Rabu, 21 Oktober 2020
Indonesia | English

Prestasi Olahraga Anak-anak SMK Tzu Chi

22 September 2020 Jurnalis : Metta Wulandari
Fotografer : Dok. Pribadi

Kabar gembira kembali menghampiri SMK Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng, Jakarta Barat. Kali ini tiga siswanya, Fajri Jumadianto, Willy Sarifudin, dan Sopyan, berhasil masuk di Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Ini menjadi kebanggaan tersendiri karena ketiganya merupakan anak-anak dari Perumahan Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng, Jakarta Barat.


Fajri Jumadianto (ketujuh dari kanan), Willy Sarifudin (kedelapan dari kanan), dan Sopyan (keempat dari kanan), bersama tim dari Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi berfoto bersama usai mengikuti perlombaan. Ketiganya berhasil diterima di Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

“Perasaan kami mendengar siswa kami yang anak Rusun ini bisa lolos UNJ, sangat senang. Dengan faktor ekonomi yang kurang, namun dengan dukungan yang melimpah akhirnya dia bisa masuk di PTN (Perguruan Tinggi Negeri),” ungkap Betty Theresia Sihombing, Kepala SMK Cinta Kasih Tzu Chi.

“Memang kita mengharapkan di Rusun ini muncul bibit-bibit yang bisa diandalkan dan menjadi contoh untuk adik-adiknya nanti. Jadi anak-anak yang masih sekolah begitu melihat kakak-kakaknya masuk PTN, iini  menjadi motivasi untuk mereka bahwa mereka juga bisa. Tidak menganggap kalau anak Rusun biasa aja, ya sudah, begini saja, tidak begitu,” lanjut Betty.


Fajri Jumadianto (kanan) dan Willy Sarifudin (kiri) memenangkan berbagai perlombaan dalam bidang atletik yang diselenggarakan oleh berbagai pihak.

Perjuangan para siswa SMK Cinta Kasih Tzu Chi ini terhitung berliku. Pasalnya, Betty sendiri mengakui bahwa kurikulum pembelajaran di SMK pada dasarnya tidak disiapkan bagi mereka yang ingin melanjutkan ke jenjang pendidikan lanjutan, seperti universitas maupun perguruan tinggi.

“Kalau mengikuti jalur SMK, harusnya dia bekerja,” ungkap Betty. “Kalau dia harus bersaing dengan (siswa) SMA untuk lanjut PTN, agak susah. Latar belakang akademik, pendidikan, pembelajaran yang mereka pelajari pada saat dia tes untuk SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri), atau materi yang diuji di seleksi PTN itu bukan pelajaran yang mereka pelajari waktu SMK. Jadi pada saat anak SMK ini ikut ujuan SBMPTN, mereka harus belajar yang sebelumnya tidak mereka pelajari di SMK,” jelasnya.

Namun ketiga siswa SMK Cinta Kasih Tzu Chi ini berhasil lolos PTN. Di balik suksesnya tiga siswa tersebut menembus berbagai jalur tes masuk, ada perjuangan dan keringat dari mereka masing-masing, seperti yang mereka kisahkan.

Dimulai Sejak Sekolah Dasar


Fajri Jumadianto (bawah, ketiga dari kiri) mengikuti estrakurikuler atletik dan perlombaan sejak ia masih duduk di bangku sekolah dasar.

Fajri Jumadianto, Willy Sarifudin, dan Sopyan tidak asing lagi dengan SMK Cinta Kasih Tzu Chi karena sejak sekolah dasar mereka sudah bersekolah di sekolah yang letaknya satu kompleks dengan rumah mereka. Tak lebih dari lima menit, mereka bisa sampai di sekolah. Tak lebih dari lima menit pula mereka bisa bermain di lapangan hijau di tengah Kompleks Rusun Cinta Kasih Tzu Chi. Masa anak-anak yang membahagiakan membuat mereka tumbuh dengan rasa percaya diri serta semangat yang tinggi.

“Emang dari SD, ikut eskulnya atletik. Jadi emang dari SD sampai sekarang suka. Passion-nya di sana gitu,” cerita Fajri Jumadianto. “SD pernah ikut perlombaan estafet tingkat nasional juara 1 di Senayan. SMP juara tiga tingkat DKI, lalu lari 100 meter juara 1,” lanjutnya, “Waktu lari 100 meter paling cepat 11 detik.”

“Terima kasih sudah membimbing, mengarahkan supaya kami lebih baik lagi. Diberikan porsi latihan dengan harapan yang paling baik. Sekolah juga menunjang dengan mengikutsertakan dalam berbagai lomba. Semoga banyak juga adik kelas yang minat dalam bidang atletik,” kata Fajri, panggilan akrabnya.


Sopyan mengikuti berbagai lomba futsal di berbagai kejuaraan.

Bagi Fajri, masuk di Universitas Negeri Jakarta merupakan satu jalan untuk mewujudkan cita-citanya menjadi guru atau dosen olahraga.

Impian itu pula yang ingin dicapai oleh Sopyan. “Saya cita-cita jadi guru karena rasanya enak bisa berinteraksi dengan banyak orang dalam berbagai suasana. Suka bersosialisasi,” akunya.Makanya support dari guru membuat saya lebih baik. Walaupun (mungkin) secara akademik kurang, tapi mereka tidak habis dukung dan memfokuskan dukungan itu. Mereka sering bilang, ‘kamu taro fokus kamu di sini aja, kamu pasti bisa’,” ingat Sopyan.

Motivasi yang diberikan oleh para gurunya di SMK adalah hal berharga bagi Sopyan. Hal itu bukanlah sesuatu yang kecil, melainkan sangat besar maknanya. “Terima kasih banyak banget karena itu mungkin dianggapnya hal kecil tapi bagi saya (motivasi) itu sangat besar,” akunya.

Motivasi dan dukungan pula yang membawa Willy Sarifudin memutuskan untuk masuk UNJ. “Saya awalnya nggak pengen kuliah, lebih pengen langsung kerja untuk bantu perekonomian keluarga,” ungkap Willy Sarifudin.


Ditemani oleh Galih Yoga Purnama (kanan), guru olahraga SMK Cinta Kasih, Willy Sarifudin menerima piala setelah memenangkan perlombaan.

Ayah Willy bekerja di bengkel sepeda dan sampingannya berjualan barang-barang bekas. Sedangkan ibunya sudah meninggal dan kakaknya bekerja di salon. “Selama ini ayah sudah lepas tangan biayain saya, jadinya kakak saya yang bantu biayain,” kata Willy. Tapi tekad untuk membawa keluarganya ke taraf hidup yang lebih baik membuat Willy memutuskan untuk melanjutkan pendidikan. Ditambah lagi, guru dan senior selalu memberikan motivasi.

“Dari segi pendidikan, dari kakak saya yang pertama sampai terakhir, paling tinggi hanya sampai SMP. Makanya saya ingin meningkatkan derajat keluarga. Urusan biaya bisa cari beasiswa dan lainnya nanti,” ucap Willy percaya diri.

Sementara itu, Galih Yoga Purnama, guru olahraga SMK Cinta Kasih mengutarakan bahwa keberhasilan siswanya lolos PTN tidak lain adalah berkat usaha keras mereka sendiri. Guru baginya hanya mengarahkan dan sekolah memfasilitasi. “Selebihnya adalah usaha mereka dan saya terharu karena saya hanya bisa mengarahkan, merekalah yang berusaha. Ketika ada kejuaraan, mereka yang sering aktif. Merekalah yang patut untuk dibanggakan,” ungkapnya.

Kini ketiganya tengah menunggu masa perkuliahan yang tak lama lagi akan dimulai. “Semoga semangat mereka tidak hanya di awal saja, tapi mereka bisa melewati masa-masa perkuliahan sampai selesai. Sehingga tiga atau empat tahun mendatang mereka bisa datang dan mengabarkan kelulusannya,” harap Betty.

Editor: Hadi Pranoto

Artikel dibaca sebanyak : 127 kali


Berita Terkait




Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Memberikan sumbangsih tanpa mengenal lelah adalah "welas asih".

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat