Minggu, 27 September 2020
Indonesia | English

Pembinaan Diri Bagi Relawan Tzu Chi

27 November 2019 Jurnalis : Ami Haryatmi (He Qi Barat 2)
Fotografer : James Yip, Binawan, Virnandi (He Qi Barat 2)


Johnny Chandrina dan Elly Widjaja dua orang komite yang membawakan materi pelatihan dengan sangat menarik.

“Pelatihan bagi relawan Tzu Chi tidak hanya dilakukan sekali atau dua kali. Pemahaman tentang Visi dan Misi Tzu Chi haruslah dilakukan berulang-ulang agar lebih paham. Terkadang diulang saja bisa lupa, karena itu kami berkomimen untuk terus mengingatkan dengan pelatihan -pelatihan seperti ini,” ungkap Johnny Chandrina, Koordinator Pelatihan Relawan Abu Putih Tzu Chi He Qi Barat 2 pada Minggu 24 Novemver 2019. Pelatihan diikuti oleh 88 orang relawan Abu Putih dan relawan Abu Putih Logo (calon komite), dengan pembawa acara Sukandi dan didukung oleh 51 insan Tzu Chi sebagai panitia.

Hal serupa dinyatakan oleh Lo Hok Lay, relawan Tzu Chi lainnya yang menyajikan materi bertema Semangat Bodhisatwa. “Pelatihan adalah bekal melanjutkan semangat Tzu Chi. Kali ini pelatihan bagi relawan Abu Putih, justru di saat menjadi relawan pemula inilah harus lebih banyak menyerap ajaran, agar ketika telah menjadi relawan komite lebih bersemangat untuk menjadi calon Bodhisatwa dunia,” kata Lo Hok Lay.

Pelatihan diawali dengan pradaksina yang dijelaskan oleh Johnny Chandrina, apa tujuan dan esensi dari pradaksina. Pradaksina atau konsentrasi berjalan adalah sarana untuk samadi memusatkan pikiran. Usai pradaksina, dilanjutkan dengan penjelasan tentang  10 Sila  sebagai landasan bagi relawan Tzu Chi.


“Sila bukanlah belenggu yang membatasi kebebasan kita, tetapi (Sila) adalah pelita, penjaga, pelindung untuk melakukan sesuatu dengan benar,” kata Elly Chandra.

Elly Chandra menjelaskan, “Sila bukanlah belenggu yang membatasi kebebasan kita, tetapi pelita, penjaga, pelindung untuk melakukan sesuatu dengan benar. Bila kita membekali diri atau keluarga kita dengan 10 sila tersebut maka kita tak perlu khawatir dalam menjalani kehidupan ini. Sila adalah rel atau jalur yang benar dalam berperilaku dan berhubungan dengan orang lain. Master Cheng Yen membekali kita dengan renungannya bahwa kesalahan sehelai rambut pun bisa menyebabkan sesat ribuan kilometer,” kata Elly Chandra menjelaskan.

Materi selanjutnya adalah dari Lo Hok Lay. Seperti yang dinyatakan pada awal tulisan bahwa pelatihan bertujuan mencipta bibit-bibit Bodhisatwa lewat Visi Misi Tzu Chi yaitu dengan ajaran Jing Si menjernihkan hati manusia,  dengan mazhab Tzu Chi yaitu cinta kasih, welas asih, sukacita dan keseimbangan batin.

Dipaparkan pula tentang 6 paramita yaitu: Berdana, Melatih Sila, Melatih kesabaran, Melatih keuletan, Melatih konsentrasi, dan Melatih kebijaksanaan. “Dengan pelatihan ini diharapkan semua relawan mampu mempraktikkan jalan kebajikan dan mewartakan kepada keluarga serta lingkungan sekitar bahwa insan Tzu Chi adalah calon-calon Bodhisatwa dunia,” kata Hok Lay.


Hastuti ( gambar kiri) relawan dari Jakarta Barat ini bersyukur menjadi relawan Tzu Chi karena Tzu Chi bisa menjadi sarana untuk membalas cinta kasih yang telah dia terima sejak kecil dari orang-orang di luar keluarganya.

Salah satu bibit Bodhisatwa seperti yang diharapkan Lo Hok Lay hadir dalam pelatihan tersebut. Dialah Hastuti, relawan Tzu Chi dari wilayah Jakarta barat ini mengatakan, “Dalam menjalani kehidupan sehari-hari adalah juga pelatihan. Namun dibutuhkan pelatihan yang sejenis dengan bangku sekolah, dimana saya diingatkan untuk berperilaku dengan batasan-batasan yang baik. sehingga jalan kehidupan saya benar.”

Hastuti bersyukur mengenal Tzu Ci dan bisa mengikuti pelatihan ini. “Karena Tzu Chi akan saya jadikan sarana untuk membalas cinta kasih dari orang-orang di luar keluarga yang sejak kecil telah mengasihi saya,” ungkap Hastuti haru karena mengingat betapa banyak orang mengasihi dirinya. Dan hal ini akan dibalasnya dengan mengasihi orang lain lewat Tzu Chi.

Selain itu Mariana, wanita berusia 79 tahun yang tidak pernah surut langkah dalam berkegiatan di Tzu Chi mengatakan, “Saya sudah beberapa kali mengikuti pelatihan, kali ini saya membantu di pelayanan. Ini juga pelatihan bagi saya dimana semua relawan harus sabar, harus bijaksana dalam melayani dan penuh cinta kasih,” ujar Mariana.

Mariana, Oma berusia 79 tahun yang semangatnya tak kenal surut dalam berkegiatan.

Dari sekian banyak yang telah mengikuti pelatihan, salah satunya adalah Ridwansyah, seorang pendidik di SMP ini benar-benar sangat sering mengikuti pelatihan. “Saya telah sering mengikuti training Tzu Chi. Secara aspek kemasyarakatan ajaran Tzu Chi merupakan media bagi saya untuk berbuat kebajikan. Dengan training yang sering kali saya ikuti ini saya merasa seperti bertemu dengan Master yang jauh di sana (Taiwan), walau jauh tapi ajarannya seperti lekat di hati dan sesuai juga dengan keyakinan saya tentang cinta kasih terhadap sesama”, papar Ridwansyah yang telah lebih dari 20 kali mengikuti pelatihan Tzu Chi.

Pelatihan yang diterima Hastuti, Mariana, Ridwansyah dan semua relawan berupa teori  maupun praktek adalah pembekalan utama dalam menjalani misi Tzu Chi. Oleh karenanya penjelasan tentang Tatakrama juga sangat penting diberikan. Materi tentang tatakrama dibawakan oleh Yonga Wang.

Selanjutnya pelatihan keluar maupun ke dalam menjadi tema materi yang diberikan oleh Rosa Setiawan.

Rosa Setiawan yang biasa disebut Lao Shi Rosa menjelaskan, “Tzu Chi bukan hanya organisasi sosial dan organisasi keagamaan, tapi juga organisasi tentang pelatihan diri. Itulah kenapa pelatihan selalu diadakan berulang kali, sesuai masing-masing misi Tzu Chi. Dengan pelatihan ini kedalam untuk diri sendiri, kita sebagai benih-benih calon Bodhisatwa bisa bertunas, tumbuh dan benar benar mampu mempraktekkannya keluar.“


Ridwansyah (berkacamata), seorang guru, merasa dengan mengikuti training ia merasa seperti bertemu dengan Master Cheng Yen. 

Hal senada juga dinyatakan oleh Elly Wijaya dalam materinya yang berjudul Kebahagiaan yang Murni. “Dengan mengubah keserakahan, kebencian, dan kebodohan menjadi 3 kebijaksanaan yaitu: mendengar, merenung dan mempraktikkannya maka kebahagiaan murni akan menjadi milik bagi yang menjalani,” papar Elly Wijaya dengan wajah berseri gambaran kebahagiaan yang murni.

Dalam kegiatan ini juga disajikan Shou Yu (lagu isyarat tangan) berjudul Jalan Tzu Chi dan Memberi Semangat Untukku yang dilakukan oleh relawan Tzu Chi Jakarta maupun Tangerang.

Acara diakhiri dengan Ceramah Master Cheng Yen tentang perkembangan Tzu Chi di Indonesia. Jejak-jejak cinta kasih insan Tzu Chi yang bertumbuh dari awal dalam tanggap darurat bencana hingga diakui oleh aparat pemerintah Indonesia. Jejak langkah yang tak mudah ini selayaknya kita maknai sebagai bekal menjadi insan Tzu Chi yang semakin baik dan semakin baik lagi, lewat pembinaan diri terus menerus dengan pelatihan teori seperti yang diadakan kali ini, dan terutamanya  dengan praktik di kehidupan bermasyarakat sehari-hari.

Editor: Hadi Pranoto

Artikel dibaca sebanyak : 931 kali


Berita Terkait




Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Cemberut dan tersenyum, keduanya adalah ekspresi. Mengapa tidak memilih tersenyum saja?

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat