Sabtu, 24 Agustus 2019
Indonesia | English

My Dream Kembali Memukau Ribuan Penonton di Jakarta

22 Juli 2019 Jurnalis : Metta Wulandari, Khusnul Khotimah
Fotografer : Anand Yahya, Henry Tando, James Yip (He Qi Barat 2)


Sebanyak 20 orang penari tunarungu My Dream membawakan tarian berjudul I Want to Fly dalam pagelaran DAAI Night dengan tajuk Satu Harmoni. Penampilan mereka memukau penonton.

China Disabled People’s Art Troupe (CDPPAT) atau My Dream akhir pekan lalu (20-21 Juli 2019) kembali menampilkan pertunjukkan yang memukau di Jakarta. Berlokasi di Grand Ballroom Swissotel, PIK Avenue, grup seni difabel asal Tiongkok ini berhasil mencuri perhatian 3.753 penonton, lagi dan lagi.

My Dream memang tak pernah gagal memukau para penonton dengan gerakan para penari tunarungu yang gemulai mengikuti musik dan ritme, yang terbilang sangat rapat dan cepat. Juga para penyanyi dan pemain musik tunanetra yang membawakan lagu-lagu indah dengan suara yang merdu.

Dalam penampilan mereka pada DAAI Night dengan tajuk Satu Harmoni ini, mereka tak hanya membawakan tarian ataupun nyanyian asing. Seluruhnya ada 14 penampilan tarian dan nyanyian. Di antaranya terdapat tiga tarian baru, yakni tarian The Other Shore, Never Stop Dancing, dan I Want to Fly. Selain itu ada lagu DAAI Mencerahkan Dunia yang dinyanyikan oleh tunanetra serta instrument lagu Bengawan Solo dan Ayo Mama yang sangat Indonesia. Semua dibawakan dalam satu harmoni. Penonton pun berdecak kagum untuk setiap penampilan mereka.

Yang Zhi, Art Director CDPPAT yang bertugas hari itu, mengaku senang dengan sambutan para penonton di Indonesia yang terbilang ekspresif. Mereka tak ragu untuk ikut bertepuk tangan mengikuti irama lagu ketika penampilan musik berlangsung.


Hong Tjhin, CEO DAAI TV Indonesia mengungkapkan terima kasih kepada para tamu undangan yang hadir dalam DAAI Night. Hong Tjhin berharap para penonton membawa sesuatu yang berkesan ketika usai menyaksikan berbagai penampil.


Yang Zhi, Art Director My Dream yang bertugas hari itu, senang dengan sambutan para penonton di Indonesia yang ekspresif. 

“Kesenian difabel yang kami tampilkan sebenarnya tidak ada bedanya dengan kesenian yang ditampilkan orang normal. Tim Art dan Desain melengkapinya dengan tatanan panggung, lighting, dan juga musik yang mendukung para pemain. Jadi penonton diharapkan dapat mengabaikan kekurangan mereka sebab mereka juga bisa menunjukan kesenian seperti orang normal, menunjukan kepada seluruh penonton apa adanya dalam diri mereka,” kata Yang Zhi.

Bergabung selama 12 tahun dan tim, Yang Zhi mengaku menemukan keluarga. Ia pun menuturkan bahwa sebagai tim dan keluarga semua harus bekerja sama menjadikan suatu pertunjukkan meninggalkan kesan dalam hati masing-masing penonton. Tak heran bahwa penampilan mereka selalu ditutup dengan tepuk tangan riuh para penonton.

Bagi Yang Zhi, menampilkan apapun, asalkan dengan tulus, maka akan diterima semua orang dan membuat mereka terharu. “Sebenarnya penyampaian seni adalah bentuk penyampaian yang paling jujur, sehingga bisa membuat kita menghargai satu sama lain,” ujarnya.

Mengagumi Keindahan My Dream

Pertunjukan My Dream memang terasa memukau dengan tatanan lampu, musik, background yang juga memukau. Ada satu pengunjung yang sangat mencermati sisi mukalitas dan performance My Dream. Mendapatkan tempat duduk tepat di depan dan tengah membuat Mari Elka Pangestu dapat merasakan betul energi My Dream dan membuatnya terpukau.

“Luar biasa, sangat sempurna. Baik dari segi lighting, dari segi sound, koreografi, dan tariannya. Perpaduan dengan video di belakangnya ya saya pikir luar biasa,” ujar Mantan Menteri Perdagangan ini yang menggemari betul seni pertunjukan.


Sebanyak 10 orang tunanetra memainkan musik instrumental suite (tradisi dan budaya lokal). Mereka juga membawakan instrument lagu Bengawan Solo dan Ayo Mama.


Tak ketinggalan penampilan 20 penari tunarungu membawakan tari Bodhisatwa Seribu Tangan yang menjadi icon dari My Dream.

Dengan segala kesempurnaan itu, Mari paling terpukau dengan para pemainnya baik yang tunanetra, tunarungu mampu menampilkan sesuatu yang luar biasa. Lagunya, suaranya, gerakannya benar-benar bagus, Mari juga mencermati bagaimana pemain My Dream dapat menampilkan musik yang modern, juga bisa yang tradisional.

“Dan yang modern itu buat saya sangat terkejut juga ya. Mereka bisa membawakan lagu Indonesia, lagu barat, dan tentunya lagu Chinese-nya. Dan tariannya, tarian modern bisa, maupun yang bukan modern,” tambahnya.

Ada satu penari yang benar-benar mencuri perhatian Mari, yakni Wei Jing Yang. “Kayaknya hampir semua tarian dia tampil, berarti kan dia sangat versatile, dia bisa semua gerakan,” tambahnya. 

“Saya berharap seni pertunjukan Indonesia bisa sedisiplin yang kita lihat di sini. Kan ini memerlukan disiplin, memerlukan keterpaduan dan stage management yang terpadu dengan koreografi, dengan musik, dengan sound system, bagaimana seni pertunjukan kita bisa menuju ke sesuatu yang sebagus itu,” harap Mari.


Mari Elka Pangestu (berkebaya oranye), Mantan Menteri Perdagangan ini mengaku merasakan betul energi My Dream dan membuatnya terpukau.

Menerima sanjungan demi sanjungan, Yang Zhi mengungkapkan terima kasih karena apa yang tim My Dream lakukan ternyata membuat banyak orang terkesan. “Yang pasti setiap orang mempunyai kemampuan dalam diri masing-masing. Bukan hanya tim art dan desain, tapi para penampil pun memiliki keahlian seni yang sangat luar biasa, sangat mumpuni, sehingga kesan megah dan indah bukan lagi sekadar mimpi,” katanya.

Hong Tjhin, CEO DAAI TV Indonesia juga mengungkapkan banyak terima kasih kepada para undangan yang hadir. Dengan bersama menonton penampilan yang luar biasa, Hong Tjhin berharap para penonton membawa sesuatu yang berkesan ketika usai menyaksikan berbagai penampil.

“Tarian-tarian yang mereka bawakan itu memberikan satu contoh teladan bagi kita karena tidak mudah bagi seorang yang tidak bisa mendengar untuk bisa mengikuti musik. Tidak mudah bagi mereka untuk bekerja sama dalam satu tim sehingga mereka bisa sangat tepat. Puluhan ribu kali mereka harus latihan. Tidak mudah untuk mereka bisa mengikuti semua itu. Jadi menonton bukan karena mereka disabilitas, tapi menonton karena mereka menampilkan kesenian yang sangat luar biasa,” ujar Hong Tjhin.

Editor: Arimami Suryo A.


Artikel dibaca sebanyak : 511 kali


Berita Terkait




Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Seulas senyuman mampu menenteramkan hati yang cemas.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat