Jumat, 13 Desember 2019
Indonesia | English

Saling Asah, Asih, dan Asuh

04 Juli 2009 Jurnalis : Djunarto (He Qi Timur)
Fotografer : Anand Yahya

 
foto

Dengan membaca dan memahami Buku Kata Perenungan Master Cheng Yen, kita dapat memetik banyak hikmah bagi pengembangan diri, sekaligus memperkaya batin kita dengan kebijaksanaan.

Pergunakanlah kebijaksanaan saat melihat arti kehidupan, gunakanlah keteguhan hati untuk mengatur waktu yang diberikan kepadamu. (Master Cheng Yen)

 

Matahari telah terbenam ke ufuk barat. Kendaraan hilir mudik dengan dua arah yang berbeda menuju tujuan masing-masing. Mobil jemputan saya berhenti tepat di Mal Kelapa Gading 1, dan saya pun bergegas menuju toko buku Jing-Si Books and Café Kelapa Gading, Jakarta Utara. Kamis, 3 Juli 2009 merupakan waktu kegiatan sharing buku antar relawan Tzu Chi di Kelapa Gading. Bagi relawan yang mempunyai keinginan untuk mengutarakan isi hatinya sehubungan dengan buku renungan yang telah mereka baca, di sinilah ajang untuk saling sharing satu sama lain untuk saling menguatkan. Relawan yang hadir malam itu ada sekitar 15 orang dengan latar belakang pendidikan yang berbeda-beda. Ada yang berstatus pengusaha, karyawan, dan ada yang fresh new comer (pendatang baru -red) dari hasil jejaring facebook “Tzu Chi Kelapa Gading“ group .

Aksi dan Reaksi
Orang yang cerdas memiliki kesadaran yang kuat akan rasa mendapatkan dan kehilangan. Orang bijaksana memiliki keberanian atau keinginan untuk terbebas dari semua kemelekatan materi dan dan emosi. (Master Cheng Yen)

Moderator pada malam itu adalah Desi, relawan Tzu Chi yang cukup senior di Kelapa Gading. Pokok pembahasan mengenai “ego“ dan cara melepaskan ego. Tema ini sangat pas untuk menjabarkan isi dari salah satu buku renungan harian Master Cheng Yen, “Lepaskan keegoan dan lapangkan dada, jangan biarkan hati sempit menciptakan permusuhan satu sama lain.” Sebuah analogi sederhana yang dijelaskan secara rinci oleh Master Cheng Yen, salah satunya mengenai sudut pandang yang berbeda-beda antar sesama relawan.  Di sini dibutuhkan kearifan dari masing-masing relawan atau individu untuk menghindari pertikaian, karena semua sudut pandang pada prinsipnya bertujuan untuk menuju titik temu yang sama.

Ji Shou, relawan Tzu Chi menjelaskan bahwa di Tzu Chi memang agak berbeda dengan yang lain. Di sini (Tzu Chi -red) relawan langsung turun ke lapangan untuk melakukan kegiatan bersumbangsih dalam masyarakat, baru kemudian mengambil pelajaran dari apa yang mereka lihat, dan dari apa yang telah mereka lakukan. Banyak orang berpendapat bahwa di Tzu Chi hanya mendidik orang untuk berbuat baik, dan sesudah itu tidak ada pendalaman apa-apa lagi. “Pendapat orang-orang tersebut bisa dibenarkan, dikarenakan memang ada segelintir relawan yang memang senangnya demikian, hanya berbuat baik, sesudah itu kembali kepada sifat asal yang tidak mau mereka ubah sedikit pun. Itu berpulang kepada masing-masing relawan, tidak bisa kita paksa,” jelas Ji Shou. Namun, perlu dicermati bahwa di balik sebuah kegiatan, maka pada saat itu pembabaran Dharma telah dilakukan oleh orang-orang di sekitar kita, baik terhadap masing-masing relawan, maupun dalam setiap kegiatan yang kita ikuti. Adakah perubahan sesudah kita melakukan kegiatan Tzu Chi, adakah tabiat kita menjadi lebih baik dari sebelumnya, atau malah makin menjadi-jadi. Itulah yang harus kita renungkan sebenarnya. ”Jika tidak ada, maka semua itu sia-sia saja,” tambah Ji Shou.

foto  

Ket : - Buku Kata Perenungan dan buku karangan Master Cheng Yen lainnya tidak hanya disukai para relawan
           Tzu Chi, tapi juga menarik bagi masyarakat lainnya. Baca, pahami, dan terapkan dalam kehidupan
           sehari-hari, maka itulah sumur inspirasi kebajikan kita.

Kembali Kepada Kearifan
Master Cheng Yen mengambil sebuah perumpamaan tentang teko dalam buku renungan hariannya, ”Dalam sebuah meja panjang, banyak orang duduk di sekeliling meja panjang tersebut, dan melihat sebuah teko. Ada orang yang melihat pegangan teko tersebut, ada orang yang melihat tuangan teh dari teko tersebut. Karena yang dilihatnya berbeda, maka muncul sudut pandang yang berbeda-beda pula. Tetapi, sebenarnya titik sentralnya adalah teko itu sendiri. Nah, titik temunya adalah teko. Dan semua orang akan setuju akan hal ini bukan?”

Kemudian Master Cheng Yen menjelaskan bila orang tersebut tetap bertahan pada sudut pandang pegangan teko, atau sebagian orang bertahan pada sudut pandang tuangan teh dari teko tersebut, maka timbullah kesalahpahaman, dan inilah sumber dari segala kemelekatan. Semua permasalahan itu timbul karena kondisi hati, untuk itu kondisi hati perlu diluruskan. Lebih dalam lagi, kondisi hati itu sendiri tidaklah cukup, karena akan senantiasa berubah-ubah dan setiap saat siap meledak dan tidak terkendali. Untuk itu, perlu lebih mementingkan kepentingan universal dalam hal ini, kembali kepada lubuk hati yang terurai sehingga semua bisa bersatu hati dan bergotong royong. Masalah pribadi dalam perbedaan pendapat sangat sepele, harus lebih mementingkan masalah lain yang jauh lebih besar.

Para relawan Kelapa Gading yang hadir  pada malam itu berhasil menarik kesimpulan, bahwa ego itu bersifat negatif. Namun bila ego telah diliputi oleh kebijaksanaan, maka ego tersebut diperlukan dalam memacu suatu kasus atau permasalahan atau dilema hidup menuju arah yang lebih baik. Dengan saling berbagi, saling asah, asih, dan asuh, maka akan memberikan kedamaian dan kekayaan batin di antara sesama relawan.

 

Artikel dibaca sebanyak : 1267 kali


Berita Terkait


Tzu Chi Menerima Penghargaan Penanggulangan Kemiskinan dari Pemerintah DKI Jakarta

12 Desember 2019

Perpustakaan untuk Adik-adik di Madrasah Ibtidaiyah Nurul Islam Kamal Muara

12 Desember 2019

Membangkitkan Nilai Hormat dan Bakti pada Orang Tua

12 Desember 2019

Mataku Pelita Hidupku

12 Desember 2019

Sepenggal Kisah Wulandhari yang Merawat Nadia

11 Desember 2019


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
The beauty of humanity lies in honesty. The value of humanity lies in faith.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat