Minggu, 27 September 2020
Indonesia | English

Pekan Amal Tzu Chi 2016: Menularkan Pola Hidup Vegetarian dan Cinta Lingkungan

21 Desember 2016 Jurnalis : Khusnul Khotimah
Fotografer : Anand Yahya, Henry Tando, Steven Himawan dan Juwita (Tzu Chi Tangerang), Indarto (He Qi Barat)

doc tzu chi

Para relawan mencuci peralatan makan yang sudah selesai dipakai oleh ribuan pengunjung dalam Pekan Amal Tzu Chi 2016, 10-11 Desember 2016 di Tzu Chi Center Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara.

Pekan Amal Tzu Chi yang digelar 10-11 Desember 2016 lalu tidak hanya sebagai bentuk kegiatan amal semata. Namun kegiatan ini juga ingin menularkan pola hidup vegetarian dan pelestarian lingkungan. Berbagai makanan tradisional dan juga internasional dijajakan. Ada Sate Padang, Empal Bogor, Bihun Bebek, Pempek, Bubur Hongkong, dan masih banyak lagi. Tentu saja semua kuliner di pekan amal ini vegetarian. Tampilan makanan benar-benar menggugah selera. Antrian di banyak stand makanan pun mengular panjang. Kantin Tzu Chi bahkan penuh dengan pengunjung.

Salah satu pengunjung yang menikmati makanan vegetarian yang disajikan di pekan amal adalah Jendarsen (33), warga Pantai Indah Kapuk Jakarta. Ini adalah kali kedua, ia datang ke Pekan Amal Tzu Chi. Kali ini ia datang bertujuh, bersama keluarga dan teman.

“Saya makan Bubur Hongkong sama Lontong Sayur. Enak. Saya juga heran kok ada yang mirip daging tapi bukan daging. Dan saya juga heran kok ada orang baik yang mendatangi para pengunjung yang selesai makan untuk mengambil piring atau mangkuk. Kalau saya sih tidak mau,” kata  Jendarsen.

Orang baik yang dimaksud Jendarsen adalah para relawan Tzu Chi yang bertugas untuk pelayanan. Para relawan mendatangi pengunjung yang selesai makan dan mengambil piring atau mangkuk yang sudah selesai mereka gunakan. Salah satu yang spesial dari acara ini memang sebagian besar makanan disajikan dengan piring dan mangkuk, bukan tempat makan sekali pakai yang tidak ramah lingkungan.

Semua piring, mangkuk, sendok, garpu dan sumpit yang telah dicuci dan dilap disusun rapi sehingga dari pihak stand makanan bisa langsung dapat mengambil.


Stand Kuliner Sate Pandang menjadi salah satu yang diburu para pengunjung.

Relawan Tzu Chi, Yuli Natalia menjadi koordinator Sheng Huo Zu atau pelayanan menjelaskan, dalam tugas pelayanan yang terkait makanan ini meliputi membersihkan meja pengunjung, memisahkan sampah organik dan non organik, juga cuci piring dan lap piring. Jumlah relawan mencapai 40 orang dalam satu sesinya.

“Setelah jam 13.00 WIB, itu yang paling ramai. Karena hari Minggu keluarga pergi makan. Dan dalam tugas pelayanan ini misalnya di lap piring, ada yang khusus menghitung jumlah piringnya sehingga setiap stand bisa langsung ambil lagi. Dalam keadaan ramai, piring selalu siap,” kata Relawan Tzu Chi, Yuli Natalia.

Untuk memudahkan mencuci piring dan mangkuk, serta sendok dan sumpit yang jumlahnya ribuan ini, relawan mencampur air sabun dengan enzim untuk menghilangkan minyak dan bau tak sedap dengan cepat.

Para pengunjung menikmati kuliner yang ada di pekan amal.

Kesigapan Para Relawan Jalankan Tugas

“Mau minta sumpit,” ujar seseorang dari stand makanan

“Mau berapa?,” jawab relawan Su Ing. 

“40,” kata petugas stand makanan itu lagi.

“Silahkan Shijie,” kata Su Ing dengan ramah.

Su Ing, relawan dari komunitas He Qi Barat yang menjadi koordinator di bagian lap piring. Para relawan yang area tugasnya bersebelahan dengan bagian cuci piring ini menyusun tiap piring dan mangkuk, juga sumpit dan sendok dengan begitu rapi.

“Menyusunnya harus yang sama. Sendok, gambarnya juga harus yang sama. Para relawan yang ada di sini sebenarnya bukan hanya sekedar menjalankan tugas, namun juga belajar. Kalau di komunitasnya menyelenggarakan acara besar, pengalaman ini bisa menjadi bekal,” kata Su Ing.

Ada enam titik pengumpulan piring kotor di dekat stand makanan. Relawan menjemput piring kotor yang sudah selesai digunakan pengunjung, dibuang sisa makananya kemudian dihimpun untuk dibawa ke tempat cuci piring.


Sukirman dan Abdul Rohim yang bekerja di Depo Daur Ulang Cengkareng memisahkan sampah plastik dari makanan atau minuman pengunjung. Sampah yang bisa didaur ulang ini nantinya dibawa ke Depo.

Saat melaksanakan tugasnya, para relawan tak sekalipun menunjukkan rasa capai. Semangat dan kekompakan mereka sejak pagi hari menyiapkan segalanya hingga jam-jam sibuk tetap terjaga. Seperti Sukirman dan Abdul Rohim. Setelah sejak pagi mengangkat tumpukan piring kotor dari enam titik di dekat stand makanan, siangnya mereka memisahkan sampah plastik dari makanan atau minuman pengunjung.

“Ada beberapa makanan yang dihidangkan dengan kotak yang terbuat dari kertas. Nah kami memisahkan sampah ini, juga sampah plastik untuk didaur ulang. Sampah ini nanti kami bawa ke Depo Pelestarian Lingkungan Tzu Chi di Cengkareng,” kata Sukirman.

Sukirman dan Abdul Rohim sendiri telah bekerja di Pelestarian Lingkungan selama 10 tahun. Tahun lalu, dalam acara yang sama, mereka membawa sampah yang bisa di daur ulang sebanyak puluhan kantong plastik besar. Mereka berdua bahagia bisa ikut serta dalam kegiatan amal yang dananya akan digunakan untuk pembangunan Rumah Sakit Tzu Chi. Keduanya berharap nantinya banyak masyarakat tak mampu makan mudah mendapatkan layanan kesehatan yang maksimal.

“Saya tidak mengeluh capek. Saya malah senang bisa ikut serta dalam kegiatan yang dananya akan digunakan untuk amal,” pungkas Abdul Rohim.

 

Artikel dibaca sebanyak : 1843 kali


Berita Terkait


Pekan Amal Tzu Chi 2019: Tzu Ching Power - yang Muda yang Punya Semangat

22 Oktober 2019

Pekan Amal Tzu Chi 2019: Semarak Pekan Amal Tzu Chi

21 Oktober 2019

Sayuran Hidroponik di Pekan Amal

21 Oktober 2019

Pekan Amal Tzu Chi 2019: Berbagai Kuliner Nusantara Diboyong ke Pekan Amal

20 Oktober 2019

Pekan Amal Tzu Chi 2019: Membalas Budi Baik Lima Belas Tahun yang Lalu

20 Oktober 2019


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Orang yang memahami cinta kasih dan rasa syukur akan memiliki hubungan terbaik dengan sesamanya.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat