Sabtu, 19 Oktober 2019
Indonesia | English

Pembelajaran Budi Pekerti Berbudaya Humanis

19 Juli 2018 Jurnalis : Felicite Angela Maria (He Qi Timur)
Fotografer : Felicite Angela Maria (He Qi Timur)


Lima orang relawan Tzu Chi menjadi pembicara pada Seminar Pendidikan Budaya Humanis di Sekolah Marie Joseph, Kelapa Gading,  Kamis 12 Juli 2018.

“Jika selalu mempunyai keinginan untuk belajar, maka setiap waktu dan tempat adalah kesempatan untuk mendapatkan pendidikan. Keharmonisan organisasi tercermin dari tutur kata dan perilaku yang lembut dari setiap anggota.”

(Kata Perenungan Master Cheng Yen)

Pagi itu Kamis 12 Juli 2018, belasan insan Tzu Chi di He Qi Timur sudah hadir di Sekolah Marie Joseph, Kelapa Gading. Mereka datang sesuai undangan pihak sekolah untuk mengisi seminar pendidikan budaya humanis di hadapan jajaran pimpinan yayasan, dewan guru, dan karyawan sebagai bagian dari rangkaian pembukaan tahun ajaran Pendidikan baru 2018-2019.

“Ini adalah awal tahun ajaran baru 2018-2019, di mana kami mempunyai program rutin, pertemuan awal guru dan karyawan. Untuk memasuki awal tahun ajaran baru, kami memberikan bekal kepada guru dan karyawan supaya paling tidak mulai memasuki tahun ajaran baru dengan penuh semangat baru, penuh hal-hal yang positif,” kata Iskandar Wijaya, Pengawas dan Pengelola Utama Sekolah Marie Joseph, Kelapa Gading.

Setelah pembukaan diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, Mars Marie Joseph dan doa pembukaan, Evarista Kho, relawan Tzu Chi membuka seminar dengan memaparkan tentang Yayasan Buddha Tzu Chi. Inti dari pengenalan mencakup sejarah awal berdirinya Yayasan Buddha Tzu Chi, tokoh utama pendiri Tzu Chi, Master Cheng Yen, 4 misi dan 8 jejak langkah misi kemanusiaan Tzu Chi di dunia.


Haryo Suparmun, relawan Tzu Chi, memaparkan pemahaman tentang Pendidikan Budaya Humanis Tzu Chi.

Berturut-turut berikutnya tentang pemahaman Pendidikan budaya humanis dibawakan oleh Haryo Suparmun, relawan Tzu Chi. Dalam paparan ini, Haryo memperlihatkan beberapa contoh ilustrasi ragamnya budaya dan pola hidup manusia dalam masyarakat. Juga perubahan-perubahan yang sangat cepat, ditambah lagi dengan teknologi super canggih yang tujuan utamanya membantu mempermudah tugas pekerjaan manusia.

“Di balik itu ada fenomena yang membuat rasa kemanusiaan sedikit demi sedikit mulai luntur dalam kehidupan manusia di masyarakat, sehingga perlu menumbuhkan kembali budaya humanis yang idealnya dibangun dan dimulai dari rumah, dari dalam keluarga,” terang Haryo.


Metode pengajaran Kata Renungan Jing Si dibawakan oleh Ernie Lindawati.

Ernie Lindawati, yang juga relawan Tzu Chi menjelaskan tentang Kata Perenungan Jing Si. Ernie yang juga koordinator fungsional Misi Pendidikan Tzu Chi Indonesia memperlihatkan bentuk-bentuk pembelajaran antara guru dan murid yang bisa dipraktikkan dengan mengutip kata-kata Perenungan Jing Si, Master Cheng Yen. Kata Perenungan disesuaikan dengan topik materi pembelajaran dalam kelas akan menjadi lebih menarik dan menyenangkan, serta mendukung motivasi belajar anak didik di sekolah.

Pendidikan budi pekerti budaya humanis yang diterapkan Tzu Chi, baik di Sekolah cinta kasih Tzu Chi dan Tzu Chi School yang diperkenalkan dalam sharing seminar ini, merupakan pendidikan pembiasaan. “Dalam berbudaya humanis itu sebetulnya ada tiga hal yang harus kita kembangkan, yaitu bersyukur, menghormati dan cinta kasih. Di situ juga diperkenalkan, diajarkan kepada anak-anak bagaimana melatih diri, mendisiplinkan diri,” jelas Ernie.

Dalam pelajaran budaya humanis itu, tambah Ernie, juga mencakup penyajian teh dan merangkai bunga. “Maknanya adalah walaupun wadahnya sederhana, berbeda-beda, dalam situasi apapun sebenarnya kita ingin mengajak anak-anak untuk bisa selalu bersyukur,untuk juga selalu menghormati sesama, bisa mengembangkan cinta kasihnya,” tambah Ernie.


Simulasi Pembelajaran Kata Perenungan Jing Si dalam bentuk permainan pesan berantai digit angka dengan kedipan mata.


Para guru dan karyawan antusias mengikuti rangkaian seminar yang dipaparkan oleh para pembicara dari Tzu Chi.

Setelah rehat selama 15 menit dari pukul 10.15-10.30 WIB, relawan mengajak peserta melakukan simulasi permainan berupa pesan berantai dengan kedipan mata. Ini sebagai bentuk ilustrasi pembelajaran budi pekerti dengan kata perenungan Jing Si. Simulasi ini menjadi seru, menarik dan lucu saat setiap kelompok peserta seminar yang terdiri dari jajaran guru dan karyawan setiap unit sekolah ini, mesti menyampaikan pesan berantai berupa numerik digit angka tertentu tanpa suara dan bantuan gerakan tangan, hanya dengan kerdipan mata atau menggoyangkan hidung.

Tampak para guru dan karyawan antusias mengikuti dan menyimak seluruh rangkaian seminar yang dipaparkan oleh para pembicara dari Tzu Chi. Seperti yang disampaikan Iskandar Wijaya.

”Kegiatan hari ini sangat luar biasa. Kami dapat menimba banyak ilmu terutama bagi guru dan karyawan kami, sehingga paling tidak kami bisa menularkan, menyebarkan budaya humanis, budaya cinta kasih kepada guru dan karyawan. Guru dan karyawan bisa menyebarkannya lagi kepada siswa-siswi kami,” ungkapnya.

“Pendidikan sifatnya universal. Walaupun wadah sekolah kami Katolik, tetapi kami juga universal. Kita harus terus menerus membangun karakter dengan pembiasaan-pembiasaan, masukan-masukan, dengan kata-kata renungan, seperti di dinding-dinding sekolah ada kata-kata penyemangat, kata-kata motivasi, kata-kata renungan yang baik, sehingga bisa tercipta budaya atau karakter humanisme di sekolah kami,” tambahnya.

Agnes Wijayanti, guru mata pelajaran Ekonomi menilai, mendidik anak memang tidak cukup dengan pengetahuan saja. Pengetahuan harus beriringan dengan budi pekerti dan humanisme yang diajarkan dengan cinta kasih, dengan contoh yang bisa diteladani anak-anak.

“Seminar ini menarik, menginspirasi, dengan renungan-renungan, kata-kata yang sederhana yang disampaikan, tetapi dengan arti dan makna yang sangat dalam,” ungkap Agnes.

Sama seperti Agnes, Romauli Siregar, guru mata pelajaran Seni Budaya mengaku mendapatkan banyak inspirasi mendengarkan seminar budaya humanis hari ini.

”Guru menjadi figur yang bisa ditiru, bisa diteladani para siswa, dan bisa diaplikasikan dalam kehidupan mereka sehari-hari. Kita juga menjaga hubungan baik antara guru dan siswa walaupun dari latar belakang yang berbeda-beda,” kata Romauli.


Pentingnya menanamkan budaya humanis sejak usia dini, dengan pendekatan psikologis hypnotherapist adalah materi terakhir yang disampaikan oleh relawan Agus Hartono.

Di penghujung seminar budaya humanis ini, para peserta mendengarkan sharing dari Agus Hartono, Manager Tzu Chi University Continuing Education Center. Agus memaparkan bagaimana menanamkan pendidikan budaya humanis sejak usia dini, melalui sudut pandang psikologi hypnotherapist.

“Karena perkembangan dan perubahan dunia yang sangat cepat, bagaimana dalam keluarga, dunia pendidikan khususnya mampu berjalan seiring seimbang untuk menyelamatkan anak-anak didik, hidup berdampingan penuh cinta kasih, harmonis, tidak tergilas atau menjadi budak dari teknologi. Itulah mengapa budaya humanis ini perlu segera bertumbuh lebih cepat dan mengakar lebih kuat dalam hati dan pikiran setiap insan manusia,” jelasnya.

Editor: Khusnul Khotimah

Artikel dibaca sebanyak : 813 kali


Berita Terkait


Pendidikan yang Humanis

22 Mei 2018


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Jangan takut terlambat, yang seharusnya ditakuti adalah hanya diam di tempat.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat