Rabu, 21 Oktober 2020
Indonesia | English

Rumah Nyaman untuk Ibu Eri dan Ibu Siti

13 Oktober 2020 Jurnalis : Galvan (Tzu Chi Bandung)
Fotografer : Galvan (Tzu Chi Bandung)


Walikota Bandung H. Oded Muhammad Danial dan Wakil Ketua Tzu Chi Bandung, Henking Wargana menyerahkan kunci rumah kepada salah satu warga penerima bantuan bedah rumah dari Tzu Chi.

Tzu Chi Bandung mengadakan serah terima kunci rumah kepada lima warga penerima bantuan bedah rumah. Empat rumah berada di Kelurahan Campaka dan 1 rumah di Kelurahan Dungus Cariang, Kecamatan Andir, Kota Bandung. Kegiatan yang diadakan pada Sabtu, 10 Oktober 2020 ini dihadiri oleh Walikota Bandung H. Oded Muhammad Danial, S.A.P., relawan Tzu Chi, dan tamu undangan.

Proses Pembangunan dimulai sejak bulan Agustus, selama 45 hari semua rumah dapat terselesaikan dengan baik serta wujudnya pun kini lebih kokoh dan bersih dari sebelumnya.

Ketika relawan Tzu Chi melakukan survei sebelumnya, rata-rata kondisi rumah warga ini cukup memprihatinkan dan tidak layak huni. Sebagian besar mengalami kebocoran di kala hujan datang, belum lagi kondisi lantai yang retak serta pencahayaan dan sirkulasi udara yang buruk sehingga kondisi udara di dalam rumah menjadi kurang sehat bagi penghuninya.

Namun hal itu semua kini hanya tinggal kenangan, harapan serta mimpi warga untuk memiliki rumah yang nyaman, indah, dan sehat telah terwujud. “Saya mengucapkan terima kasih yang tak terhingga yang tidak bisa di ucapkan dengan kata-kata kepada Yayasan Buddha Tzu Chi, yang membantu kami memperbaiki keadaan kami, baik secara materi, moral, dan juga mental,” kata Eri Sundari, salah satu warga penerima bantuan bedah rumah Tzu Chi.


Bedah rumah Tzu Chi membawa kebahagiaan dan juga membangkitkan rasa percaya diri bagi Eri dan keluarga.

Eri Sundari (44) adalah anak kedua dari Wiwi (68). Sejak berpisah dengan suaminya, Eri tinggal bersama ibunya di RW 05 Kel. Campaka. Ia harus bersahabat dan menerima dengan kondisi rumah orang tuanya yang kondisinya sangat memprihatinkan. Kondisi ini dijalaninya sejak 10 tahun lalu (tahun 2010. Kondisi awal, bangunan rumah yang berukuran 4 X 8 m persegi ini tidak memiliki atap pada bagian kamar mandinya, hanya 3 ruangan yang tertutup atap, itu pun kerapkali bocor ketika hujan datang. Dari tiga ruangan, hanya 1 ruangan yang dapat digunakan, ruangan berukuran 3 X 2 m yang ditempati oleh tiga orang: Eri, anaknya, dan ibunya yang telah sepuh.

“Kadang kalau hujannya besar kami harus mengenakan jas hujan di dalam rumah. Seringkali hati saya menjerit ketika melihat Ibu yang sudah sepuh dan anak saya basah kuyup karena guyuran hujan yang menembus atap rumah kami, sementara saya sibuk untuk mengeluarkan air yang menggenang di dalam rumah,” kenang Eri sedih.


Salah satu sudut bangunan (dapur) yang rusak kini telah berganti menjadi dapur yang nyaman dan aman.

Eri bukannya pasrah, namun kondisi keuangan yang memaksanya demikian. Keseharian Eri, ia mengurus kebutuhan rumah tangga, seperti merawat ibunya, anak perempuanya hingga mengurus segala kebutuhan di rumahnya. Eri bekerja sebagai pekerja lepas (freelance) interviewer konsultan. Ketika sebuah perusahaan ada yang membutuhkan jasanya, disitulah ia baru mendapatkan upah. Sekali mendapatkan upah berkisar 1- 2 juta, namun hal tersebut tidak selalu ada di setiap bulannya. Bahkan menurut pengakuannya bisa sampai 2 bulan lebih tidak mendapatkan sebuah pekerjaan. Ditambah lagi dengan kondisi rumah yang membuat Eri beserta keluarga merasa tidak percaya diri dan malu terhadap tetangga.

Kondisi seperti inilah yang menjadi perhatian insan Tzu Chi, menghilangkan penderitaan dan membawa kebahagiaan bagi masyarakat yang membutuhkan, langkah kecil untuk membuka peluang besar menuju kehidupan yang lebih layak.

“Sudah tentu dengan kondisi rumah yang parah itu, mental saya benar-benar terpuruk, tapi sekarang melihat wujud rumah ini benar-benar membangkitkan rasa percaya diri saya. Malah rumah ini diluar ekspektasi saya, ini benar-benar kokoh, indah dan bagi saya merupakan mini istana,” ucap Eri.

Kebahagiaan Warga, Kebahagiaan Relawan


Kebahagiaan Siti Fatimah dan suaminya akhirnya terwujud, sebuah rumah yang bersih, sehat, dan kokoh kini menjadi “istana mini” mereka.

Kebahagiaan pun turut dirasakan oleh Siti Fatimah (36). Ibu Tiga anak ini berprofesi sebagai penjual minuman susu fermentasi keliling. Dalam sebulan, penghasilan sebesar 2,5 juta rupiah ia dapatkan dari hasil kerja kerasnya, pagi hingga sore hari. Semenjak suaminya terserang penyakit asam urat dan tidak bisa bekerja lagi, kini Siti yang menjadi tulang punggung bagi keluarganya.

Kesulitan yang dihadapi Siti beserta keluarganya bukan hanya soal materi saja, namun kondisi rumah yang memprihatinkan menjadi beban tersendiri dalam hidupnya. Minimnya pencahayaan serta sirkulasi udara yang tidak sempurna, terkesan jauh dari nyamanan untuk ditinggali. Diperparah lagi banyaknya atap yang bocor ketika hujan datang. ”Pokoknya mau ujan kecil atau besar rumah saya pasti bocor, apalagi kalau hujan besar rumah saya (pasti) tergenang air. Sementara rumah tetangga aman-aman aja,” kata Siti mengenang.

Selalu tebersit angan untuk memperbaiki rumah, namun hal itu ibarat “jauh panggang dari api”, jangankan untuk merenovasi rumah, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja masih sulit didapat. Keinginan untuk memiliki rumah yang bersih, kokoh, dan tidak bocor itu pun hanya menjadi sebuah mimpi yang entah kapan akan bisa terwujud.


Dulu sewaktu hujan rumah Siti pasti selalu kebanjiran. Setelah dibangun kembali kini Siti dan keluarga menjadi lebih tenang, meski di musim penghujan.

Namun mimpi itu kini terwujud. Relawan Tzu Chi menyurvei dan menyetujui untuk membantu pembangunan kembali rumahnya. “Awalnya kaya ngga percaya kalau rumah saya mau dibangun, tapi relawan Tzu Chi-nya sering ke rumah, lalu dapat kabar kalau rumah saya mau dibenerin gitu,” katanya.

Sukacita Siti beserta keluarga begitu tercermin ketika melihat rumah barunya dalam kondisi yang benar-benar baik, “Saya sangat berterima kasih kepada Yayasan Buddha Tzu Chi yang sudah mewujudkan impian keluarga kecil saya mempunyai rumah yang sangat nyaman dan indah sekali. Ini hadiah yang terindah buat saya dan keluarga. Terima kasih yang sebesar-besarnya,” ungkap Siti haru.

Ketika para relawan Tzu Chi mengunjungi rumahnya, senyuman bahagia serta keramahan Siti menyambut kehadiran relawan. ”Kebahagian Ibu Siti menjadi kebahagian kami juga selaku relawan Tzu Chi,” kata Joe Riadi, Ketua Tim Tanggap Darurat Tzu Chi yang turut menghadiri proses serah terima rumah warga ini.

Editor: Hadi Pranoto

Artikel dibaca sebanyak : 253 kali


Berita Terkait




Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Bila sewaktu menyumbangkan tenaga kita memperoleh kegembiraan, inilah yang disebut "rela memberi dengan sukacita".

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat