Rabu, 21 Oktober 2020
Indonesia | English

Raga Tidak Berdaya, Namun Pikiran dan Batin Tetap Merdeka

20 Agustus 2015 Jurnalis : Amy Haryatmi (He Qi Barat)
Fotografer : Yani Adikarta, Mei Li Kosasih, Ami Haryatmi (He Qi Barat)

 

       Relawan Tzu Chi mengadakan Perayaan sederhana di Panti Jompo Wisma Sahabat Baru dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan RI ke-70
Satu hari menjelang peringatan kemerdekaan Republik Indonesia (RI) tercinta, Minggu, 16 Agustus 2015, 24 orang insan Tzu Chi mengunjungi Panti Jompo Wisma Sahabat Baru, Jakarta Barat. Kunjungan kasih ini sekaligus mengajak oma-opa untuk turut memaknai, mengingat dan merayakan hari kemerdekaan Republik Indonesia. Tak lupa juga mengajak opa-oma untuk turut mengikuti lomba tanya jawab untuk memelihara memori mereka.

Pada pukul 08.00 WIB, sebagian relawan berkumpul di kediaman Lo Lifang, di Jl. Pesanggrahan, Jakarta Barat. Setelah selesai melakukan persiapan, para insan Tzu Chi segera berangkat ke lokasi. Setibanya di lokasi, Opa Lukman dan Oma Herlina telah menyambut  di halaman. Memasuki ruang tamu panti, para relawan mengucap salam santun dan menyerahkan 2 dus pampers pada Ibu Marni selaku kepala perawat. Dengan senyum sumringah sang perawat mempersilahkan relawan masuk.“ Ayo mari-mari, sudah ditunggu-tunggu lho,” ucapnya dengan ramah.

Relawan Tzu Chi juga memberikan perhatian dengan memberikan pijatan dan mengajak oma-opa bercengkrama

Benar apa yang diungkapkan Ibu Marni. Terlihat di ruang perawatan yang terdiri dari ruang besar dan beberapa kamar, telah menunggu 14 orang oma-opa. Ada yang sedang duduk manis dan ada juga yang terbaring di tempat tidur. Mereka adalah lansia yang menderita sakit serius dan dirawat di panti tersebut. Jumlah penghuni panti saat itu hanya 16 orang, berkurang dari biasanya.

Segera seluruh relawan dan oma opa bercengkerama, saling melepas rindu karena sebagian dari mereka telah mengenal baik para relawan. Beberapa oma menitikkan airmata haru dan bahagia, seolah berjumpa dengan sanak keluarga. Insan Tzu Chi juga membagikan makanan, menyuapi dan memberikan penghiburan kepada oma-opa. Acara dilanjutkan dengan memperingati Hari Kemerdekaan dan melantunkan lagu-lagu patriotik, terlihat  semua yang hadir  sangat bersemangat.

Ketika melakukan perlombaan tanya jawab, relawan dibuat terkejut dan haru oleh oma-opa. Ternyata oma-opa yang raganya terbelenggu karena ketiadaan  daya  ini, masih memiliki kemampuan ingatan yang sangat bagus. Oma  Mul misalnya, wanita lansia berusia 94 tahun ini berkata lirih: “ Waktu Indonesia merdeka (17 Agustus 1945) saya sudah gede banget lho”.  Dan ketika diadakan lomba tanya jawab tentang hari kemerdekaan, oma Mul pun menjawab dengan benar dan diganjar hadiah berupa syal penghangat  tubuh yang langsung dipasangkan di lehernya oleh relawan.

Oma Mul yang berusia 94 tahun merasa senang mendapat hadiah Syal dari Tzu Chi.  Relawan Tzu Chi pun membantu memakaikan syal tersebut ke  leher oma.

Sama halnya dengan oma Mul, opa Sukardi dan opa Lukman pun dapat dengan tangkas menjawab pertanyaan yang diberikan oleh relawan. “Ternyata saya masih ingat ya,” ungkap opa Sukardi yang menggambarkan bahwa pikiran dan batin mereka masih sehat, tidak seperti raganya yang kurang fit. Hal yang sama juga dibuktikan oleh Mas Bejo, seorang mantan karyawan  perusahaan yang sebatang kara dan menderita sakit. Dia tinggal di panti sejak 5 tahun lalu. Mas Bejo baru merayakan ulang tahunnya yang ke-43. Ketika ditanyakan apa makna kemerdekaan baginya. Pria ini menjawab,“ Biar tubuh saya tidak berdaya bertahun-tahun, saya masih berkarya. Pikiran saya sepenuhnya merdeka. Kalian yang masih punya jiwa raga utuh, ayo sumbangkan! Tuntaskan kemerdekaan ini dengan buah karya kalian. Lihat, saya sudah bertahun-tahun di tempat tidur tanpa pernah bisa bangun, meski hanya untuk ke kamar kecil sekalipun. Tapi saya sering menginspirasi muda-mudi yang datang. Dan lihat apa yang mereka berikan pada saya”. Mas Bejo pun menunjukkan hadiah yang sangat membanggakan baginya.

Mengingat Mas Bejo baru saja berulang tahun, relawan Tzu Chi pun memberikan kain sarung dan agenda sebagai bingkisan ulang tahun.“Ya, saya akan tuliskan banyak hal bermanfaat di agenda ini,” ucapnya seraya berterimakasih. Seusai menuai inspirasi dari Mas Bejo, relawan membagikan hadiah kepada oma-opa yang tidak memenangkan lomba.

Pada pukul 11.00 WIB, acara  diakhiri dengan lagu-lagu kemerdekaan dan doa yang dipimpin oleh Ridwansyah. Kemudian relawan  memeluk dan berpamitan dengan oma-opa. Sentuhan kasih para insan Tzu Chi ini terkadang menjadi sentuhan kebahagiaan  bagi  mereka. 

Artikel dibaca sebanyak : 1688 kali


Berita Terkait


Seru dan Haru di Wisma Sahabat Baru

30 Desember 2015

Saling Berbagi Kasih

26 Oktober 2015

Empati Berlabuh di Hati, Kebajikan Menyertai

01 April 2015


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Bila sewaktu menyumbangkan tenaga kita memperoleh kegembiraan, inilah yang disebut "rela memberi dengan sukacita".

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat