Senin, 21 Oktober 2019
Indonesia | English

My Dream di Surabaya: Menaklukkan Berbagai Kesulitan

01 Agustus 2019 Jurnalis : Eka Suci R. (Tzu Chi Surabaya)
Fotografer : Tedjo, Taufan, Romano, Ilham Ilmi, Bayu Chandra, Susanto, Sofie, Sheila, Kelly, Nataly (Tzu Chi Surabaya)


Mansjur Tandiono, Komisaris DAAI TV Indonesia memberikan sambutan sebelum pertunjukan My Dream dimulai.

Menjelang akhir bulan Juli 2019, masyarakat Surabaya disajikan pertunjukan My Dream yang sukses membuat seluruh penonton terkagum-kagum. Dalam pertunjukan yang digelar di Convention Hall Grand City Surabaya, Jawa Timur ini menampilkan banyak pertunjukan, mulai dari tarian, musik tradisional, bahkan mereka juga menampilkan lagu-lagu asal Indonesia.

Acara yang ditampilkan pada 27 dan 28 Juli ini memukau lebih dari 2500 penonton dari seluruh kalangan. My Dream menampilkan beragam pertunjukan, mulai dari tarian daerah, tarian latin, musik jazz, instrumental, juga tarian Bodhisattva Seribu Tangan. Para penari juga membawakan tarian Never Stop Dancing yang diciptakan khusus untuk para pejuang dan korban bencana alam dan mereka yang kehilangan anggota tubuhnya karena penyakit. Melalui tarian ini mereka ingin menyampaikan ketangguhan dan semangat pantang menyerah dari para penderita tunadaksa.

 

Tarian Never Stop Dancing adalah tarian yang ditujukan untuk para tunadaksa yang kehilangan anggota tubuhnya karena penyakit atau bencana alam.


Jemmy (baju putih), penyandang tunarungu dan mamanya datang untuk melihat My Dream. Sang mama bertekad untuk menumbuhkan semangat Jemmy dalam menjalankan hidupnya.

Ini adalah kali kedua My Dream melakukan pertunjukan di Kota Pahlawan. Sebelumnya dua tahun lalu (2017) My Dream juga melakukan tour di Jakarta dan Medan.

Selama 30 tahun ini, My Dream melatih penyandang disabilitas dengan kesungguhan hati agar terbentuk sikap profesional yang murni untuk menginspirasi penyandang disabilitas di seluruh penjuru dunia. Mereka berhasil menaklukkan berbagai kesulitan, dan mereka membuktikan jika usaha yang keras mampu mengubah berbagai kesulitan yang mereka hadapi.

Di pertunjukannya yang kedua, ada hal yang membuat Ida Sabrina dan beberapa relawan Tzu Chi Surabaya lainnya terkesan. Seorang ibu beserta anaknya terburu-buru menghampiri meja penjualan tiket yang berada di luar area pertunjukan. Beliau hendak berdonasi untuk mendapatkan undangan. Bahagia sekali ketika mendengar jika undangan masih tersedia. Rupanya ia mengajak anaknya yang seorang tunarungu. “Saya ingin kursi yang paling depan, supaya anak saya ini bisa mendengar,” kata ibu berusia 60 tahun ini.

 

Pementasan My Dream di Surabaya kembali sukses memukau para penonton


Pertunjukan yang diadakan pada 27 – 28 Juli ini menjangkau lebih dari 2.500 penonton dari seluruh kalangan.

Pemuda itu adalah Jemmy. Saat itu mamanya bercerita tentang Jemmy yang belakangan ini dalam kondisi menurun semangatnya dan tidak mau melakukan apa-apa. Begitu mengetahui ada konser seniman difabel (My Dream), mamanya bergegas mengajaknya menonton. Pemuda 37 tahun ini tidak berhenti memfoto setiap lembar buku My Dream. Ida berharap dengan menonton konser difabel ini bisa menginspirasi putranya agar tidak merasa sendiri dan lebih bersemangat lagi.

Selain berkunjung ke beberapa sekolah di Surabaya, Sidoarjo, dan Malang untuk melakukan talk show, di pertunjukan My Dream kali ini Tzu Chi juga turut mengundang beberapa komunitas difabel salah satunya adalah anak-anak UPT Rehabilitasi Sosial Binarungu Wicara Pasuruan. Lembaga yang dikelola oleh pemerintah ini menangani anak-anak yang berkebutuhan khusus. Ini adalah kali pertama mereka menyaksikkan pertunjukkan My Dream. Mereka sangat terkesan dengan penampilan My Dream seperti yang disampaikan oleh Elisabeth Dian Natalia, seorang tunarungu kepada gurunya dengan menggunakan isyarat tangan.


Dalam pertunjukan My Dream kali ini, Tzu Chi juga turut mengundang beberapa komunitas difabel, salah satunya adalah anak-anak UPT Rehabilitasi Sosial Binarungu Wicara Pasuruan (seragam biru).

“Pertunjukan ini sangat menginspirasi dan sangat menyenangkan, selain itu bisa membuat teman-teman tunarungu di seluruh Indonesia menjadi lebih hebat lagi dan bisa melakukan seperti orang-orang normal lainnya,” jelas Elisabeth dengan bahasa isyarat tangan.

Selain itu antusiasme anak-anak dari UPT asal Pasuruan ini juga disampaikan oleh Drs. Sugiono, Kepala UPT Rehabilitasi Sosial Binarungu Wicara. “Anak-anak kami sangat antusias dan sangat senang, ini bisa menjadi sebuah edukasi dan pengalaman bagi mereka. Ini bisa memotivasi mereka meningkatkan keterampilannya seperti apa yang dipelihatkan oleh My Dream. Semoga acara yang seperti ini nantinya akan berkelanjutan karena sangat berguna bagi anak-anak penyandang disabilitas ini,” kata Sugiono.

Pertunjukan My Dream yang diadakan di Jakarta, Surabaya, dan Medan ini diharapkan mampu membangkitkan semangat kreativitas para pejuang disabilitas, dimana dengan keterbatasannya, setiap manusia pasti bisa melangkah menggapai mimpinya.

Editor: Hadi Pranoto

Artikel dibaca sebanyak : 359 kali


Berita Terkait


My Dream di Surabaya: Teladan dan Inspirasi yang Berharga

15 Agustus 2019


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Cara kita berterima kasih dan membalas budi baik bumi adalah dengan tetap bertekad melestarikan lingkungan.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat