Rabu, 13 November 2019
Indonesia | English

Saling Mengenal Satu Sama Lain

06 Desember 2016 Jurnalis : Giok Chin Lie (He Qi Timur)
Fotografer : Erli Tan, Giok Chin Lie (He Qi timur), Merry (He Qi Barat), Simin Liwa (Tzu Chi Tangerang)

Saling Mengenal Satu Sama Lain

Pada 4 Desember 2016, sebanyak 60 orang dari komunitas Gereja Katolik Santo Andreas Kedoya, Jakarta Barat datang mengunjungi Tzu Chi Center di PIK, Jakarta Utara.

Minggu, 4 Desember 2016 pukul 08.00 WIB sebanyak 60 orang yang sebagian besar lansia dari komunitas Gereja Katolik Santo Andreas Kedoya, Jakarta Barat datang mengunjungi Tzu Chi Center di PIK, Jakarta Utara. Walaupun usia meraka tidak muda lagi, namun meraka antusias dan bersemangat untuk mengenal Tzu Chi lebih dekat.

Acara pengenalan Tzu Chi dilakukan di gedung Daai, lantai 1, aula Jing Si, PIK. Dengan adanya pengenalan menganai visi dan misi Tzu Chi, para peserta merasa lebih mengenal Tzu Chi. Mereka pun senang karena dapat membantu banyak orang dengan dana kecil dalam program celengan bambu Tzu Chi.

Koordinator kegiatan ini, Yuli mengatakan bahwa para umat komunitas Gereja Katolik Santo Andreas sudah sejak lama ingin berkunjung ke Aula Jing Si guna mengenal Tzu Chi lebih dalam, tetapi karena belum bertemu waktu yang pas, maka rencana tersebut baru terealisasi pada 4 Desember. Meskipun baru terealisasi hari itu, para umat sudah sangat puas, karena di momen tersebut mereka tidak hanya mengenal dan melihat sejarah Tzu Chi di Indonesia, tetapi dapat merasakan kehangatan dari budaya humanis Tzu Chi.

Para umat juga diajak memeriahkan kegiatan Festival Budaya Humanis Tzu Chi.

Dalam acara, Sudijono Widjaya (kanan) juga ingin menerapkan tahap reuse barang-barang daur ulang di komunitas mereka.

Melihat para umat merasa senang, Yuli pun juga merasa senang karena kegiatan dapat berjalan lancar. “Waduh saya mencari relawan memang agak susah, tapi saya berusaha untuk tenang. Akhirnya ya lumayan berjalan lancar,” terang Yuli sumringah. Ia pun berujar jika sebenarnya komunitas Gereja Katolik Santo Andreas dan Tzu Chi memiliki visi dan misi yang hampir sama, yaitu menebarkan cinta kasih universal kepada sesama yang membutuhkan sehingga para umat dapat memahami apa yang dibagikan oleh para pembicara. “Mereka langsung menangkap dan antusias sekali. Mereka sangat senang dari awal mereka datang, walaupun cuaca di hari Minggu hujan dan kurang mendukung, tapi tetap semangat dan on time sampai di sini,” jelas Yuli.

Menjalin jodoh baik untuk bersama menyebarkan nilai kebaikan

Dalam kunjungan, turut hadir biarawati yang menemani para umat berkunjung ke Aula Jing Si. Walaupun mengaku baru pertama kali mengenal Tzu Chi, Suster Yose yang aktif di pelayanan kesehatan ini merasa kagum. “Saya liat tadi visi, misi dan kegiatannya luar biasa. Bisa menolong orang banyak dengan semangat celengan bambu,” ujar Suster Yose.

Suster Yose yang beru pertama kali berkunjung ke Tzu Chi merasa kagum dengan semangat celengan bamboo Tzu Chi yang dapat mengajak semua lapisan untuk bersumbangsih untuk sesama.

Yuli (kiri) merasa senang karena kegiatan dapat berjalan lancar mengingat pada hari yang sama kegiatan Tzu Chi juga cukup banyak.

Hal yang sama juga dirasakan oleh Sudijono Widjaya salah satu pengurus gereja yang kerap mendokumentasikan kegiatan turing para umat selama acara berjalan. “Rata-rata program Tzu Chi 95% sudah hampir sama dengan yang kami jalankan. Memang dari dulu ada keinginan untuk memanfaatkan barang daur ulang di komunitas. Semoga bisa dipraktikkan di komunitas untuk ke depannya,” harap Sudijono.

Setelah  berkeliling melihat Aula Jing Si, para peserta beristirahat sambil menikmati Festival Budaya Humanis. Melihat antusias para umat selama melakukan kunjungan. Besar harapan di dalam hati relawan semoga jalinan jodoh baik dengan para umat dan suster ini dapat terus berlanjut sehingga nilai-nilai kebajikan dan cinta kasih universal semakin tersebar luas serta dunia menjadi damai dan tenteram.

Artikel dibaca sebanyak : 1494 kali


Berita Terkait




Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Cemberut dan tersenyum, keduanya adalah ekspresi. Mengapa tidak memilih tersenyum saja?

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat