Rabu, 23 Oktober 2019
Indonesia | English

Relawan Hongkong Memerhatikan Para Gelandangan

17 Juni 2014 Jurnalis : Chen Zhi-jun dan Zhou Guo-wei (Tzu Chi Hongkong)
Fotografer : Peng Jin-shan

"Happy birthday to you, happy birthday to you, happy birthday Dear Min Min, happy birthday to you." Lantunan lagu ceria ini terdengar di sebuah terowongan bawah tanah di distrik Happy Valley, Hong Kong. Saat itu pukul 9.30 malam tanggal 25 April 2014, di mana 12 relawan Tzu Chi membawa kartu, kue ulang tahun, gula-gula dan hadiah untuk seorang gelandangan bernama Min Min. Selain itu, tujuh orang gelandangan juga tampak bergabung dalam perayaan itu.

Min Min merasa gembira dan tersentuh, ia berkata, “Saya sangat berterima kasih kepada para relawan Tzu Chi yang hadir merayakan ulang tahun saya.”

Saat mengunjungi Min Min pada awal Maret, relawan mengetahui bahwa ulang tahunnya jatuh pada bulan April; karena itu mereka mengajukan Min Min agar mereka boleh membantunya merayakan hari istimewa tersebut. Min Min sangat bersyukur bahwa mereka datang secara teratur setiap bulan untuk mengunjunginya dan membawakan makanan, pakaian, dan kebutuhannya sehari-hari. Sesibuk apapun dan bagaimana pun cuacanya -berangin, hujan, atau bersalju- mereka selalu datang. Benda paling berharga yang mereka berikan kepada para gelandangan itu adalah buku Kata Renungan Jing Si, kumpulan kata perenungan Master Cheng Yen. Pemberian ini membuat para gelandangan berkesempatan memahami cara menjaga hati mereka dan menentukan arah dalam kehidupan mereka.

“Pikiran yang tersesat menderita sakit; pikiran tercerahkan merasa tenteram. Hati yang baik menikmati kebahagiaan surga; pikiran jahat mengalami neraka.” Ini adalah kata perenungan yang paling Min Min sukai. Ia menempelkan kertas kata perenungan ini di sisi tempat ia tidur. “Hari itu saya membaca banyak kata perenungan dan merasa yang satu adalah yang terbaik. Saya merasa setiap kata penuh makna dan menerangi saya dengan cara yang berbeda,” kata Min Min.

Wu Feng-xia, seorang relawan berkata, “Saat ini Anda sedang melalui masa sulit dalam hidup dan mungkin Anda merasa tersesat. Tapi kami berharap suatu hari nanti Anda akan mencapai tujuan Anda dan hidup mandiri. Semoga berkah selalu bersamamu, Min Min.”

Seorang gelandangan lain yang bernama Bapak Shi bertutur dengan penuh perasaan, “Kami menerima perhatian dari berbagai organisasi, tetapi belum pernah ada yang datang untuk merayakan ulang tahun kami.” Ketika para relawan menanyakan usianya, semula Bapak Shi menolak menjawab, tapi akhirnya ia bersedia membuka diri. Para relawan berkata bahwa mereka juga akan merayakan ulang tahunnya dengan cara yang sama dengan Min Min.

Relawan Tzu Chi Hongkong memulai aktivitas ini dengan melakukan kunjungan rutin pada para gelandangan sejak akhir 2013. Sejak itu, setiap bulan mereka rutin berkunjung pada waktu yang tetap. Ketulusan mereka telah menghangatkan hati orang-orang yang mereka kunjungi.

 

Mengunjungi Para Gelandangan di Yuen Long

Happy Valley bukanlah satu-satunya wilayah Hongkong yang menjadi tempat relawan Tzu Chi mengunjungi para gelandangan. Mereka juga melakukan aktivitas ini di Yuen Long, di suatu distrik baru. Menurut rencana pemerintah, dari tahun 2013 sampai 2021, populasi penduduk daerah tersebut akan meningkat dari 580,000 jiwa menjadi 710,000 jiwa, yaitu naik sebesar 20 persen. Hal ini membuat daerah tersebut memiliki peningkatan populasi tertinggi di Hongkong. Wilayah tersebut merupakan percampuran dari pemukiman baru dan lama, termasuk desa-desa bersejarah dan hasil pembangunan baru, dengan blok apartemen bertingkat tinggi, baik milik pemerintah maupun swasta. Di antara perkembangan populasi yang pesat ini, ada banyak orang tua dan miskin yang membutuhkan bantuan material dan spiritual.

Pada siang hari, jalan-jalan di distrik lama Yuen Long dipenuhi mobil dan pejalan kaki. Di malam hari, jalan-jalan dipadati kios yang menjual manisan ternama, diterangi oleh cahaya lentera, dan deretan mobil diparkir di pinggir jalan. Namun, di balik keramaian ini, Anda dapat melihat orang-orang yang tersembunyi dari pandangan, di taman di sekitarnya; mereka pergi ke sana setiap malam untuk tidur. Keesokannya pada pukul 6 pagi, petugas taman membangunkan mereka dan meminta mereka untuk pergi.

Hari itu tanggal 26 April, Sabtu malam; para relawan dari distrik baru sebalah barat datang ke Yuen Long untuk mengunjungi para gelandangan. Dua minggu sebelumnya, Fan Xiu-mei seorang relawan yang tinggal di daerah tersebut, telah membawa tim Tzu Cheng (relawan komite laki-laki) ke sana untuk melakukan survei. Mereka menyurvei berbagai lokasi, termasuk taman, stadion sepak bola dan di bawah jembatan; mereka menemukan bahwa banyak gelandangan yang sempat tinggal beberapa waktu lamanya di dua buah taman di Jalan Xinjie dan Kangle. Maka, mereka memutuskan untuk menggerakkan Tzu Cheng di distrik baru tersebut untuk mulai memberi perhatian pada para gelandangan dari Yuen Long.

Malam itu pukul 22.30 WIB, sepuluh relawan laki-laki bergabung Fan Xiu-mei. Mereka dibagi menjadi tiga kelompok dan masuk ke dua buah taman. Di taman itu mereka mencari para gelandangan di setiap sudut dan celah. Sebelum para gelandangan itu tidur, para relawan berbincang dengan mereka. Saat itu masih musim semi dan udara malam hari cukup lembat, tapi belum terlalu dingin. Tidak terlalu sulit untuk menemukan para gelandangan ini di kedua taman tersebut.

Salah satu gelandangan adalah seorang bapak bermarga Yi, usianya sekitar 60 tahun. Dahulu Bapak Yi adalah seorang koki di sebuah hotel terkenal. Ia menceritakan pada para relawan kisah hidupnya yang penuh kesibukan dan kemewahan semasa di hotel. Malam itu tempat ia tidur cukup gelap, dan seringkali ia digigit oleh nyamuk. Dengan penuh kesabaran, para relawan mendengarkan kisah orang-orang yang tinggal di lingkungan serba sulit ini.

Setiap hari, Bapak Yi mengumpulkan kertas bekas dan menjualnya untuk mendapatkan uang. Ia merasa gembira saat mendengar penjelasan para relawan tentang program daur ulang Tzu Chi, dan bahwa hasil daur ulang dapat digunakan untuk membantu orang yang membutuhkan. Ia mengatakan bahwa ia ingin ikut serta dalam program yang diselenggarakan secara teratur di Taman Shuibian di Yuen Long tersebut.

Seorang gelandangan lain bermarga Huang, juga berusia sekitar 60 tahun. Bapak Huang menderita penyakit kronis. Ia menderita infeksi kulit dan telah berobat ke dokter untuk waktu yang cukup lama, namun tanpa hasil. Akibat penyakitnya ini, ia tidak dapat bekerja. Karena itu, Bapak Huang hanya bisa mencari nafkah dengan bekerja serabutan. Pertama kali ia melihat relawan Tzu Chi yang berseragam rapi hendak memberi perhatian pada para gelandangan, Bapak Huang merasa takut dan tidak bersedia menerima barang-barang yang diberikan. Tapi ia bersedia berbincang dengan mereka dan berbagi pahit manis pengalaman hidupnya dengan mereka. Harga sewa rumah yang mahal di Hongkong, menyebabkan Bapak Huang tidak mampu menyewa apartemen, sehingga ia tidak memiliki pilihan lain selain hidup di jalanan. Ia tidak memiliki tempat tetap untuk melewatkan malam demi malam; kadang-kadang dia pergi ke Sham Shui Po dan kadang-kadang ke Pulau Hongkong. Seorang teman yang tinggal di sebuah unit sekitar sana sering datang ke taman untuk berbicara dengannya. Percakapan mereka berlangsung baik dan Bapak Huang pun menganggapnya sebagai teman baik!

Malam itu para relawan menyebarkan benih cinta kasih di antara kaum miskin yang hidup dalam keheningan di Yuen Long. Benih ini akan tumbuh perlahan-lahan seiring hubungan yang terbangun di antara mereka. Cinta kasih universal Tzu Chi akan menyebar ke setiap sudut Yuen Long.

Sumber: www.tzuchi.org, Penerjemah: Ivana Chang

Artikel dibaca sebanyak : 1079 kali


Berita Terkait




Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Mengonsumsi minuman keras, dapat melukai orang lain dan mengganggu kesehatan, juga merusak citra diri.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat