Jumat, 15 November 2019
Indonesia | English

Sepenuh Hati Merawat Kurniadi

10 April 2017 Jurnalis : Arimami SA
Fotografer : Arimami SA

doc tzu chi

dr. Budi Setiawan memeriksa kondisi perut Kurniadi saat melakukan penanganan langsung di rumah Kurniadi di wilayah Bungur, Senen, Jakarta Pusat.

Niatnya untuk melanjutkan sekolah kesetaraan kejar paket B (SMA) pun kandas setelah musibah yang menimpa dirinya saat bekerja pada 2007 silam. Kini, Kurniadi atau yang akrab disapa Dodi hanya bisa terbaring dan melewati hari-harinya di ruangan berukuran 3x4 meter di wilayah Senen, Jakarta Pusat.

Sebelumnya, Kurniadi bekerja sebagai buruh pada bagian gudang penyedia alat berat di wilayah Cikarang. Di sini ia berinisiatif untuk melanjutkan pendidikannya yang sempat terputus. Karena kebijakan perusahaan, ia dimutasi menuju gudang kantor yang berada di wilayah Sunter, Jakarta Utara. Sebelum dipindahkan, Kurniadi sudah mendaftar sekolah kesetaraan kejar paket B di Bekasi. “Biar ada perubahan dalam hidup saya, saya sekolah kejar paket B di Bekasi untuk meneruskan pendidikan selepas SMP yang saat itu tidak saya lanjutkan,” ungkap Kurniadi.

Walaupun bekerja di daerah Sunter, Kurniadi tetap bersemangat sekolah sambil bekerja untuk membiayai hidupnya. Ketika terdapat jadwal masuk sekolah, ia naik angkutan umum dari Sunter menuju Bekasi, kemudian kembali lagi untuk bekerja. Semangat untuk kehidupan yang lebih baik dari pria kelahiran Jakarta, 12 Oktober 1971 ini pun sungguh tak terbendung.

Namun takdir berkata beda pada bulan Juli 2007. Saat sedang membongkar alat berat dari truk kontainer, tiba-tiba salah satu alat berat yaitu mesin penggiling padi tergelincir dari posisinya dan menimpa Kurniadi. “Alat berat dengan berat 250 kg tersebut terjatuh. Reflek, saya langsung menghindar karena arahnya ke kepala,” ungkapnya. Walaupun sudah menghindar tetapi alat tersebut tetap mengenai bagian pinggul Kurniadi. Mengetahui hal ini, rekan-rekan kerjanya segera melarikan Kurniadi ke RS Islam, Cempaka Putih untuk segera mendapatkan perawatan.

Kurniadi dirawat selama satu bulan di RS Islam, Cempaka Putih. Karena tidak kunjung membaik, akhirnya Kurniadi dibawa pulang ke rumahnya. Ia pun tinggal di sebuah ruangan berukuran 3 x 4 meter dengan satu kamar mandi di jalan Bungur Besar VII, RT 008/03, Senen, Jakarta Pusat bersama M. Tahir, salah satu kakaknya yang setiap hari bersama dan mengurus Kurniadi karena sudah tidak bisa berjalan.


Selain penanganan keluhan Kurniadi, dr. Budi Setiawan juga memeriksa kondisi fisik dasar Kurniadi dengan memeriksa tensi darah Kurniadi.

Jalinan Jodoh Baik

Pertemuan Kurniadi dengan relawan Tzu Chi pun juga tanpa disengaja. Saat itu pada tahun 2014, relawan Tzu Chi Komunitas He Qi Pusat sedang melakukan survei pasien kasus di wilayah Bungur Besar, Jakarta Pusat. Hwanie Massi dan Acun, dua relawan dari Xie Li Sunter saat melakukan kunjungan kasih mendapat laporan dari Ketua RT 008/03, Bungur, Jakarta Pusat bahwa ada salah satu warganya yang sakit serta tidak bisa berjalan membutuhkan bantuan.

Relawan Tzu Chi, Hwanie Massi dan Acun pun menyempatkan diri untuk mengunjungi warga yang dimaksud (Kurniadi). Kedua relawan tersebut terkejut dengan kondisi Kurniadi dan tempat tinggalnya. “Saat itu kondisi rumahnya  pendek dan lantainya rendah dibandingkan rumah-rumah yang lain, jika hujan terkadang banjir,” ungkap Hwanie Massi menceritakan kondisi tempat tinggal Kurniadi. Setelah memiliki data dari survei terhadap pasien penanganan khusus Kurniadi, pada tanggal 13 Desember 2014 di tindak lanjuti permohonan bantuan tersebut oleh Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia untuk mendapatkan bantuan biaya hidup dan pengobatan.

Di tahun yang sama, Kota Jakarta mengalami banjir karena curah hujan yang cukup tinggi. Rumah Kurniadi pun terendam, ia bersama kakaknya, M. Tahir masih bertahan walaupun kondisi rumahnya terendam setinggi 50 sentimeter. “Kurniadi bingung saat itu, karena tetangga-tetangganya sudah mengungsi. Akhirnya ia telepon saya malam-malam minta dievakuasi ke tempat yang aman,” kata Hwanie Massi. Setelah mendapat laporan dari Kurniadi, Hwanie Massi segera melakukan koordinasi dengan ketua relawan Tzu Chi Komunitas He Qi Pusat saat itu supaya diteruskan ke Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia. Kurniadi bersama kakaknya pun kemudian dievakuasi menuju Rusun Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng dan tinggal sementara pada tahun 2014-2015 sekaligus menjalani pengobatan di Rumah Sakit Cinta Kasih (RSCK) Tzu Chi. Selain mendapatkan bantuan, Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia juga merenovasi tempat tinggal Kurniadi supaya lebih layak, bersih, dan tidak terkena banjir.

Relawan Tzu Chi Komunitas He Qi Pusat terus melakukan pendampingan setelah kurniadi kembali ke rumahnya yang sudah direnovasi. “Kami terus melakukan pendampingan. Jika tidak bisa guan huai (kunjungan kasih), biasanya komunikasi lewat telepon dengan Kurniadi,” pungkas Hwanie Massi. Pada bulan Maret 2017, Kurniadi mengeluhkan kondisi pencernaannya kepada relawan Tzu Chi saat kunjungan kasih. Relawan pun segera merespon dengan melaporkan kondisi yang dialami oleh Kurniadi kepada Yayasan Buddha Tzu Chi.


Dokter, perawat, dan staf Rumah Sakit Cinta kasih (RSCK) Tzu Chi saat melakukan kunjungan kasih serta penanganan keluhan pasien kasus Kurniadi bersama relawan Tzu Chi Komunitas He Qi Pusat, Hwanie Massi.

Penanganan ke Rumah Pasien

Laporan dari relawan tentang kondisi Kurniadi segera diteruskan oleh Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia kepada pihak Rumah Sakit Cinta Kasih (RSCK) Tzu Chi supaya diberikan penanganan. Kemudian pada 6 April 2017, pihak Rumah Sakit Cinta Kasih (RSCK) Tzu Chi segera mengirimkan dokter, perawat, dan beberapa staf untuk melihat kondisi Kurniadi.

Kurniadi pun ditangani oleh dokter umum RSCK, dr. Budi Setiawan untuk mendapatkan perawatan serta pengobatan. “Hari ini kita mengunjungi Kurniadi, pasien yang mempunyai riwayat fractures column vertebrae (patah tulang di tulang bagian belakang-red) yang mengalami kesulitan BAB (buang air besar),” ungkap dr. Budi Setiawan. Ia juga menambahkan, keluhan yang dialami oleh Kurniadi karena ia tidak bisa banyak bergerak sehingga mengganggu pencernaannya. “Karena posisinya setiap hari tertidur, itu yang menyebabkan sulit BAB. Sejauh ini masih dalam keadaan wajar keluhannya,” imbuh dr. Budi Setiawan.

Selain menangani keluhan Kurniadi, dr. Budi Setiawan juga memeriksa kondisi kesehatan Kurniadi secara keseluruhan. “Selain keluhan, kami juga melakukan pemeriksaan fisik dasar seperti tensi darah, denyut nadi, suhu badan, dan lain-lain,” ungkap dr. Budi Setiawan. Secara keseluruhan, kondisi Kurniadi dinilai bagus oleh dr. Budi Setiawan. Ia juga berharap Kurniadi mau melakukan operasi lanjutan supaya ada perkembangan. “Menurut saya kondisinya bagus, untuk ke depannya saya berharap Kurniadi mempunyai keberanian lebih untuk melakukan operasi lanjutan, karena klo tidak ada keberanian maka tidak ada perkembangan, hanya bisa miring ke kanan dan ke kiri saja,” ungkap dr. Budi Setiawan.

Operasi lanjutan yang dimaksud dr. Budi Setiawan adalah operasi untuk mendukung aktifitas Kurniadi setiap hari supaya tidak hanya tidur. Sampai saat ini, Kurniadi masih merasa takut untuk melakukan operasi lanjutan karena memiliki resiko. “Jika pasien mau ada perubahan yang signifikan, ya harus mengambil pilihan tersebut. Minimal bisa duduk, supaya bisa berjalan dengan kursi roda,” tutup dr. Budi Setiawan. 

Artikel dibaca sebanyak : 1569 kali


Berita Terkait




Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Hakikat terpenting dari pendidikan adalah mewariskan cinta kasih dan hati yang penuh rasa syukur dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat