Sabtu, 19 Oktober 2019
Indonesia | English

Sampah Bukan Warisan

10 Juli 2019 Jurnalis : Yuliawati Yohanda SE, Beti Nurbaeti (He Qi Barat 2)
Fotografer : Agus DS, Johnny Chang, Wanda Pratama (He Qi Barat 2)


Dessy, relawan Tzu Chi sedang menjelaskan mengenai “5 Pusaka” (wadah makanan, sendok, botol minum, sapu tangan, dan tas ramah lingkungan) yang harus dibawa sehari-hari oleh setiap orang.

Kegiatan pameran Jing Si Books & Cafe diadakan untuk kedua kalinya di Summarecon Mall Serpong, Tangerang, Banten dengan topik Misi Pelestarian Lingkungan bertema Sampah Bukan Warisan. Pameran yang diadakan pada hari Sabtu dan Minggu, 22 – 23 Juni 2019 ini banyak didukung oleh para relawan dari Komunitas He Qi Barat 2. Pada hari Sabtu 22 Juni tercatat 114 relawan dan 23 Juni ada 111 relawan Tzu Chi yang hadir untuk mendukung kegiatan pameran pelestarian lingkungan ini.

Pameran yang berlangsung di Mal Atrium Summarecon Mall Serpong selama dua hari berturut-turut ini banyak menyorot perhatian masyarakat yang berkunjung ke Summarecon Mall Serpong.  Ternyata cukup banyak pengunjung yang tertarik dan peduli dengan Misi Pelestarian Lingkungan. Hal ini ditandai dengan banyaknya masyarakat yang masuk ke area pameran dan mendengarkan dengan seksama penjelasan dari para relawan— saat menjelaskan maksud dan tujuan dari pameran tersebut.

 

Harijanto Ratana (berkaos Biru) dan istri sedang menyimak penjelasan dari Simin Shixiong tentang cara pembuatan ekoenzim yang memanfaatkan bahan-bahan alami (kulit buah dan sayuran) untuk menjadi cairan pembersih serbaguna.

Salah seorang relawan Tzu Chi, Dessy Shijie (panggilan untuk relawan wanita) menjelaskan mengenai hal-hal apa saja yang dapat dilakukan oleh masyarakat di kehidupan sehari-hari, seperti menghemat penggunaan air untuk mandi, penggunaan air bekas mencuci sayur, buah, dan beras untuk menyiram tanaman di halaman rumah, dan membawa sendiri  peralatan makan (sendok, garpu, wadah makanan, botol minum, sapu tangan, dan tas ramah lingkungan). Dijelaskan oleh Dessy Shijie jika itu semua bisa dimulai dari diri sendiri. Dengan membawa alat makan dan minum sendiri, berarti kita secara aktif sudah menghindari penggunaan plastik sekali pakai dan memperpanjang usia pakai suatu benda.

Demikian juga di stan pengolahan limbah organik, yaitu pembuatan ekoenzim, banyak orang tertarik mengenai cara pengolahan limbah organik dari kulit buah-buahan yang harum baunya, misalnya kulit nanas, jeruk, dan lain-lain agar dapat diolah menjadi bahan pencuci piring dan gelas, pembersih lantai, dan bahkan toilet. Salah satunya Harijanto Ratana, salah satu anggota Badan Pelaksana Harian Yayasan BTB yang menaungi Universitas Buddhi Dharma, Karawaci, Tangerang. Harijanto dan istri yang memang merupakan donatur tetap Tzu Chi secara kebetulan sedang jalan-jalan di mall ini. “Saya sangat tertarik dan secara khusus sudah meminta waktu kepada relawan Tzu Chi agar dapat menjelaskan dan mempraktikkan cara pembuatan ekoenzim ini kepada mahasiswa dan karyawan Universitas Buddhi Dharma,” kata Harijanto.

 

Harijanto Ratana ingin menjalin jodoh baik dengan relawan Tzu Chi untuk penyuluhan pelestarian lingkungan di tempatnya bekerja.

Menurut Harijanto, penggunaan ekoenzim ini dapat mengurangi cost/biaya pembelian bahan-bahan pembersih yang selama ini dipakai. “Apalagi untuk sumber kulit buah ini kita akan bekerja sama dengan penjual juice di kantin universitas untuk ketersediaan limbah organik tersebut,” terang Harijanto.

Lily Santoso, koordinator acara pameran ini merasa terkesan dengan antusiame pengunjung. “Ternyata banyak masyarakat yang peduli, tertarik, dan ingin tahu tentang cara menghemat air, listrik, dan pemilahan sampah yang baik itu bagaimana. Saya Ingin mengajak masyarakat supaya lebih peduli terhadap lingkungan jadi tidak meninggalkan sampah untuk anak cucu kita,” tandasnya.

Kiprah Para Penebar Cinta Kasih
“Orang yang mampu menunjukkan jalan yang benar pada kita adalah seorang guru yang baik, orang yang bisa berjalan beriringan di jalan yang benar dengan kita adalah sahabat yang bermanfaat.” Kata Perenungan Master Cheng Yen ini menginspirasi Jap Miau Jung atau biasa dipanggil dengan nama Shijie Ayung untuk menebar cinta kasih kepada para pengunjung Mall Summarecon dalam acara pameran pelestarian lingkungan.

Dengan ramah Ayung Shijie menghampiri para pengunjung pameran dan menjelaskan tentang Tzu Chi kepada mereka. “Saya membawakan Buletin Tzu Chi pada para pengunjung pameran yang saya temui. Saya jelaskan kegiatan-kegiatan yang ada di Tzu Chi, dari sana saya tawarkan kepada mereka untuk ikut bergabung bersama Tzu Chi,” kata Ayung. Beberapa penolakan kerap menghampiri, namun ini tidak membuat relawan berusia 48 tahun patah semangat. “Ada beberapa orang yang tertarik menjadi relawan, namun belum berjodoh karena faktor keluarga. Saya teringat kata-kata Master Cheng Yen bahwa keluarga yang utama, oleh karena itu saya tawarkan kepada mereka untuk menjadi donatur terlebih dahulu,” terang Ayung.


Ingga Limiwati, relawan Tzu Chi sedang menjelaskan cara pembuatan ekoenzim kepada ibu-ibu dari Karang Tengah, Ciledug. Para ibu ini sengaja datang jauh-jauh khusus ke acara Pameran Tzu Chi ini.

Berdana merupakan satu dari Enam  Paramita (Berdana, Sila, Kesabaran, Semangat, Konsentrasi, dan Kebijaksanaan) merupakan poin penting yang disampaikan Master Cheng Yen kepada insan Tzu Chi di seluruh dunia. Berdana menyucikan hati manusia dan menciptakan karma baik. Berdana tidak harus dalam jumlah yang besar, namun keikhlasan dalam bersumbangsih itu yang lebih utama.

Dalam dua hari pameran, berbekal semangat dalam menebarkan cinta kasih, Ayung Shijie berhasil menghimpun 25 calon relawan baru dan 31 donatur baru. “Saya bersemangat ingin semua orang mengetahui tentang visi dan misi Tzu Chi hadir di dunia. Saya ingin semua insan di dunia bergandengan tangan tanpa membeda-bedakan suku, agama, dan golongan menjadikan dunia penuh cinta dan bebas dari bencana,” harap Ayung.


Relawan Tzu Chi, Jap Miau Jung sedang menjelaskan tentang kegiatan-kegiatan sosial kemanusiaan yang dilakukan Tzu Chi kepada salah satu pengunjung.

Ayung sendiri mengenal Tzu Chi dari DAAI TV Indonesia yang menayangkan program-program acara yang menginspirasinya. Dari sanalah sejak tahun 2009 Ayung kemudian memutuskan bergabung di Tzu Chi. Dukungan dari keluarga menambah semangat Ayung dalam melakukan kegiatan kemanusian di Tzu Chi. Jika ada waktu luang Ayung selalu memanfaatkannya dalam kebajikan, dengan mengikuti berbagai kegiatan Tzu Chi. “Karena sesuai dengan ajaran  Master Cheng Yen bahwa cinta kasih tidak cukup hanya ada di dalam hati saja, tetapi juga harus diwujudkan dalam tindakan nyata,” tegasnya.

Hal senada diamini oleh Jusuf Tjarmedi (68), seorang guru Fisika SMP Dharma Putra Tangerang, Banten. Dalam pameran Sampah bukan Warisan, Jusuf membawa beberapa siswa SMP Dharma Putra untuk ikut bersumbangsih menjadi relawan.  Rafenia Anggarini, salah seorang lulusan SMP Dharma Putra yang kini telah menjadi relawan abu putih mengatakan jika Jusuf adalah guru favorit di sekolahnya. “Pak Jusuf baik hati. Beliau selalu menyelipkan kata-kata motivasi dan nasihat sebelum memulai pelajaran,” kata Rafenia, “Pak Jusuf membuat saya termotivasi mengajak teman-teman SMA saya ikut dalam barisan Tzu Chi. Jusuf Shixiong (panggilan untuk relawan laki-laki) telah menanam benih cinta kasih yang mengakar di hati setiap anak didiknya.


Jusuf Tjarmedi Shixiong membantu menjaga salah satu stan sepeda elektrik yang bisa menyalakan lampu pijar.

Untuk setiap acara yang diselenggarakan Tzu Chi, Jusuf dengan sukacita mengantar jemput siswanya. “Saya jemput dan antar kembali semua siswa-siswi saya sampai pintu rumahnya. Bagi saya ada kebahagiaan tersendiri melihat mereka bisa berbagi cinta kasih dan bergembira bersama,” kata Jusuf.

Hati penuh kasih sebagai seorang guru memang tampak dalam keseharian dan tindakan Jusuf. Setiap acara pembagian raport, ia akan memberikan secara ikhlas kitab suci kepada orang tua yang mengambil raportnya. “Pendidikan keagamaan seyogyanya dimulai dari rumah. Ketika orang tua sudah jauh dari pendidikan agama, apa yang bisa diharapkan dari putra-putrinya. Untuk itu saya bersedia berdana untuk membeli beberapa buku-buku keagamaan dan kitab suci bagi para orang tua,” jelasnya.


Acara pameran juga diisi salah satu gerak isyarat tangan (shouyu)A Ba Gan Cui Gu(Ayah Membajak Sawah dengan Kerbau). 

Bagi Jusuf, Tzu Chi adalah salah satu tempat terbaik untuk menebar cinta kasih ke seluruh dunia. “Saya mengenal Tzu Chi lewat internet pada tahun 2010. Kala itu teman di kantor tata usaha sekolah memberi tahu saya jika ada organisasi kemanusiaan yang cocok untuk saya,” kata Jusuf mengenang, “Saat itu saya langsung mendaftar dan saya merasa sungguh beruntung bisa menjadi bagian dari barisan insan penebar cinta kasih di seluruh dunia.”

Ayung Shijie dan Jusuf Shixiong adalah contoh nyata bahwa setiap tunas kebajikan akan berbuah banyak kebajikan. Seperti Kata Perenungan Master Cheng Yen, “Sebuah kehidupan menjadi bernilai apabila kita mampu memanfaatkannya dengan baik. Bila kita tidak memanfaatkannya dengan baik maka kehidupan akan berlalu dengan sia-sia.”

Editor: Hadi Pranoto

Artikel dibaca sebanyak : 368 kali


Berita Terkait




Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Kerisauan dalam kehidupan manusia disebabkan dan bersumber pada tiga racun dunia, yaitu: keserakahan, kebencian, dan kegelapan batin.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat