Jumat, 23 Februari 2018
Indonesia | English

Menilik Perkembangan si Bocah Banaran

12 Februari 2018 Jurnalis : Yuliati
Fotografer : Yuliati

doc tzu chi indonesia

Indah Wulan Purnamasari menjalani pemeriksaan di MEDEL Jakarta untuk melihat sejauh mana kondisi pendengarannya setelah menggunakan alat implan. Marsha Vionna, Clinical Support MEDEL dengan sepenuh hati mendampingi pemeriksaan ini.

Sebelum kembali ke kampung halaman, Banaran Kab. Semarang, Indah Wulan Purnamasari (3) menjalani terapi terakhir di Rumah Siput Indonesia (RSI) Foundation yang berlokasi di Lebak Bulus, Cilandak Jakarta Selatan (9/2/2018). Sebelum menuju lokasi terapi, Indah terlebih dulu menjalani pemeriksaan Aided FFT (Free Field Test) di MEDEL, Ragunan Jakarta Selatan.

Pemeriksaan FFT yang dijalani Indah selama lebih kurang satu jam ini bertujuan untuk melihat sejauh mana kondisi pendengaran anak setelah menggunakan alat implan.

“Tadi kita sudah melakukan evaluasi pendengaran dan memang pendengarannya sudah di area percakapan, artinya apa yang didengar Indah hampir seperti kita, berbicara normal seperti ini dia sudah mulai mendengar,” ujar Marsha Vionna, Clinical Support MEDEL usai memeriksa Indah.

Kondisi pendengaran Indah memang berada pada level 100 desibel, namun setelah implan koklea dan melakukan pemerikasaan kini sudah jauh berkurang. “Tadi sudah berada di 40 desibel,” ucap Marsha tersenyum. Meski pendengaran normalnya berada pada posisi 30 desibel namun perubahan yang dialami Indah pun cukup besar. Indah harus melakukan pemeriksaan evaluasi kembali satu bulan mendatang. “Nanti dilakukan evaluasi FFT lagi, kalau sudah di 30 desibel pengaturannya nggak usah terlalu sering,” ujar Marsha.

doc tzu chi indonesia

Bersama orang tua, relawan Tzu Chi, dan relawan Dana Everyday, Indah memasuki ruangan MEDEL untuk melakukan pemeriksaan pada Jumat, 9 Februari 2018.

doc tzu chi indonesia

Pose Indah setibanya di Rumah Siput Indonesia (RSI) Foundation Lebak Bulu Jakarta untuk menjalani terapi wicara.

Andi Iskandar, Pimpinan MEDEL Indonesia mengaku senang dengan perkembangan Indah pascaimplan koklea. “Kita punya filosofi memberikan pendengaran secara maksimal untuk pengguna kami sesuai dengan kebutuhannya bisa kembali seperti semula,” ujar Andi, “salah satu kelebihan alat kami punya panjang 31,5 mm, dengan panjang tersebut kita bisa memaksimalkan pendengaran yang Indah miliki.”

Melatih Wicara Indah

Terhitung sepuluh kali Indah menjalani terapi di Rumah Siput Indonesia (RSI) Foundation tiap minggunya. Lebih kurang satu jam, Indah didampingi terapis untuk melatih wicaranya dengan media peraga berupa mainan bahan dan alat memasak, mewarnai gambar, boneka, dan lain-lain. Selama sepuluh kali terapi ini memang belum banyak kata yang bisa diucapkan Indah.

“Dipasang implan itu ibarat bayi baru lahir, dan sepuluh kali pertemuan berarti ibarat bayi berusia 2,5 bulan,” ujar Eka K. Hikmat, Program Manager RSI Foundation.

Meski belum banyak kata yang terucap, sebetulnya sudah banyak perubahan dan perkembangan yang dialami Indah. Sebelum menjalani operasi implan koklea, Indah memang sering sekali memukul mamanya jika tidak ada yang memahami keinginannya melalui gestur yang dilakukannya, bahkan kebiasaan memukul sang mama pun masih terbawa pada saat awal-awal terapi.

doc tzu chi indonesia

Eka K. Hikmat, Program Manager RSI Foundation (jilbab) berpesan agar orang tua juga aktif mengajak Indah ngobrol 2.000 kata setiap jamnya.

doc tzu chi indonesia

Mega Noer Cahyani memberikan terapi kepada Indah lebih kurang satu jam dengan menggunakan bermacam-macam media peraga.

“Setelah 10 kali terapi ini selain rentang konsentrasinya bertambah, dia dari pukul-pukulnya nggak lihat selama sesi, dia juga sabar,” ucap Mega Noer Cahyani usai memberikan terapi Indah.

Mega mengaku dalam memberikan terapi kepada Indah dengan mengajarkan dari dasar karena sebelumnya Indah memang tidak mengenal bunyi. “Dulu (Indah) manggil orang tepuk-tepuk, sekarang vokalisasi,” ucap Mega. Sejauh ini Indah juga belum paham tentang kata, ia baru bisa mulai meniru jumlah suku kata.

“Kita bilang sepatu vokalisasi tiga ketukan, rok satu ketukan. Artinya dia sudah bisa membedakan jumlah suku katanya tapi belum bisa mengulangi huruf hidupnya,” ungkap sang terapis.

“Keluarga juga mempraktikkan apa yang sudah didapat di terapi. Setiap jam 2.000 kata, alat harus dipasang terus kecuali saat mandi dan tidur,” timpal Eka K. Hikmat.

Program Manager RSI Foundation ini juga berpesan orang tua bahwa apa yang diobrolkan dan apa yang dilakukan dengan Indah berkali-kali disebutkan agar lama-lama anak menjadi paham. “Mesti banyak ngobrol dengan anak, harus diperlakukan seperti bayi ajak ngobrol terus. Walaupun berkalimat-kalimat tetap ada satu kata yang ditonjolkan kata target,” ucapnya tersenyum.

Editor: Metta Wulandari
Mega Noer Cahyani memberikan terapi kepada Indah lebih kurang satu jam dengan menggunakan bermacam-macam media peraga.

Artikel dibaca sebanyak : 362 kali


Berita Terkait




Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Security Code
Tak perlu khawatir bila kita belum memperoleh kemajuan, yang perlu dikhawatirkan adalah bila kita tidak pernah melangkah untuk meraihnya.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat