Rabu, 23 Oktober 2019
Indonesia | English

Menggengam Setiap Kesempatan untuk Belajar

24 April 2018 Jurnalis : Arimami Suryo A
Fotografer : Arimami Suryo A


Kebahagiaan Agatta Meralda Stevanya Montolalu bersama ibunya Anni Pankey saat menerima kunjungan rombongan relawan Tzu Chi dari Binjai, Sumatera Utara.

Hujan yang turun pada Senin pagi, 23 April 2018 mengantarkan 12 relawan Tzu Chi dari Kota Binjai, Sumatera Utara untuk melakukan kunjungan kasih ke rumah para Gan En Hu (penerima bantuan Tzu Chi) di wilayah Tanjung Priok, Jakarta Utara. Kedatangan rombongan ini ditemani oleh relawan Tzu Chi komunitas He Qi Timur.

Awalnya para relawan Tzu Chi dari Binjai datang untuk mengikuti kegiatan Pekan Amal Tzu Chi 2018. Karena sudah berada di Jakarta, mereka pun memanfaatkan kesempatan untuk belajar menjalankan misi-misi Tzu Chi bersama relawan-relawan Tzu Chi di Jakarta.

“Mereka (relawan dari Binjai) kami ajak ke daerah Tanjung Priok, Jakarta Utara untuk mengunjungi pasien kasus serta membimbing mereka berlajar bagaimana memberikan pendampingan kepada para pasien kasus,” kata Wie Sioeng, Wakil Ketua relawan Tzu Chi komunitas He Qi Timur yang mendampingi rombongan.


Kondisi cuaca yang hujan tidak menghalangi semangat relawan Tzu Chi untuk mengunjungi rumah para penerima bantuan Tzu Chi di Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Dalam kesempatan itu, rombongan relawan Tzu Chi dari Binjai juga mendapatkan pemahaman bahwa dalam misi amal, Tzu Chi bukan hanya memberi materi semata tetapi hal-hal lain juga merupakan poin penting untuk para penerima bantuan. “Bukan hanya materi, yang terpenting itu memberikan pendampingan kepada pasien dan keluarganya. Sehingga membangkitkan spirit kehidupan mereka,” tambah Wie Sioeng.

Walaupun hujan yang turun tidak kunjung reda, semangat relawan untuk menuju rumah penerima bantuan cukup deras. Satu persatu langkah mereka kemudian menuju Jl. Enggano, Tanjung Priok. Di sana mereka menghampiri kediaman Agatta Meralda Stevanya Montolalu.

Gadis yang akrab disapa Agatta oleh relawan Tzu Chi ini sebelumnya mengalami kecelakaan yang mengakibatkan kelumpuhan dari pinggang ke bawah. Relawan Tzu Chi memberikan bantuan berupa ranjang yang bisa dipakai untuk menopang badannya untuk beraktivitas serta pendampingan untuk menyemangati Agatta dan keluarganya.


Percakapan Aminah dengan Agatta disela-sela kunjungan relawan Tzu Chi dari Binjai, Sumatera Utara.

Setelah mengucap salam, rombongan relawan langsung menemui Agatta yang sedang duduk di ranjang ditemani ibunya. “Seneng banget, begitu banyak orang yang peduli dan ngasih perhatian. Banyak orang yang deket sama Vanya (panggilan Agatta di rumah) belum tentu seperti ini,” kata Agatta di sela-sela kedatangan relawan Tzu Chi. Setelah diperkenalkan dan memberitahu maksud kedatangan, rombongan relawan Tzu Chi berinteraksi dengan Agatta.

Salah satu relawan Tzu Chi dari Binjai yang langsung akrab dengan Agatta adalah Aminah. Ia pun berbagi tentang kondisi salah satu saudaranya yang memiliki keadaan yang hampir sama dengan apa yang dialami oleh Agatta. “Banyak sekali belajar dari kunjungan ini, yang ingin dibagi kepada teman-teman setelah pulang ke Binjai supaya lebih bersemangat dalam menjalankan misi Tzu Chi,” ungkap wanita yang suka membaca Kata Perenungan Master Cheng Yen tersebut.

Agatta bersama ibunya pun berbagi pengalaman dengan para relawan Tzu Chi dari Binjai tentang bagaimana mereka menghadapi kenyataan yang mengubah kehidupan mereka. Tetapi setelah diberikan pendampingan oleh para relawan Tzu Chi, secara bertahap kondisi Agatta secara mental pun berangsur-angsur membaik. “Karena banyak tahu dari Tzu Chi bahwa bukan hanya Vanya saja yang berada dalam posisi seperti ini, dengan keterbatasan mereka banyak yang berhasil. Jadi yang awalnya saya pikir nggak bisa ternyata mereka bisa, itulah yang membuat saya semangat kuliah lagi,” cerita Agatta yang saat ini sudah menjalani kuliahnya lagi di salah satu universitas swasta di Jakarta.


Law Kim Hong, salah satu relawan Tzu Chi dari Binjai sedang bercanda tawa dengan Opa James yang sedang menemani istrinya.

Di sisi lain, ranjang yang diberikan relawan Tzu Chi pun membuat Agatta sudah bisa bergerak leluasa dibandingkan sebelumnya. “Awalnya menggunakan dipan, tapi badannya tidak bisa miring kiri ataupun kanan, tapi semenjak ada ranjang ini bisa beraktivitas, otot-otot tangan juga bisa bergerak,” kata Agatta. Walaupun harus mengubur impiannya yang dulu, keadaan Agatta yang sekarang ternyata menumbuhkan tunas impian yang baru. “Impian dulu dengan sekarang sudah beda ya. Kalau sekarang lebih ingin menjadi motivator. Karena banyak yang seperti Vanya dan butuh diberi semangat. Awal kuliah lagi itu malu liat teman-teman semuanya, tetapi teman-teman menyambut Vanya dengan baik. Jadi jangan merasa sendiri, selalu ingat Tuhan dan berdoa,” tambahnya.

Selesai bercengkrama dengan Agatta, perjalanan rombongan relawan Tzu Chi dari Binjai pun dilanjutkan menuju kediaman opa James J. Sompit yang tinggal bersama istrinya Tinggogoy di Jl. Ganggeng Terusan, Tanjung Priok.

Opa James tinggal di sebuah rumah kontrakan bersama istrinya yang menderita stroke selama bertahun-tahun. Dua pasangan lansia ini diberikan tunjangan biaya hidup setiap bulannya oleh Tzu Chi.


Setelah kunjungan kasih selesai, para relawan Tzu Chi dari Binjai mendapat materi tentang pelaksanaan misi amal Tzu Chi di gedung Gan En, Tzu Chi Center, PIK, Jakarta Utara.

“Saya merasa sangat bahagia mendapatkan bantuan biaya hidup dari Tzu Chi,” ungkap opa James saat berbicara dengan salah satu relawan Tzu Chi. Begitupun dengan relawan yang hadir mengunjungi pasangan yang masih terlihat kompak di usia senja ini. Seperti yang dirasakan Law Kim Hong, relawan asal Binjai yang kebetulan banyak berbicara dengan opa James. “Rasanya sangat terharu, belajar sangat banyak di Jakarta. Kami banyak belajar tentang misi amal Tzu Chi. Terutama pada penerima bantuan yang pertama (Agatta), semoga dapat menginspirasi orang-orang lainya. Dan untuk opa James bersama istrinya bisa memiliki jodoh yang baik sampai akhir hayatnya,” tutup wanita yang berjodoh dengan Tzu Chi setelah terinspirasi dari tayangan DAAI TV tersebut.

Setelah kunjungan berakhir, rombongan relawan Tzu Chi dari Binjai diajak kembali ke Tzu Chi Center di PIK, Jakarta Utara. Dalam kesempatan yang sama, Wie Sioeng juga memberikan materi tentang pelaksanaan misi amal Tzu Chi ditemani beberapa staf dari Divisi Bakti Amal Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia.

Editor: Metta Wulandari

Artikel dibaca sebanyak : 996 kali


Berita Terkait


Berjuang Bangkit Kembali

16 Oktober 2019

Merasa Masih Ada yang Memperhatikan, Masih Ada Yang Peduli

09 Oktober 2019

Bersumbangsih Bersama dan Berbagi Keceriaan

27 Agustus 2019

Menyatukan Keping-Keping Kehidupan

12 Agustus 2019

Belajar, Berbagi dan Bergembira Bersama

07 Agustus 2019


1 komentar


redaksi On Tuesday, 24 April 2018, 16:44:01 wrote:

Semangat terus Agatha...



Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Jangan takut terlambat, yang seharusnya ditakuti adalah hanya diam di tempat.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat