Rabu, 19 September 2018
Indonesia | English

Merajut Silaturahmi dengan Keluarga Nahdlatul 'Ulama

09 Maret 2018 Jurnalis : Anand Yahya
Fotografer : Anand Yahya


Hong Tjhin CEO DAAI TV sedang menjelaskan makna relief yang berada di ruang Ci Bei da Ting tentang perjalanan hidup manusia dan kegiatan misi Tzu Chi di Indonesia di lantai 1 gedung Aula Jing Si, Tzu Chi Center. 

CEO DAAI TV Hong Tjhin bersama relawan Tzu Chi menyambut hangat kedatangan Prof. Dr. KH. Said Aqil Sirodj, Ketua Umum PBNU di Tzu Chi Center, 8 Maret 2018. Kedatangan mereka kali ini memang khusus untuk bersilaturahmi dan saling mengenal lebih dalam khususnya dalam bidang amal dan kemanusiaan.

Nahdlatul Ulama (NU) adalah organisasi sosial keagamaan terbesar di Indonesia yang didirikan pada tanggal 31 Januari 1926 oleh K.H. Hasyim Asy’ari beserta para tokoh ulama tradisional dan usahawan di Jawa Timur. Masyarakat umat pendukung NU sangat beragam, ada dari kalangan ulama, intelektual, birokrasi, politisi, professional, seniman, budayawan, petani, buruh, nelayan, juga pengusaha kecil yang sebagian besar ada di daerah pedesaan.

Ketika silaturahmi, Prof Dr KH Said Aqil Sirodj (sehari-hari dipanggil Kiai) beserta rombongan terlebih dahulu diajak untuk mengenal Tzu Chi lebih jauh dengan berkeliling Aula Jing Si. Beliau sangat terkesan dengan beberapa kata perenungan yang selalu ada pada setiap ruangan gedung Aula Jing si. Seperti ketika mulai memasuki lobby Ci Bei da Ting, Kiai langsung mengamati sisi kiri dinding yang bertulisankan Bersatu Hati, Harmonis, Saling Mengasihi, Gotong Royong sambil tersenyum.


Hong Tjhin menjelaskan poster besar kepada Kiai tentang seorang Bhiksuni, Master Cheng Yen dan gurunya, Master Yin Shun yang mempunyai tekad yang kuat untuk membantu manusia yang membutuhkan pertolongan.


Kali Angke menjadi perhatian Kiai karena adanya diorama kali Angke yang kotor.

Masih dalam satu ruangan melangkah ke depan, Hong Tjhin menjelaskan makna relief yang mengisahkan tentang perjalanan hidup manusia dan kegiatan misi Tzu Chi di Indonesia. Selanjutnya Kiai beserta rombongan diajak masuk mengunjungi Exhibition Hall, ruang pameran poster sejarah Tzu Chi di Indonesia dan Taiwan.

Memasuki ruangan Exhibition Hall sudah terlihat Griya Jing Si di Hualien yang pada sisi kirinya terdapat poster pendiri Yayasan Buddha Tzu Chi Master Cheng Yen bersama Master Yin Shun, gurunya. Hong Tjhin menjelaskan kepada Kiai beserta rombongan bahwa Tzu Chi terbentuk oleh tekad kuat seorang Bhiksuni, Master Cheng Yen dan gurunya Master Yin Shun yang tinggal di Hualien, Taiwan untuk membantu manusia yang membutuhkan pertolongan.

Masuk lebih ke dalam lagi Kiai terpana dengan diorama kali angke yang kotor, lagi-lagi Kiai mengamati sebuah tulisan kata perenungan Master Cheng Yen. Di sana Hong Tjhin menjelaskan bagaimana Yayasan Buddha Tzu Chi menolong warga kali angke yang terkena musibah banjir besar di tahun 2002. Tzu Chi membantu memindahkan warga kali angke dengan budaya humanis dan membimbing mereka menjadi lebih baik.

Di sela-sela penjelasan tentang Kali Angke, Sugianto Kusuma Wakil Ketua Tzu Chi Indonesia datang menghampiri Kiai dengan gembira. “Apa kabar Pak Kiai, sehat-sehat yaaa,” sapa Sugianto Kusuma dengan hangat. Selain itu Sugianto Kusuma juga mengenalkan relawan komite lainnya yang sudah bersumbangsih untuk Tzu Chi Indonesia, ada Eka Tjandranegara, Pui Sudarto, Lukman Samsuddin, dan beberapa relawan komite lainnya. 


Sugianto Kusuma, Wakil Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia menerima kunjungan Prof. Dr. KH. Said Aqil Sirodj, Ketua Umum PBNU dengan penuh kehangatan.


Sugianto Kusuma bersama Prof. Dr. KH. Said Aqil Sirodj berada di Jiang Jing Tang tempat kegiatan Tzu Chi diadakan. Ruangan ini dapat menampung 1.600 orang.

Prof. Dr. KH. Said Aqil Sirodj sangat terkesan dengan pembagian beras yang diberikan oleh relawan Tzu Chi. Hong Tjhin juga menjelaskan jenis bantuan darurat Tzu Chi berupa pakaian layak pakai, peralatan mandi, sarung, selimut, dan terpal. “Isinya disesuaikan dengan jenis bencananya,” ungkap Hong Tjhin.

Mengelilingi Exhibition Hall hampir 30 menit, Kiai dan rombongan diajak untuk makan bersama di kantin Aula Jing Si. Susana sangat hangat dan penuh kekeluargaan. Mereka selanjutnya menuju ruang Aula Jiang Jing Tang yang berada di lantai 4. “Berapa kapasitas ruangan ini?” tanya Kiai kepada Sugianto Kusuma yang mendampingi. “Ruangan ini yang di dalam dapat menampung 1.600 orang, jika kita pakai sisi teras kiri dan kanannya kira-kira bisa 2.500 orang, Kiai,” jawab Sugianto Kusuma.

Selanjutnya rombongan diajak ke Kantor Yayasan yang berada di sisi kanan Aula. Sugianto Kusuma mengajak ke ruang kerjanya untuk membicarakan apa saja kiranya yang bisa dilakukan secara bersama-sama. “Tadi kami sudah mulai bincang-bincang, mulai terbuka, menyamakan persepsi, bagaimana untuk lebih peduli pada rakyat kecil, yang miskin yang di kampung-kampung dan mayoritas warga NU, seperti pengadaan air bersih, MCK, dan pertanian,” jelas Kiai.


Sugianto Kusuma bersama Kiai dan rombongan membicarakan banyak hal untuk membantu mereka yang miskin, khususnya warga NU yang berada di pedalaman, seperti pengadaan air bersih, MCK dan pertanian.

Selesai pertemuan itu, Prof. Dr. KH. Said Aqil Sirodj mendapatkan hasil bahwa ternyata kegiatan kemanusiaan yang telah dilakukan Tzu Chi sangat banyak dan tidak disangka. “Ternyata yang saya tahu luar biasa, luar biasa. Yayasan ini betul-betul untuk kemanusiaan, tidak memandang agamanya apa, sukunya apa dan dari mana,” ujar Kiai. Lebih lanjut beliau mengatakan, “Saya lihat tadi dari beberapa posternya, yayasan ini membantu musibah gempa di daerah Timur Tengah, Jordania, Iran, berarti betul-betul yayasan ini untuk kemanusiaan. Intinya, agama tanpa kemanusiaan tidak ada artinya, agama harus untuk kemanusiaan” tegasnya.

Editor: Metta Wulandari

Artikel dibaca sebanyak : 742 kali


Berita Terkait




Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Jangan takut terlambat, yang seharusnya ditakuti adalah hanya diam di tempat.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat