Kamis, 12 Desember 2019
Indonesia | English

Perayaan Hari Ibu Sebagai Wujud Mengingat Budi Luhur Orang Tua

25 Mei 2018 Jurnalis : Elin Juwita (Tzu Chi Tebing Tinggi)
Fotografer : Erik Wardi (Tzu Chi Tebing Tinggi)


Perayaan Hari Ibu Kelas Bimbingan Budi Pekerti Tzu Chi Tebing Tinggi ini dihadiri oleh 44 Bodhisatwa cilik (xiao pu sat) dengan didampingi oleh orang tua masing–masing.

Kita sering mendengar pepatah “Surga berada di telapak kaki ibu” yang memiliki makna bahwa agar dapat terlahir di alam berbahagia maka kita harus berbakti kepada orang tua. Akan tetapi di zaman now ini, banyak terjadi pergeseran nilai di mana anak–anak memiliki pandangan bahwa membesarkan mereka sudah merupakan tanggung jawab orang tua sehingga orang tua wajib memenuhi semua permintaan mereka.

Di sisi lain perkembangan dunia karir juga begitu cepat sehingga anak–anak lebih dipacu untuk meningkatkan pendidikan akademisnya daripada pendidikan karakter. Hal inilah yang membuat nilai–nilai dalam membangun pendidikan karakter semakin berkurang.


Dalam kegiatan ini para Bodhisatwa cilik membasuh kaki mamanya sebagai wujud hormat dan bakti kepada orangtuanya.

Untuk memperingati Hari Ibu Internasional, pada Minggu 20 Mei 2018, Tzu Chi Tebing Tinggi mengadakan perayaannya yang diikuti anak-anak kelas budi pekerti di Kantor Penghubung Tzu Chi Tebing Tinggi. Acara yang dimulai pada pada pukul 15.00 ini dihadiri oleh 44 Bodhisatwa cilik (xiao pu sat) dengan didampingi oleh orang tua masing–masing.

Sebelum memasuki ruangan, Wardi menjelaskan kepada para Bodhisatwa cilik tata cara membasuh kaki, menyuapi kue, menyuguhkan teh kepada ibu. Pada pertemuan sebelumnya di bulan April, para Bodhisatwa cilik telah mempraktikkan bagaimana susahnya seorang ibu mengandung mereka dengan memasukkan balon ke perut mereka. Dari pembelajaran ini, diharapkan para Bodhisatwa cilik memiliki empati sehingga timbul kesadaran untuk membalas budi orang tua mereka.


Pemberian bunga Carnation dan kartu Mother’s Day yang ditulis para Bodhisatwa cilik sebagai ungkapan hati mereka yang tidak bisa mereka ucapkan dengan kata–kata.

Kemudian, para Bodhisatwa cilik dengan didampingi Da Ai Mama dan Papa berbaris dengan rapi memasuki ruangan aula. Para Bodhisattwa cilik memberikan persembahan kepada ibu mereka di antaranya membasuh kaki, menyuapi kue, menyuguhkan teh, memberi kartu Mother’s Day dan memberikan setangkai bunga Carnation. Bunga Carnation adalah bunga yang lembut dan tahan lama, ini melambangkan cinta kasih kita kepada ibu sepanjang masa.

Bunga Carnation ini juga dibeli para Bodhisatwa cilik dengan mengumpulkan uang jajan mereka setiap harinya. Bahkan ada satu Bodhisatwa cilik, Jassinta Tanziro yang sekarang duduk di bangku kelas 3 SD membuat gelang tangan untuk dijual kepada teman– temannya dan hasil penjualan tersebut digunakan untuk memberikan bunga Carnation kepada ibunya.


Mama yang membaca kartu yang ditulis para Bodhisatwa cilik merasa sangat terharu dan menangis.

“Jassinta menjual gelang karena Jassinta bisa membuat gelang. Terus uangnya dikumpulkan untuk membeli bunga untuk mama karena mama yang telah membesarkan Jassinta dari kecil sampai Jassinta besar. Jassinta ingin membalas semua yang telah mama lakukan untuk Jassinta. Dan seperti mama merawat Jassinta waktu Jassinta masih kecil sekarang gentian Jassinta yang akan merawat mama,” ujar Jassinta.

Dalam sesi membaca surat yang ditulis para Bodhisatwa cilik untuk ibunya, banyak ibu dan anak terharu. Surat yang ditulis tersebut merupakan ungkapan perasaan anak-anak kepada ibu mereka yang mungkin selama ini tidak bisa mereka ungkapkan dengan kata– kata dan hari ini mereka sampaikan lewat tulisan. Kegiatan ini banyak membuat orang tua yang datang menangis terharu.


Pelukan yang penuh kehangatan dari anak untuk mama mereka sebagai ucapan terima kasih yang tulus atas segala jasa budi orang tua.

“Kegiatan hari ini sangat bagus terutama untuk  anak–anak yang mungkin kurang begitu berbakti sama orang tua. Dengan kegiatan seperti ini kan mereka belajar bertahap tapi hasilnya pasti,” demikian yang disampaikan salah satu orang tua, Rani.

Anak-anak juga memperagakan isyarat tangan berjudul “Mama” dan “Yu Ni De Di Fang Se Thien Thang (Di mana dirimu berada itulah surga)”. Acara diakhiri dengan para Bodhisatwa cilik memeluk ibu mereka masing–masing dan berdoa bersama.


Para orang tua menilai kegiatan ini sangatlah bagus terutama untuk  anak–anak yang kurang begitu berbakti. 

Harapan orang tua terletak pada anak–anaknya, harapan anak–anak terletak pada pendidikan, dan harapan bangsa dan negara terletak pada sumber daya manusianya. Bila manusia hidup sesuai jalur yang benar dan bermartabat, kehidupan mereka akan bahagia. Untuk itu butuh pendidikan yang kokoh khususnya pendidikan karakter. Bimbingan budi pekeri anak–anak harus melalui dengar, renungkan dan praktikkan agar kehidupan keluarga dan masyarakat bisa hidup harmonis dan berbudaya.

Editor: Khusnul Khotimah
  1. Perayaan Hari Ibu Kelas Bimbingan Budi Pekerti Tzu Chi Tebing Tinggi ini dihadiri oleh 44 Bodhisatwa cilik (xiao pu sat) dengan didampingi oleh orang tua masing–masing.

Artikel dibaca sebanyak : 807 kali


Berita Terkait


Memanfaatkan Tubuh Untuk Berbakti kepada Orang Tua

09 Mei 2019

Berbakti Adalah Berkah Termulia

11 Desember 2018

Perayaan Hari Ibu di Tzu Chi Batam

18 Mei 2018

Mengenang Jasa Ibu

31 Mei 2017

Kasih Ibu Sepanjang Masa

31 Mei 2017


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Kerisauan dalam kehidupan manusia disebabkan dan bersumber pada tiga racun dunia, yaitu: keserakahan, kebencian, dan kegelapan batin.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat