Rabu, 20 November 2019
Indonesia | English

Sayuran Hidroponik di Pekan Amal

21 Oktober 2019 Jurnalis : Lily Tedja (He Qi Pusat)
Fotografer : Marlina (He Qi Pusat)


Darma Kumara memulai panen selada hidroponik pada sore hari ketika sinar matahari mulai redup.

Jumat yang terik, 17 Oktober 2019 merupakan hari yang ditunggu Darma Kumara. Darma adalah seorang yang baru bergabung di Tzu Chi (relawan kembang). Setelah merapikan barang untuk Pekan Amal Tzu Chi 2019 di Tzu Chi Center, Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta Utara, relawan dari komunitas Xie Li Cikarang sore harinya ke tempat Darma untuk bersama-sama memanen sayuran hidroponik. 

Proses memanen sayur dimulai dari memisahkan sayur dari pot dan merapikan akar sayur.  Kemudian sayur di-packing dan ditempatkan serta ditata di wadah dengan memanfaatkan stereofoam bekas.  Sentuhan terakhir dengan semprotan air ke sayur hidroponik sebagai penyegar.


Sisa akar yang masih menyatu dengan rockwool dibungkus dalam keadaan basah untuk menjaga sayur tetap segar.


Relawan Tzu Chi, Ben Lah dan Lily Tedja membantu panen selada hidroponik dengan memisahkan selada dari netpot.

Sabtu, 19 Oktober 2019, hari-hari yang ditunggu-tunggu tiba: Pekan Amal Tzu Chi 2019.  Relawan dari Xie Li Cikarang sudah bergerak sejak jam 5 pagi menuju lokasi bazar. Waktu menunjukkan pukul 7 pagi ketika para relawan tiba dan mereka langsung menata stan E12 ( sayuran hidroponik). 

Salah satu ibu pembeli sayur hidroponik, Quan Fong (74) dari Sunter menuturkan sangat menyukai sayuran hidroponik terutama selada. “Karena selain sehat (alami) juga tidak mengandung pestisida,” kata Quan Fong.


Felice dan Kenken berterima kasih kepada Raymond, pengunjung asal Papua yang membeli tanaman hidroponik. 

Hal senada diungkapkan Raymond (57). Raymond yang berasal dari Papua ini sangat mendukung adanya acara bazar ini karena selain dapat berbelanja kita juga dapat sekaligus beramal.  Raymond sangat senang dengan Tzu Chi karena misi kemanusiannya. “Saya pindahkan anak saya dari Papua untuk sekolah di Sekolah Tzu Chi karena melihat pendidikannya yang bagus. Guru-gurunya juga sangat peduli kepada murid-muridnya,” kata Raymond.

Tak lupa, Raymond juga membeli pohon cincau, selain untuk ditanam juga karena yang menjualnya adalah relawan cilik yang dengan semangat dan sabar menawarkan pohonnya.  Raymond ternyata juga senang berhidroponik.

Editor: Hadi Pranoto

Artikel dibaca sebanyak : 525 kali


Berita Terkait




Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Memiliki sepasang tangan yang sehat, tetapi tidak mau berusaha, sama saja seperti orang yang tidak memiliki tangan.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat