Sabtu, 24 Agustus 2019
Indonesia | English

Mengasah Potensi Sembari Membagikan Momen

03 Mei 2019 Jurnalis : Fanny Aprilia (Tzu Chi Surabaya)
Fotografer : Hari Tedjo, Eka Suci R (Tzu Chi Surabaya), Erli Tan


Pada hari pertama, peserta pelatihan diberikan materi oleh Tim Pengembangan ZSM dari Tzu Chi Indonesia. Erli Tan, Henry Tando dan juga Teddy Lianto memberikan materi tentang Filosofi ZSM, Pengarsipan dan juga Etika Peliputan.

“Zhen Shan Mei” (Benar, Bajik, Indah) merupakan salah satu praktik dari Misi Budaya Humanis Tzu Chi dan juga sebutan bagi relawan dokumentasi Tzu Chi. Pelatihan perdana di kota bericon Suro dan Boyo ini dibawakan langsung oleh Tim Pengembangan Relawan Zhen Shan Mei Tzu Chi Indonesia yakni Henry Tando, Erli Tan, dan Teddy Lianto. Bertempat di Ruko Mangga Dua, Kantor Tzu Chi Surabaya, pelatihan ini diselenggarakan dari tanggal 27-28 April 2019.

Di hari pertama sendiri, pelatihan lebih banyak membahas tentang materi, baik mengenai tulis menulis artikel, cara mengambil angle (sudut pandang) foto dan video yang baik serta tips dan triknya. Sedang hari kedua, peserta dibawa terjun ke lapangan untuk praktik langsung meliput kegiatan.

Salah satu peserta pelatihan Zhen Shan Mei, adalah Hafid (18). “Pengen aja untuk coba belajar, kalau sudah mahir ya bakal ikut juga mendokumentasikan kegiatan,” ungkapnya.


Yasir (baju biru) dan Hafid (baju merah) dengan seksama menyimak materi yang disampaikan oleh relawan.

Hafid dan adiknya, Yasir merupakan penerima bantuan Tzu Chi wilayah Perak. Selain penerima bantuan, mereka berdua juga merupakan Tzu Zhao saat menginjak umur 8 tahun dan adiknya 6 tahun. Selain itu mereka berdua juga aktif dalam kegiatan bakti sosial kesehatan dan pembagian sembako.

Relawan Zhen Shan Mei sendiri kerap kali disebut menjadi mata dan telinga Master Cheng Yen. Dengan mendokumentasikan jejak cinta kasih para Bodhisatwa Tzu Chi dalam menebar kebajikan, Master Cheng Yen juga ikut tahu momen penting yang dilakukan oleh Bodhisatwa dunia.

Hafid juga menambahkan, bahwa penting halnya untuk mencatat kegiatan yang terjadi sebagai bukti sejarah sehingga mendorong anak 18 tahun itu untuk mengikuti kelas menulis di pelatihan Zhen Shan Mei. “Mendengar cerita dari Ida shijie bahwa kisah Tzu Chi Surabaya begitu banyak, tetapi belum ada relawan yang mendokumentasikan sehingga ceritanya belum sampai ke Jakarta”, cerita Erli saat memulai kelas menulis.

Selain Hafid dan Yasir yang sangat antusias dengan pelatihan ini, ada Santoso yang mengajak istri dan anaknya. Meski baru saja mengikuti kegiatan di Tzu Chi tidak menyurutkan tekadnya untuk terus bersumbangsih dan bisa bermanfaat bagi sesama.


Setelah penyampaian materi, peserta dibagi menjadi 3 kelas yaitu Foto, Video dan Teks sesuai dengan peminatan. 

Zhen Shan Mei ini adalah sesuatu yang sudah biasa saya lakukan, namun di Tzu Chi ini sangat berbeda karena lebih tertata dan memiliki management yang berbeda. Di pelatihan kali ini kita tidak hanya sekedar diajak memotret, membuat video atau tulisan namun juga bagaimana bisa menginspirasi orang untuk mengikuti jejak sang guru Master Cheng Yen,” ujarnya.

Erli menjelaskan bahwa relawan Zhen Shan Mei harus selalu memasang mata, telinga, dan hati dalam setiap karyanya. Mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, dan hati untuk merasakan agar nantinya pembaca juga bisa ikut merasakan. “Ren Ren Zhen Shan Mei (Setiap orang adalah relawan Zhen Shan Mei), jadi membutuhkan relawan untuk mencatat sejarah cinta kasih bersama-sama,” Erli menambahkan.

“Semua orang bisa menulis” kalimat ini yang ditekankan pada relawan di kelas menulis. Seperti kata pepatah “ala bisa karena biasa” begitu juga dengan halnya menulis. Semakin sering kita menulis, membaca untuk memperbanyak kosa kata sehingga semakin mahir juga kita dalam halnya menulis. Erli mengaku kagum dengan antusias relawan Tzu Chi Surabaya dalam kelas menulis, karena biasanya kebanyakan orang takut untuk menulis.


Susanto yang mengajak istri serta anaknya dalam pelatihan kali ini merasa sangat terkesan dan mendapatkan banyak sekali pengetahuan baru.

Mengasah potensi dan ilmu baru tentu saja tidak akan berhenti sampai kapanpun. Pada kenyataannya ilmu bersifat non-statis (tidak tetap) sehingga semakin berjalannya waktu, tetap akan ada ilmu baru yang dapat dipelajari. Melalui kegiatan Zhen Shan Mei ada banyak hal yang kita dapatkan. Belajar mendokumentasikan sebagai mata dan telinga Master, berbekal prinsip Zhen Shan Mei yang dipegang teguh. Zhen yang artinya benar, seperti berita pada umumnya harus faktual dan aktual tentunya, Shan; kebajikan serta Mei; indah.

Dengan diadakannya pelatihan Zhen Shan Mei ini, Erli Tan menaruh harapan pada relawan Tzu Chi Surabaya. “Jangan pernah berhenti mencatat sejarah dan galilah lebih banyak harta-harta yang masih terpendam selama ini,” tuturnya.

Dalam salah satu ceramahnya, Master Cheng Yen mengungkapkan bahwa kisah, cerita, sejarah jejak cinta kasih Bodhisatwa Tzu Chi merupakan harta kekayaan. Jadi sebagai mata dan telinga Master Cheng Yen, ayo kita menebar cinta kasih kepada dunia dengan catatan sejarah.


Editor: Khusnul Khotimah

Artikel dibaca sebanyak : 226 kali


Berita Terkait




Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Jangan takut terlambat, yang seharusnya ditakuti adalah hanya diam di tempat.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat