Minggu, 28 Mei 2017

Mengingat Budi Luhur Buddha, Orangtua Dan Semua Makhluk

18 Mei 2017 Jurnalis : Meiliana (Tzu Chi Pekanbaru)
Fotografer : Tommy, Aseng, Awaluddin (TC Sinarmas)


Suasana prosesi pemandian Rupang Buddha yang diadakan Tzu Chi Pekanbaru pada  Minggu, 14 Mei 2017 di Lapangan Sekolah Dharma Loka.

Setiap tahun di Minggu kedua pada bulan Mei, insan Tzu Chi di seluruh dunia, termasuk di Pekanbaru mengadakan peringatan Hari Waisak, Hari Ibu Internasional dan Hari Tzu Chi Sedunia. Memanfaatkan lapangan terbuka di Sekolah Dharma Loka, acara dimulai dari pukul 18.00 WIB hingga 21.00 WIB.

Jika tahun lalu peringatan Waisak Tzu Chi membentuk formasi bertuliskan “TC 50” sebagai simbolis Tzu Chi yang telah berusia setengah abad, tahun ini Tzu Chi Pekanbaru mengambil tema dari makna daun bodhi. Dengan formasi berlambang dua lembar daun bodhi yang dibentuk oleh 490 peserta formasi, melambangkan kesadaran dan kebijaksanaan agung Buddha. 490 insan mewakili Bodhisatwa Avalokitesvara seribu mata dan seribu tangan yang selalu hadir ketika ada makhluk yang menderita.

Acara Waisak tahun ini diikuti sekitar 1200 peserta dari berbagai lapisan antara lain anggota Sangha, pemuka agama dan tokoh masyarakat, peserta formasi, relawan Tzu Chi dan masyarakat umum.


Acara Waisak juga turut diperagung oleh dua anggota Sangha dan 58 pemuka agama dan tokoh masyarakat.


Kristin Liaw saat mencuci kaki sang ibu.

Salah satu peserta formasi daun bodhi adalah Kristin Liaw. Peringatan Waisak mengingatkan dirinya akan budi luhur Buddha, orangtua dan semua makhluk. Setelah memahami makna Waisak dan mengikuti prosesi pemandian Rupang Buddha, membuka pintu hati Kristin untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Ia pun tidak melepaskan kesempatan untuk mencuci kaki sang ibu. Walaupun awalnya merasa malu, namun akhirnya Kristin tak kuasa menahan air mata. Air mata penyesalan atas kesalahan-kesalahan yang selama ini Ia perbuat.

“Dulu saya sering melawan mama. Sekarang saya mau kurangi bicara kasar sama mama, tidak mau lawan mama lagi, mau berbakti sama mama. Biasanya paling suka berantem sama mama. Tapi sekarang mau kurangi. Ini adalah pertama kalinya saya mencuci kaki mama. Dan saya merasa lega bisa melakukannya” ungkap Kristin.


Tahun ini Tzu Chi Pekanbaru mengambil tema dari makna daun bodhi. Formasi berlambang dua lembar daun bodhi dibentuk oleh 490 peserta formasi.

Ibunda Kristin pun merasa sangat terharu dengan niat baik putrinya tersebut. “Kalau pulang dari sini (Tzu Chi) bisa peluk orangtuanya, peluk neneknya, mau minta maaf. Dia jadi lebih menghormati orangtua, menyayangi adik-adik, penurut,” ujar Ibunda Kristin.

Ibu dan anak ini pun membangun tekad baik yaitu akan selalu mengikuti kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Tzu Chi. Ini karena Tzu Chi bagaikan jalan bodhisatwa dunia yang telah membawa kedamaian dan ketentraman bagi keluarga kecil mereka.

Editor: Khusnul Khotimah

Artikel dibaca sebanyak : 372 kali


Berita Terkait


Memudahkan Opa Oma Merayakan Waisak

24 Mei 2017

Sebuah Pengharapan di Hari Waisak

22 Mei 2017

Keharuan Saat Merayakan Hari Ibu Sedunia

22 Mei 2017

Waisak 2017: Mengingat Budi Luhur Buddha, Orang Tua, dan Semua Makhluk

22 Mei 2017

Waisak 2017: Menghayati Warisan Buddha

18 Mei 2017


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Security Code
Orang yang berjiwa besar akan merasakan luasnya dunia dan ia dapat diterima oleh siapa saja!

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat