinya akan membantu banyak orang. Makanya saya aktif dalam celengan ini,” ujar Ariya semangat.

Tek henti-hentinya Winarsih dan Ariya mengucapkan rasa terima kasihnya kepada Tzu Chi. “Terima kasih Tzu Chi selalu memberikan perhatian kepada saya,” ucap Ariya. “Matur nuwun nggeh, Bu,” kata sang tante.

Semoga sembako yang menjadi sarana silaturahmi Tzu Chi Sinar Mas dengan masyarakat kurang mampu di  Pati ini dapat mendorong semua orang untuk bersama-sama bergotong royong menjalankan misi kemanusiaan melalui program-program Tzu Chi yang telah dijalankan selama ini di Pati.

Editor : Dini Rantykasari, Hadi

Artikel dibaca sebanyak : 231 kali


Berita Terkait




Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Jika selalu mempunyai keinginan untuk belajar, maka setiap waktu dan tempat adalah kesempatan untuk mendapatkan pendidikan.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat