Jumat, 03 Juli 2020
Indonesia | English

Sepenggal Kisah Wulandhari yang Merawat Nadia

11 Desember 2019 Jurnalis : Anand Yahya
Fotografer : Anand Yahya


Relawan Tzu Chi memberikan sepasang boneka untuk Nadia saat berkunjung Selasa kemarin. Perhatian dan kasih sayang para relawan ketika berkunjung sedikit menjadi obat batin bagi keluarga Wulandhari.

Tim medis dari Rumah Sakit Cinta Kasih (RSCK) Tzu Chi Cengkareng bersama relawan Tzu Chi rutin mengunjungi pasien yang pernah ditangani khusus pengobatannya. Tim ini bertujuan untuk memberi pelayanan bagi pasien dengan memantau kondisi pasien pascapengobatan sekaligus mengunjungi mereka untuk melihat langsung pasien dan keluarga, baik dari segi fisik, emosional, sosial, maupun spiritual.

Tim ini terdiri dari dua orang dokter umum, satu perawat, dan beberapa relawan Tzu Chi yang mendampingi pasien. Mereka rutin melakukan kunjungan ke rumah pasien-pasien untuk memastikan bahwa pasien menjalani pemulihan dengan baik di rumah pascapengobatan.

Seperti pada Selasa, 10 Desember 2019, tim medis RSCK bersama relawan Tzu Chi mengunjungi seorang pasien. Mereka menempuh perjalanan dua jam membelah kemacetan dan cuaca hujan menuju rumah seorang anak bernama Nadia.

Kisah Haru Wulandhari
Pada 23 Desember 2009, Wulandhari (40) biasa di sapa Wulan melahirkan seorang bayi perempuan mungil, terlalu mungil bahkan. Saat itu berat badan anaknya pas-pasan, 2.500 gram. Wulan memberinya nama Nadia Deswita. Ketika usianya baru seminggu, tiba-tiba Nadia mengalami kejang. “Lengan dan kakinya bergerak spontan tak karuan, tidak bisa ditahan walaupun saya dekap kuat-kuat, jadi sambil menangis saya bawa Nadia ke rumah sakit,” kata Wulan.

Dokter anak menyimpulkan Nadia harus dirawat di ICU. Berbagai macam pemeriksaan kemudian dilakukan untuk mengetahui kondisi dan penyebab kejang yang berlangsung cukup lama. Semua hasil pemeriksaan membuat Wulan tak kuasa menahan air mata. “Hasil pemeriksaan USG dan CT Scan menunjukkan Nadia mengalami Mikrosefalus atau mikrosefali. Otak anak saya tak berkembang,” jelas Wulan.


Dokter Toto dari RSCK Tzu Chi Cengkareng melihat dan memeriksa kondisi Nadia yang menderita atrofi cerebri. Penyakit ini membutuhkan perhatian ekstra dengan menerapkan pola makan dan pola hidup sehat.

Kenyataan yang sungguh menyedihkan tapi harus Wulan terima. “Saya harus menyusun rencana buatnya seandainya dia cacat nanti, karena saya sangat yakin bahwa sekalipun dia cacat, Tuhan yang sangat Pengasih pasti menghadiahkan kelebihan buatnya, kelebihan tersembunyi yang harus mampu saya temukan,” ungkap Wulan.

Kini Nadia sudah berusia 10 tahun. Anak perempuan ini mengalami Mikrosefalus, dimana ukuran kepalanya berukuran lebih kecil dari ukuran kepala bayi normal. Ukuran otak Nadia menyusut serta tidak berkembang dengan sempurna.

Wulandhari sebenarnya sudah mengetahui dari dokter kandungan bahwa, kandungannya ada masalah. Saat itu dokter menyarankan untuk digugurkan kandungannya. Namun hati seorang ibu sangat tidak tega karena umur kehamilan sudah 5 bulan dan Wulandhari memutuskan untuk melahirkannya dengan segala risikonya. “Bagaimana pun saya sangat tidak tega untuk menggugurkannya karena sudah jadi janin dan sudah bernyawa,” ujar Wulan.

Beruntung Wulan memiliki anak-anak yang sangat prihatin terhadap kondisi adik mereka, Nadia. Aida Fitria (17) dan M. Zidan (13) sangat sayang terhadap Nadia, mereka sudah bisa mengganti popok, memberi obat dan makan jika Wulan keluar rumah.

Penderitaan makin bertambah ketika sejak 4 tahun lalu suami Wulandhari yang ia andalkan untuk menghidupi keluarganya pergi meninggalkan keluarga tanpa kabar. Kini Wulan tinggal di rumah orang tuanya di Desa Caringin, Kec. Legok, Kab. Tangerang, Banten yang sulit dijangkau.


Dokter Dame memeriksa tenggorokan dan gigi Nadia. Menurut dr. Dame Nadia perlu membersihkan kondisi mulut dan giginya. Saat ini karang gigi Nadia sudah banyak, ia juga mengalami penumpukan lendir di paru-parunya.

Menghidupi 3 orang anak: Aida yang masih sekolah di SMU kelas dua, M. Zidan kelas satu SMP, dan Nadia yang mengalami sakit. Saat ini Wulan tinggal di rumah orang tuanya yang statusnya tergadaikan oleh pihak Bank. Orang tua Wulan adalah seorang pensiunan pegawai negeri yang tidak seberapa. Dari pensiunan orang tua, Wulan sedikit menambah untuk kebutuhan sehari-hari.  

“Ini saja tunggakan listrik belum sanggup saya bayar Rp. 1.500.000. Saya uang dari mana? Sementara pemasukan saya cuma dari hasil berjualan masakan (catering) ke tetangga sekitar rumah,” ungkapnya. Wulan sendiri banyak membutuhkan biaya untuk memenuhi susu Nadia, popok, dan kebutuhan biaya sekolah kedua anaknya.

Saat ini Nadia sudah tidak kontrol lagi ke dokter syaraf. Menurut dokter syarafnya Nadia tidak perlu menjalani terapi di rumah sakit karena hasilnya sangat kecil sementara biaya perjalanan dari Legok, Tangerang ke RS. Fatmawati, Jakarta Selatan sangat mahal dan jauh. “Yang ada setiap pulang dari rumah sakit kondisi kesehatan Nadia justru menurun karena letih di perjalanan,” ungkap Wulan.

Tak hilang akal, Wulan belajar menerapi Nadia setiap paginya. Setiap pagi anggota badan Nadia, kaki dan tangannya digerak-gerakkan. “Yaa sama seperti yang terapi di rumah sakit seperti itu,” jelas Wulan. “Yang penting sekali kebutuhan nutrisinya, Nadia harus minum susu formula tertentu dan harganya lumayan mahal, yang lainnya nggak cocok. Makanya untuk kebutuhan Nadia, saya mohon bantuan dari Yayasan Buddha Tzu Chi,” lanjut Wulan.

Mencoba untuk Normal Kembali       
Di tahun 2013 Nadia sempat menjalani operasi untuk merenggangkan tempurung otaknya agar dapat berkembang. Namun, menurut Dokter Toto, rentang waktu itu sudah terlalu lama, sel saraf otak atau neuron Nadia sudah tidak berkembang lagi. Kini otak Nadia menyusut dan mengecil dari pada ukuran aslinya.


Merry Christine, relawan Tzu Chi komunitas Tangerang menghibur Nadia dan keluarga untuk selalu semangat dalam mengurus Nadia.

“Saat ini kelainan yang dialami Nadia bukan mikrosefali (microcephaly) lagi. Saat ini Nadia mengalami atrofi cerebri dimana otak Nadia tidak berkembang sempurna,” ujar dr. Toto. Atrofi cerebri adalah kehilangan sel ataupun penyusutan yang membuat otak mengecil karena neuron dan jaringan sel saraf di dalamnya mengalami penyusutan atau justru menghilang.

Menurut dr. Toto, saat ini kondisi Nadia harus dijaga dengan menerapkan pola hidup sehat. Penerapan menu harian yang sehat dan bergizi perlu dilakukan. “Nutrisinya dan terapi gerakan anggota tubuhnya harus dijaga, nutrisi sangat penting untuk Nadia,”ujar dr. Toto.

Sedangkan menurut dr. Dame, orang tua Nadia sudah mampu menjaga dan merawat Nadia. “Kondisinya saat ini banyak dahak di paru-parunya, kita sarankan untuk menepuk-nepuk punggungnya untuk mengurangi dahak di paru-paru, berjemur sinar matahari pagi agar paru-parunya sehat dan pernapasannya lancar,” ujar dr. Dame.

Lebih lanjut dr. Dame mendiaknosa kesehatan Nadia saat ini mengalami kelainan gangguan pernapasan bawaan sejak lahir. Namanya laringomalasia (laryngomalacia) dimana Nadia bernapas dengan berisik dan mendengkur ketika tidur. Hal ini disebabkan oleh tulang rawan yang berfungsi sebagai pembuka jalur pernapasan belum matang sempurna.

Memberi Dukungan dan Semangat
Sebagai salah satu bagian dari tim medis RSCK, berkunjung ke rumah pasien menjadi kesempatan baik untuk menjalin hubungan sekaligus memeriksa kondisi kesehatan pasien. PAra dokter juga bisa langsung mengedukasi keluarga tentang mencegah, menjaga, dan melakukan perawatan kesehatan yang baik dan sehat di rumah.


Dokter Dame dan Merry Christine bersama Wulandhari (ibu Nadia) gembira ketika Nadia memberikan respon suara dan gerakan tangan ketika disapa oleh dokter.   

Selain tim medis, kehadiran relawan juga menjadi semangat tersendiri. Seperti Handoko dan relawan Tzu Chi Xie Li Tangerang lainnya yang selama 8 tahun ini mendampingi Wulan dan keluarga.

Pada setiap kunjungannya, relawan Tzu Chi dan tim medis selalu memantau perkembangan Nadia dan keluarga. Sebagai relawan Tzu Chi, Handoko juga merasa bertanggung jawab untuk memastikan kondisi mereka membaik bukan hanya dari segi fisik, namun juga dari segi emosional dan sosial keluarganya.

Dengan adanya relawan Tzu Chi yang kerap berkunjung, Wulandhari menjadi terbuka dan merasa mempunyai keluarga baru dan teman bercerita. Dari sana ia bisa mencurahkan kesedihan, ketakutan, dan kekhawatiran yang sedang ia rasakan. Dukungan yang diberikan oleh relawan dan tim medis ini pun membuat Wulan merasa tenang dan bisa semangat menjalani hidupnya.

Editor: Metta Wulandari

Artikel dibaca sebanyak : 750 kali


Berita Terkait


Satu Mata Kembali Melihat, Satu Keluarga Bersukacita

15 Juni 2020

Ada Penghiburan dan Perhatian di Yayasan Galuh

25 Februari 2020

Menjalani Ujian Hidup dengan Sabar dan Ikhlas

21 Februari 2020

Mengunjungi Salbiyah dan Darsan, Penerima Bantuan Tzu Chi

19 Februari 2020

Berbagi Berbagai Rasa Bersama

06 Februari 2020


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Melatih diri adalah membina karakter serta memperbaiki perilaku.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat