Rabu, 13 November 2019
Indonesia | English

Mengenalkan Mengasihi dan Menghargai Kehidupan Sejak Dini

26 Juni 2019 Jurnalis : Rosy Velly Salim (He Qi Pusat)
Fotografer : Susi Christine (He Qi Pusat)


Murid Qin Zi Ban sedang mengikuti sesi games don’t judje me by my cover dalam kelas budi pekerti yang diadakan pada Minggu, 16 Juni 2019.

Setelah masa liburan anak sekolah berakhir, kelas budi pekerti He Qi Pusat kembali diadakan pada Minggu, 16 Juni 2019 mengangkat tema “Saling Mengasihi, Welas Asih, Menghargai Kehidupan.” Tema ini bertujuan untuk menumbuhkan kepedulian, membangkitkan cinta kasih anak didik agar dapat bersumbangsih menebarkan kebaikan dan bersosialisasi membina hubungan harmonis tengah masyarakat.

Pukul 07.30 WIB sudah terlihat sebanyak 25 orang murid Qin Zi Ban besar, 23 orang murid Tzu Shao Ban, 14 orang tua murid yang hadir dalam rangka kelas bimbingan budi pekerti yang berlangsung di ITC Mangga Dua lantai 6 Jakarta. Kelas dimulai pada pukul 8 pagi berlangsung hingga 12.20 siang.

Minggu tersebut merupakan pertemuan ke-4 untuk kelas bimbingan budi pekerti. Kelas kemudian dibagi menjadi 3 kelas yakni kelas Qin Zi Ban besar di ruang utama, kelas Tzu Shao Ban di ruang Sinar Mas, kelas parenting bagi orang tua murid di ruang depan.


Alvin Steven sedang mengikuti belajar mandarin dengan Kata Perenungan Master Cheng Yen.

Materi pengajaran diberikan dengan permainan, menyaksikan tayangan kisah inspirasi, sesi sharing, belajar bahasa Mandarin dengan kata perenungan, dan penerapan.

Murid Qin Zi Ban besar melakukan permainan yang berjudul don’t judge me by my cover. Menggunakan buku-buku pengetahuan, para murid diharuskan berdiskusi dan memberikan nilai dengan pemberian bintang dari satu sampai lima bintang di halaman depan di tiap buku. Permainan ini untuk melihat kecenderungan masing-masing anak didik dalam memberikan penilaian. Rata-rata anak didik memilih dan menilai berdasarkan gambar kemasan yang menarik dari buku.

Kelas budi pekerti pun dilanjutkan dengan menyaksikan tayangan Xiao Li Zi berjudul “Beri Kesempatan dalam Menilai Orang Lain” dan cerita dongeng berjudul merak yang sombong. Mengajarkan agar dalam berhubungan dengan orang lain, agar tidak terburu-buru memberikan penilaian hanya dari luarnya saja dan memberi kesempatan untuk memahami dan mengamati orang lain dengan melihat kelebihan dan kemampuan yang dimiliki orang tersebut. Belajar menghargai perbedaan dan tetap menciptakan jalinan persahabatan yang menyenangkan.

Kata perenungan Master Cheng Yen yang diberikan dalam kelas Qin Zi Ban, “Orang bijak menyukai kelebihan orang lain, orang tidak bijak mencari kekurangan orang lain.”


Khema sedang menuliskan kata perenungan yang berbunyi orang bijak menyukai kelebihan orang lain, orang tidak bijak mencari kekurangan orang lain.

Khema (11), murid Qin Zi Ban grup Shan Jie 1 terlihat sepenuh hati menyerap materi pembelajaran di kelas budi pekerti. Ia dapat menceritakan dengan jelas dan rinci apa saja yang telah diikutinya pada Minggu tersebut. Aktivitas kesehariannya yang padat selain mengikuti sekolah, les biola dan piano tidak menyurutkan anak pertama dari dua bersaudara dari Alexander menyatakan rasa syukurnya dapat mengikuti kelas ini.

“Senang dapat mengikuti kelas ini, dapat ketemu teman baru dan bergaul. Diajarkan sopan santun dan jadi tahu tata cara makan yang rapi,” ujarnya.

Ia turut membagikan pengalamannya ketika bergaul, “Saya ada lihat teman kelihatannya baik tetapi ketika didekati ia malah menjauh. Tadi belajar, kita jangan menilai orang dari luarnya dan harus mengenalnya lebih mendalam, melihat kelebihan orang lain jangan melihat kekurangan orang lain.”

Senada, bagi Alvin Steven (11), “Belajar menghargai orang melihat kebaikan orang lain. Jangan menilai dari luar. Dulu jahil sekarang sudah tidak, karena sudah tahu tidak boleh dilakukan tidak baik.”


Ananda sedang mengikuti sesi sharing setelah mengikuti materi games dan tayangan kisah inspiratif.

Sementara itu di kelas Tzu Shao Ban menyaksikan tayangan kisah inspiratif dari Chen Luo Shao yang mengisahkan meskipun diusianya yang tergolong masih muda tetapi panggilan jiwa mendorongnya terlibat ikut dalam bantuan bencana, baksos, kunjungan kasih dan pelayanan di panti asuhan Haiti dengan ketulusan, welas asih nyata membimbing, dan menebarkan kebaikan.

Pengajaran berlanjut dengan permainan menyusun puzzle yang dinamakan kartu keinginan, dan dari potongan yang telah tersusun lengkap dan masih ada lebih maka dibagikan ke tim yang lain. Melalui permainan ini diajarkan untuk dapat bekerjasama dalam kelompok dan membagi kepedulian untuk yang lainnya.

Bagi Ananda (11) murid Tzu Shao Ban, selama mengikuti kelas bimbingan budi pekerti mengalami perubahan dalam dirinya. “Saya merasa sikap berubah menjadi lebih baik, dulu saya suka marah-marah sekarang tidak. Sekarang mau bantu orang tua, disuruh rapihkan kasur, selimut saya rapihkan. Saya lakukan ini sebagai kebaikan. Saya juga mau membantu anak-anak yang miskin, contohnya Tzu Chi yang telah membantu semua negara,” ujar Ananda.


Yohan (baju lengan bergaris) sedang mengikuti sesi parenting yang ditujukan bagi orang tua murid.

Kelas Tzu Shao mempelajari bahasa Mandarin dari kata perenungan yang berbunyi Zuò hǎo shì zǒng shì yào téng chū shí jiān, zhè shì rén shēng de mùdì, yě shì yīng jìn de yì wù (Perlu menyisihkan waktu untuk kebajikan, ini merupakan tujuan hidup manusia dan juga kewajiban).

Dalam kelas parenting memberikan pengenalan mengenai filosofi dan tata cara Waisak Tzu Chi dari tayangan yang dibawakan oleh Eric Velly Salim. Dilanjutkan dengan sesi sharing “Mendengar Suara Hati Anak” yang dibawakan oleh Ali. Kelas diikuti oleh para orang tua murid yang hadir, di antaranya Yohan (59), ayah dari Yuan Paul Poniman.

“Sekarang sekolah umum pendidikan dari segi pembinaan karakter dan moral kurang. Makanya, kebetulan ada di kelas ini maka saya daftarkan anak saya. Bagus juga sharing seperti ini, hanya belum mendalam mungkin karena kita belum saling kenal dekat. Saya berharap anak mempunyai teman diluar sekolah, teman bermain. Mereka bisa akrab dengan yang lainnya. Bisa melibatkan anak dalam praktik di lapangan untuk latih tanggung jawab jadi bisa rasakan kehidupan,” kata Yohan. “Jika para relawan ada perlu minta tolong tidak perlu segan-segan, saya punya prinsip kita bersama-sama begitu pula dengan anak-anak,” sambungnya.

Editor: yuliati

Artikel dibaca sebanyak : 389 kali


Berita Terkait


Menyucikan Hati dengan Pendidikan Moral

23 April 2019


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Luangkan sedikit ruang bagi diri sendiri dan orang lain, jangan selalu bersikukuh pada pendapat diri sendiri.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat