Sabtu, 15 Desember 2018
Indonesia | English

Merentangkan Jalan Yang Bajik

04 Desember 2018 Jurnalis : Elin Juwita (Tzu Chi Tebing Tinggi)
Fotografer : Erik Wardi, Lidyawati (Tzu Chi Tebing Tinggi)


Penutupan Kelas Budi Pekerti yang diadakan di Kantor Penghubung Tzu Chi Tebing Tinggi diawali dengan penampilan Genderang dan Gentha dari 20 Bodhisatwa cilik.

Pendidikan bertujuan untuk mengubah ketidaktahuan menjadi pengetahuan akan kebenaran dalam hidup sehingga manusia memiliki moralitas yang teguh. Oleh karena itu, pendidikan tidak boleh lepas dari nilai–nilai etika dan moral. Inilah yang selalu dipegang teguh relawan Tzu Chi Tebing Tinggi dalam membimbing Bodhisatwa cilik di kelas Bimbingan budi pekerti.

Tanpa terasa perjalanan kelas bimbingan budi pekerti di Tzu Chi Tebing Tinggi sudah berjalan hampir satu tahun dan pada Minggu, 25 November 2018 diadakan penutupannya. Kegiatan yang dimulai pada pukul 14.00 WIB ini diikuti oleh 41 Bodhisatwa cilik dan juga 40 relawan dari Medan, Tebing Tinggi dan Laut Tador. Kegiatan ini juga dihadiri oleh orang tua para Bodhisatwa cilik dan juga guru–guru dari beberapa sekolah.

Acara dimulai dengan penampilan genta dan genderang yang dibawakan oleh 20 Bodhisatwa cilik di mana makna menabuh genderang adalah untuk mengingatkan praktisi ajaran Buddha untuk tekun dan giat. Sedangkan suara genta bukan saja mendatangkan keharmonisan dan kedamaian, tapi juga menyampaikan penghormatan dan pemberkatan terhadap setiap orang. Dengan semangat dan sukacita para Bodhisatwa cilik juga menampilkan beberapa isyarat tangan (Shou Yi) dan juga pementasan drama yang berjudul Burung Gagak Yang Berbakti.


Bodhisatwa cilik juga menampilkan pementasan beberapa isyarat tangan dan sebuah drama yang berjudul Burung Gagak Yang Berbakti.


Relawan Tebing Tinggi dan Laut Tador juga menampilkan isyarat tangan yang dikolaborasikan dengan pembacaan Jingsi Yi dalam bahasa mandarin oleh salah satu relawan muslim Laot Tador.

Sebelumnya, para Bodhisatwa cilik telah dibekali tentang makna yang terkandung dalam setiap isyarat tangan yang ditampilkan dan juga drama. Ini karena tujuan utamanya bukan hanya sekedar penampilan di atas pentas, tetapi juga pengajaran bathin kepada para bodhisatwa cilik yang bisa mereka terapkan dalam kehidupan mereka sehari–hari.

“Semoga apa yang sudah kita bimbing untuk anak–anak dan apa yang sudah kita sampaikan bisa menjadi sebuah motivasi bagi anak – anak untuk memiliki karakter dan budi pekerti yang baik karena anak–anak merupakan harapan dari orang tua dan harapan dari masyarakat. Anak–anak juga ditanamkan rasa syukur dalam hati dengan meninggalkan sifat egois sehingga kedepannya jalan yang mereka tempuh juga merupakan jalan yang bajik,” kata Elin selaku penanggung jawab Kelas Bimbingan Budi Pekerti.

Tidak ketinggalan relawan Tebing Tinggi dan relawan Laut Tador juga memperagakan isyarat tangan yang dipadukan dengan membacakan Jingsi Yi berbahasa Mandarin dari seorang relawan muslim Laut Tador.


Dalam salah satu sesi sharing, seorang Bodhisatwa cilik Jassemine Tanziro, bersujud di depan kaki mamanya sebagai wujud terima kasih karena telah membesarkan dia dengan penuh cinta kasih.


Pemberian apresiasi kepada para Bodhisatwa cilik yang tidak pernah absen kehadirannya selama setahun penuh.

Memasuki sesi sharing, dua orang Bodhisatwa cilik memberikan sharing mereka tentang rasa syukur mereka bisa mengikuti kelas bimbingan budi pekerti. Terdapat banyak perubahan dalam diri mereka seperti sekarang mereka menyadari arti berbakti kepada orang tua. Mereka juga bisa menyampaikan rasa terima kasih mereka kepada orang tua yang telah bersusah payah membesarkan mereka. Bahkan ada satu Bodhisatwa cilik bernama Jassemine Tanziro yang setelah sharing, bersujud di depan kaki orang tuanya sebagai wujud terima kasih karena telah memberi dia kehidupan yang penuh cinta kasih.

Rasa haru juga dirasakan orang tuanya, Rani, yang juga merasa bersyukur anak–anaknya bisa berjodoh dengan Tzu Chi sehingga membawa perubahan besar dalam diri anak–anaknya.

“Kegiatan ini sangat memotivasi anak–anak ini untuk belajar lebih berbakti kepada orang tua. Perubahan yang saya rasakan dalam diri anak saya sangat banyak seperti anak saya yang besar Jassemine sebelumnya dia kurang percaya diri. Kalau berjalan itu selalu menundukkan kepala. Sejak ikut kelas budi pekerti sampai sekarang dia sudah berani menampilkan diri di depan orang banyak. Sedangkan anak saya yang kecil lebih bisa menunjukkan kasih sayang sama papanya,” demikian yang dituturkannya.


Para Da Ai Papa dan Da Ai Mama yang selama ini selalu enuh kesabaran dan cinta kasih membimbing Bodhisatwa cilik juga diberikan apresiasi.


Acara diakhiri dengan memanjatkan doa yang tulus dari seluruh relawan, Bodhisatwa cilik, dan tamu undangan dengan harapan dunia bebas dari bencana dan masyarakat hidup harmonis.

Apresiasi juga diberikan kepada para Bodhisatwa cilik yang tidak pernah absen kehadirannya selama setahun penuh. Di samping itu, tidak ketinggalan pemberian apresiasi kepada para Da Ai Papa dan Mama yang selalu sabar dan penuh cinta kasih membimbing para Bodhisatwa cilik dan juga apresiasi kepada tim konsumsi yang selalu hadir paling awal untuk menyiapkan masakan yang hangat untuk para Bodhisatwa cilik. Acara lalu ditutup dengan doa bersama.

Dengan meratakan dan membentangkan sebuah jalan yang bajik dan benar untuk anak–anak sejak dini, mereka pun memiliki arah hidup yang tepat dan masa depan yang cemerlang. Dengan demikian masyarakat yang harmonis baru bisa tercipta.

Editor: Khusnul Khotimah

Artikel dibaca sebanyak : 175 kali


Berita Terkait




Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Cara untuk mengarahkan orang lain bukanlah dengan memberi perintah, namun bimbinglah dengan memberi teladan melalui perbuatan nyata.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat