Rabu, 21 Agustus 2019
Indonesia | English

Menginspirasi Para Siswa Melalui Lomba Budaya Humanis

05 April 2019 Jurnalis : Moses Silitonga (Tzu Chi Sinar Mas)
Fotografer : Moses Silitonga, Randhy Putra, Sandhy, Thoat (Tzu Chi Sinar Mas)


Mawanah, Juara 1 lomba bercerita pada saat tampil dalam perlombaan Budaya Humanis yang diadakan pada 26 Maret 2019.

Antusiasme para siswa dan para relawan dalam Lomba Budaya Humanis menginspirasi lebih banyak lagi hati. Setelah pada tahun 2018 Lomba Budaya Humanis dilaksanakan untuk pertama kalinya di Xie Li Semitau, pada tahun 2019 perlombaan tersebut kembali dilaksanakan di sekitar wilayah komunitas relawan lainnya, seperti Xie Li Kalimantan Selatan 1 dan Xie Li Kalimantan Selatan 2.


Antusiasme para siswa terlihat juga dari kostum yang mereka kenakan pada saat lomba menari daerah.

Misi pendidikan Tzu Chi adalah sebuah misi untuk membentuk manusia seutuhnya. Tidak hanya sekadar mengajarkan ilmu pengetahuan dan keterampilan, namun juga fokus pada penanaman nilai-nilai budi pekerti dan kemanusiaan. Maka, untuk menanamkan hal-hal tersebut para relawan Tzu Chi Perwakilan Sinar Mas melaksanakan pembinaan budaya humanis ke berbagai sekolah di sekitar area Perkebunan Sinar Mas hingga mengadakan perlombaan untuk memacu pemahaman para siswa atas nilai-nilai budaya humanis Tzu Chi.


Selain dilaksanakan di Club House, perlombaan juga diadakan di Batu Ampar Training Center meliputi lomba menggambar, lomba mewarnai, lomba cepat tepat, dan lomba drama.

Pada tanggal 26 Maret 2019 kegiatan Lomba Budaya Humanis dilaksanakan di Batu Ampar, Kalimantan Selatan. Para relawan dari Xie Li Kalimantan Selatan 1 dan Xie Li Kalimantan Selatan 2 bahu membahu melaksanakan kegiatan perlombaan. Setelah sebelumnya dilaksanakan pembinaan budaya humanis ke sekolah-sekolah oleh para relawan dan para guru Sekolah Eka Tjipta, pada hari itu para siswa peserta perlombaan berkumpul untuk menampilkan serta mengekspresikan pemahaman mereka akan nilai-nilai budaya humanis yang telah mereka peroleh pada saat pembinaan.


Maria Fintje (tengah), relawan Komite Tzu Chi menjadi juri dalam perlombaan Lomba Cepat Tepat 108 Kata Perenungan Master Cheng Yen.

“Partisipasi dari para relawan, relawan Dharma Wanita, guru-guru hingga siswa-siswi sangat luar biasa. Penampilan para siswa sangat mengejutkan dan membanggakan sekali. Semoga juga nilai-nilai budaya humanis yang mereka terima dapat diimplementasikan dalam kehidupan mereka,” ujar Nur Hamid, relawan Tzu Chi Perwakilan Sinar Mas yang juga merupakan Kordinator Sekolah Eka Tjipta wilayah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur.

Dimulai pada pukul 08.30 WITA, sebanyak 190 orang relawan bahu membahu melaksanakan kegiatan perlombaan hingga sekitar pukul 16.00 WITA. Dua orang relawan Komite Tzu Chi dari Jakarta juga turut serta menjadi juri, yaitu Maria Fintje dan Hong Tjhin yang juga merupakan pembina Tzu Chi Perwakilan Sinar Mas.


Relawan dan para juri sedang melihat dan menilai hasil karya para peserta Lomba Menggambar dan Lomba Mewarnai.

Sebanyak 114 siswa dari 4 Sekolah Eka Tjipta di wilayah Kalimantan Selatan terlibat dalam perlombaan ini. Para siswa tersebut berasal dari SD Eka Tjipta Cantung, SD Eka Tjipta Sinar Kencana, SD Eka Tjipta Bukit Kapur, dan SD Eka Tjipta Sawita. Dengan penuh semangat para siswa mengikuti berbagai kategori yang dilombakan yaitu lomba mewarnai, lomba menggambar, lomba cepat tepat 108 Kata Perenungan Master Cheng Yen, lomba drama, lomba bercerita, serta lomba tari daerah.

Tak jarang, raut wajah para siswa juga menyiratkan ketegangan yang mereka rasakan. Suasana perlombaan yang ramai memberikan pengalaman tersendiri bagi para peserta. Rasa bahagia dapat mengikuti perlombaan, rasa khawatir akan penampilan mereka, hingga rasa haru atas apresiasi yang mereka peroleh pada saat nama-nama para juara diumumkan bercampur aduk.


Salah satu kelompok drama sedang menampilkan sebuah drama yang menceritakan tentang seorang anak yang tidak menghormati orang tuanya.

Mawanah, siswa kelas 5 dari SD Eka Tjipta Sawita adalah juara 1 lomba bercerita. Walaupun dirinya memenangkan perlombaan, ia juga mengalami perasaan gugup sewaktu tampil. “Pada saat bercerita tadi saya gugup, tapi karena semangat dari teman-teman dan guru saya kembali percaya diri,” kisahnya.

Selain merasa terharu dan bahagia atas prestasi yang ia peroleh, dirinya juga merasa sedih karena nama salah seorang temannya tidak keluar menjadi juara. “Tadi saya nangis juga melihat teman saya. Saya sedih dia tidak menang, padahal dia juga rajin berlatih,” ungkapnya.


Para siswa mengabadikan foto bersama dengan para juri dan para guru Sekolah Eka Tjipta.

Selain merupakan sebuah perlombaan, Lomba Budaya Humanis ini diharapkan dapat menjadi wadah bagi para siswa dalam menerapkan nilai-nilai humanis. Selain berkompetisi, mereka juga dituntun untuk menjadi pribadi yang lebih peduli akan sesama. Kelak, semangat cinta kasih yang ditanamkan dalam diri mereka kiranya membawa kebaikan kepada sesama manusia dan lingkungannya.

“Lomba Budaya Humanis kami harapkan memberikan dampak positif kepada anak-anak ini. Selain itu juga kepada keluarganya, menghormati orang tua dan guru, orang di sekitarnya, hingga memiliki kepedulian terhadap pelestarian lingkungan,” ujar Suryanto Bun, relawan Pembina Tzu Chi Perwakilan Sinar Mas Wilayah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur.


Editor: Yuliati

Artikel dibaca sebanyak : 619 kali


Berita Terkait


Benih-benih Cinta Kasih di Lomba Budaya Humanis

09 Mei 2019

Semangat Cinta Kasih di Lomba Budaya Humanis

12 April 2019

Menanamkan Kebaikan Melalui Lomba Budaya Humanis

25 Juli 2018


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Hadiah paling berharga di dunia yang fana ini adalah memaafkan.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat