Minggu, 22 September 2019
Indonesia | English

My Dream di Surabaya: Teladan dan Inspirasi yang Berharga

15 Agustus 2019 Jurnalis : Sheila NT, Eka Suci R (Tzu Chi Surabaya)
Fotografer : Tedjo, Taufan, Romano, Ilham Ilmi, Bayu Chandra, Santoso, Sofie, Kelly, Nataly (Tzu Chi Surabaya)


Kantor Tabloid Nyata ini merupakan destinasi pertama rangkaian kegiatan My Dream di Surabaya dalam rangkameet and greet.

Kedatangan My Dream untuk yang kedua kalinya di Kota Surabaya di penghujung Juli 2019 lalu masih menyisahkan cerita manis. Panasnya kota Surabaya siang itu tidak melelehkan semangat para relawan untuk menyambut kedatangan tim My Dream dari Jakarta, Rabu, 24 Juli 2019 ini. Vivian Fan, Ketua Tzu Chi Surabaya beserta beberapa relawan lainnya pun menanti kedatangan tim My Dream di bandara internasional Juanda.

Setelah menunggu beberapa saat, rombongan yang dinanti pun tiba. Tampak wajah-wajah tim My Dream yang penuh senyum membalas sambutan hangat dari relawan Surabaya. Para pemain pun langsung diarahkan menuju ke armada transportasi yang telah disiapkan untuk menghadiri acara meet and greet di Tabloid Nyata.

Berlokasi di jalan Raya Darmo, kantor Tabloid Nyata ini merupakan destinasi pertama dalam rangkaian kegiatan My Dream di Surabaya. Dua penari dan satu pemain seruling My Dream diundang ke panggung untuk menjadi perwakilan dalam memperkenalkan My Dream. Hadir pula di acara meet and greet ini para wartawan di luar Tabloid Nyata seperti Jawa Pos dan HBO. Para wartawan ini begitu semangat memberikan pertanyaan.


Wei Jingyang bersama seorang pemain saxophone dan seruling menceritakan kisah mereka dari kecil hingga akhirnya bergabung dengan China Disabled People’s Performing Art Troupe.

Ada yang bertanya "Berapa kali latihan yang dibutuhkan untuk bisa tampil di pertunjukkan?" Guru penari tersebut pun menjawab "Bukan ratusan kali, bukan ribuan kali tetapi tidak terhitung". Jawaban ini sungguh meninggalkan kesan yang mendalam bagi para hadirin yang mendengarkan bahwa apa yang team My Dream ini capai merupakan hasil usaha yang tiada henti dan semangat yang luar biasa.

Tidak hanya para wartawan yang antusias memberikan pertanyaan. Para murid kelas 7 dan 8 di Singapore National Academy pun tak kalah gembira menerima kunjungan team My Dream pada keesokan harinya Kamis, 25 Juli.Satu penari yang sama yaitu Wei Jingyang bersama seorang pemain saksofon dan seruling menceritakan kisah mereka dari kecil hingga akhirnya bergabung dengan China Disabled People’s Performing Art Troupe ini.

Para murid pun tidak malu-malu dalam memberikan pertanyaan. "What is the biggest difficulty you encounter when practicing and performing?" tanya siswa sekolah international ini. Selain bercerita, Wei Jingyang juga menunjukkan sedikit tarian merak yang dilanjutkan oleh permainan saksofon. Tepuk tangan meriah pun memenuhi gedung olahraga tempat para siswa berkumpul.

 

Sehari setelah perform pada 29 Juli 2019, My Dream beserta tim bertolak ke Batu, Malang untuk kembali menginspirasi, salah satu sekolah yang beruntung adalah Sekolah SMA SPI (Selamat Pagi Indonesia).

Tidak hanya Surabaya dan Sidoarjo saja yang mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan My Dream, sehari setelah perform pada 29 Juli My Dream beserta tim bertolak ke Batu, Malang untuk kembali menginspirasi sekolah SMA SPI (Selamat Pagi Indonesia)dan juga berkesempatan mengunjungi Balai Kota Batu. SPI membantu ratusan siswa dari kalangan kurang mampu di seluruh Indonesia untuk mengenyam pendidikan gratis dan juga mendapatkan berbagai macam pelatihan untuk menjadi wirausahawan independendi berbagai sektor. Mereka memiliki beberapa divisi diantaranya adalah merchandise, resto, manajemen pertunjukan, hotel, event organizer, dan lainnya.

Beberapa murid SPI memang ada yang berasal dari keluarga kurang beruntung, yatim piatu yang memiliki traumatis, dan juga kepercayaan diri yang rendah.Dari 200 lebih penghuni sekolah ini diantaranya juga adalah seorang difabel. Kedatangan My Dream disambut hangat dengan penampilan drama musikal oleh murid SPI yang menceritakan keberagaman kebudayaan di tanah Indonesia yang dimeriahkan tepuk tangan meriah dari My Dream. Selain itu mereka juga berkesempatan menyaksikkan tarian ikonik “Bodhisatwa Seribu Tangan”. Beberapa murid dari divisi pertunjukkan juga melontarkan pertanyaan meliputi pelatihan dan teknisnya.

 

Siswa-siswi asal Karya Mulya Surabaya tampak akrab, beberapa dari mereka berkomunikasi dengan Wei Jingyang dengan menggunakan bahasa isyarat tangan.

Hari terakhir di Surabaya, tim My Dream diberi berkah untuk mengunjungi SLB Tuna Rungu Karya Mulia, tidak jauh berbeda dengan meet and great disekolah lainnya. Namun karna ada kedekatan emosional mereka saling berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat tangan. Bahkan Wei Jinyang dan salah satu orang guru My Dreammengikuti murid untuk menarikan tarian “Sparkling Surabaya”.

Meskipun meet and greet yang diadakan ini terbilang cukup singkat, namun makna yang didapatkan begitu dalam. Seperti kata perenungan Master Cheng Yen "Keteguhan hati dan keuletan bagaikan tetesan air yang menembus batu karang. Kesulitan dan rintangan sebesar apapun bisa ditembus". Itulah makna sesungguhnya, kita manusia harus selalu bersyukur dan tidak boleh pantang menyerah disaat rintangan menghadang. Jika yang tidak sempurna saja bisa berkarya, maka tidak ada mustahil di dunia ini.

Editor: Khusnul Khotimah

Artikel dibaca sebanyak : 100 kali


Berita Terkait




Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Dalam berhubungan dengan sesama hendaknya melepas ego, berjiwa besar, bersikap santun, saling mengalah, dan saling mengasihi.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat