Selasa, 21 Mei 2019
Indonesia | English

Keluarga, Kekayaan Hati

05 Juni 2018 Jurnalis : Hadi Pranoto
Fotografer : Hadi Pranoto


Menghormati dan menghargai penerima bantuan merupakan wujud rasa terima kasih relawan karena diberikan kesempatan untuk berbuat kebajikan.

Cuaca begitu terik siang itu, namun keteduhan justru terasa di rumah yang sangat sederhana, bahkan bisa dibilang tidak layak lagi untuk dihuni. Dinding rumah banyak yang sudah mengelupas dan retak-retak. Susunan batanya pun tak lurus lagi. Terlebih susunan bata bukan direkat dengan semen, tetapi kapur seperti bangunan pada masanya. Usia telah “mengalahkan” bangunan rumah tersebut.

Rapuh sudah pasti, seperti bagian belakang rumah yang sudah ambruk sembilan tahun lalu. Bahkan jika ada mobil truk yang lewat tembok bisa ikut bergetar. “Yang saya khawatirkan kalau angin kencang dan hujan, nggak bisa tidur, khawatir terus,” kata Ila Rohila, “karena itu sebisa mungkin saya sisihkan uang buat betulin rumah.”


Ila Rohila tengah memasak beras dan Mi DAAI yang diterimanya.

Rumah yang rapuh dan kusam nyatanya tidak mengurangi kebahagiaan penghuninya. Sambil tersenyum, Ila (27) mengambil beras yang baru diterimanya siang tadi di halaman Kantor Desa Bojonegara, Serang, Banten. Pelan-pelan ia membuka karung beras dan mengambilnya untuk kemudian dimasak. Hari itu, Minggu, 3 Juni 2018 Ila menjadi satu dari 1.215 warga Desa Bojonegara yang menerima bantuan Paket Lebaran dari Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia bekerja sama dengan PT. Samudera Marine Indonesia (SMI). Paket Lebaran ini berisi 5 kg beras, 1 dus Mi DAAI (isi 40 bungkus), dan 2 liter minyak goreng.

Alhamdulillah, jadi bisa 4-5 hari nggak beli beras,” ungkap wanita yang tengah mengandung anak pertama ini.

Nok (Dik -red).., beli telur dulu,” kata Ila kepada sang adik, Septi (15). Siang itu Ila akan memasak nasi, dengan lauk telur yang dicampur mi instan. Keduanya kebetulan sedang tidak berpuasa (berhalangan). Septi pun berbunga-bunga menunggu hidangan sang kakak. Maklum, keluarga ini terbiasa makan ala kadarnya, dengan lauk tahu ataupun tempe. Meski begitu, rasa syukur tak pernah lepas dari keluarga ini.

 “kalo untuk makan sehari-hari enak, Alhamdulillah, ada tempe, tahu, dan kita bersyukur saja,” ungkap Ila. Wajar saja jika kali ini wajah Septi cerah menunggu masakan Ila, kakaknya.

Sekitar 30 menit kemudian, hidangan pun tersaji. Nasi putih yang masih mengepul hangat dan potongan telur goreng yang dicampur mi instan menjadi menu makan siang Ila dan Septi.

Keluarga Adalah Segalanya


Relawan Tzu Chi (Hok Cun dan Lu Lien Chu) beserta aparat desa dan kepolisian berkesempatan melihat kondisi rumah Ila.

Safrudin (28), suami Ila, bekerja sebagai buruh pengangkut pasir dengan penghasilan sehar-hari sekitar 50 ribu rupiah. “kalo orang sini bilang ngiskup,” terang Ila. Cukup nggak cukup, dicukup-cukupi. Apalagi Ila bertekad untuk bisa menyisihkan sedikit untuk biaya perbaikan rumah. Dan itu sudah dimulai sejak 4 tahun lalu. “Alhamdulillah, dah terkumpul 4 juta,” kata Ila.

Di rumah ini tinggal 4 orang: Ila dan suami, Rohmatullah (22), Fajar (19), Septi (15). Adik pertama Ila, Rohmatullah mengalami keterbelakangan mental. Meski begitu kondisinya masih sangat baik, tidak galak atau aneh-aneh, dan bahkan mau bekerja dengan cara memulung. Sementara Fajar bekerja membantu toko milik tetangganya di pasar. Hanya Septi yang masih bersekolah. Ayah mereka, Udin (70) bekerja di Batam dan jarang pulang. Sementara ibu mereka sudah meninggal setahun lalu. Kondisi inilah yang membuat Ila memilih bertahan di rumah orang tuanya.


Relawan Tzu Chi Tangerang bersama-sama memindahkan dan menyusun barang-barang bantuan (Paket Lebaran).

Kalo saya pindah, ikut suami ke rumah mertua, bagaimana adik-adik,” ungkapnya lirih. Bagi Ila, keluarga ibarat anggota tubuhnya, sehingga jika ada satu yang sakit maka akan dirasakan oleh bagian tubuh lainnya. “Jadi kalo bisa tetap kumpul, apalagi cuma tiga saudara,” tegasnya.

Sementara bagi Septi, “Keluarga adalah kekayaan hati. Itu (harta) yang paling berharga buat saya.” Ila merasa beruntung, suaminya juga memiliki prinsip yang sama dalam hal ini. 

Selain menyisihkan uang untuk perbaikan rumah, Ila berharap ada bantuan untuk renovasi rumahnya. “Dulu pernah ada yang moto-moto rumah ini dan mau diperbaiki katanya, tapi sampai sekarang nggak ada kabarnya lagi,” kata Ila.

Yang menjadi bebannya, surat-surat kepemilikan rumah juga sudah sulit ditelusuri. Hanya ada surat bukti pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan yang menjadi pegangan. “Kalo dari urutan keluarga ini memang milik orang tuanya,” kata H. Asep, kepala desa dan diamini tetangga lainnya.

Dan memang kondisi rumah inilah yang menjadi pengganjal batin Ila dan keluarga. Ia khawatir jika rumah ambruk dan tidak bisa ditempati lagi maka ia akan tercerai berai dengan adik-adiknya. “Kalo ngontrak kan mahal, saya khawatir di situ saja.”

Karena itulah ia berharap tabungannya bisa mencukupi untuk perbaikan sebelum rumah ini benar-benar rusak dan tak lagi bisa dihuni. “Keinginan saya sederhana, rumah ketutup (diperbaiki), lahiran selamat, keluarga sehat semua, itu sudah cukup,” ungkap Ila.

Wujud Kepedulian


Lu Lien Chu, relawan Tzu Chi yang juga Wakil Ketua He QI Barat 2 berkesempatan memberikan beasiswa yang diberikan PT SMI kepada anak-anak di sekitar Kecamatan Bojonegara.

Desa Bojonegara menjadi salah satu desa yang menerima bantuan Paket Lebaran dari Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia. Desa yang berada di pesisir laut Banten ini mayoritas masyarakatnya bekerja sebagai buruh pabrik, buruh tani, dan nelayan.

“Semoga ini bisa bermanfaat bagi warga desa kami. Terima kasih untuk Tzu Chi dan PT SMI,” kata H. Asep, Kepala Desa Bojonegara.

Asep juga menyakinkan warga jika bantuan yang diterima ini murni kemanusiaan, tanpa iming-iming ataupun syarat tertentu. “Ini adalah rezeki yang diberikan Allah melalui wasilah (perantara) orang lain, dalam hal ini PT SMI dan Yayasan Buddha Tzu Chi,” terangnya.


Jumadi,  Section Head HRD Samudera Marine Indonesia menyampaikan rasa syukurnya bisa bersama-sama Tzu Chi berbagi bersama masyarakat Desa Bojonegara.

Lu Lien Chu, relawan Tzu Chi yang juga Wakil Ketua He Qi Barat 2 mengungkapkan kebahagiaannya bisa menjalin jodoh baik dengan masyarakat Desa Bojonegara. “Kebetulan ada relawan kita dari PT SMI dan mendukung kegiatan ini,” terangnya.

Karena kondisi ekonomi masyarakat beragam, Lu Lien Chu saat melakukan survei pembagian kupon (31 Mei 2018) bersama relawan lainnya memberikan pemahaman kepada mereka yang mampu agar berbesar hati tidak menerima kupon. “Kita sampaikan jika bantuan ini untuk mereka yang membutuhkan, dan mereka pun bisa menerima,” ungkapnya.


Kepada Desa Bojonegara, H. Asep menyambut baik kegiatan sosial seperti ini, karena berdampak langsung terhadap masyarakat.

Kegiatan ini merupakan salah satu dari rangkaian pembagian 20.427 Paket sembako kepada masyarakat kurang mampu dengan harapan mereka dapat merayakan Idul Fitri dengan penuh rasa sukacita. Paket yang dibagikan berupa: mi instan (1 dus), minyak goreng (2 liter), dan beras (5 kg). Pembagian paket dilakukan mulai tanggal 27 Mei hingga 9 Juni 2018 di 36 (tiga puluh enam) titik di wilayah Jabotabek (Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi) dan Cianjur, Jawa Barat.

Editor: Khusnul Khotimah

Artikel dibaca sebanyak : 1008 kali


Berita Terkait


Sembako untuk Warga Jagabita

22 Juni 2018

Kebajikan di Bulan Ramadan

08 Juni 2018

Indahnya Berbagi di Bulan Suci Ramadan

06 Juni 2018

Berbagi Sukacita Sambut Idul Fitri Bersama Pencari Suaka

05 Juni 2018

Memupuk Cinta Kasih melalui Paket Lebaran

20 Juni 2017


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Orang yang berjiwa besar akan merasakan luasnya dunia dan ia dapat diterima oleh siapa saja!

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat