Rabu, 21 Oktober 2020
Indonesia | English

Solusi Mudah Membuat Eco Enzyme

14 Oktober 2020 Jurnalis : Arimami Suryo A.
Fotografer : Arimami Suryo A.

Relawan Tzu Chi, Juny Leong meyiapkan bahan-bahan dan mempraktikan cara yang mudah untuk membuat Eco Enzyme dengan rasio 1: 3: 10.

Mendengar kata Eco Enzyme tentu saja sudah tidak asing di telinga namun belum banyak yang mempraktikkan untuk membuatnya. Kebanyakan dari mereka bertanya-tanya bagaimana cara membuatnya. Jawabannya mudah!

Kita dapat membuat Eco Enzyme dengan bahan-bahan yang mudah didapat dengan harga murah dan pembuatannya juga lebih mudah dengan perbandingan (rasio) 1:3:10. Di tengah pandemi Covid-19 saat ini, tentunya membuat Eco Enzyme menjadi sebuah kegiatan yang menarik untuk mengisi waktu luang kita di rumah.

Eco enzyme atau dulu disebut Garbage Enzyme ditemukan oleh Dr. Rosukon dan disebarkan secara meluas terutama di Asia oleh Dr. Joean Oon, seorang peneliti Naturopathy dari Penang, Malaysia. Asalnya dari larutan zat organik yang diproduksi dari proses fermentasi bahan organik, gula, dan air dalam kurun waktu tertentu. Hasilnya pun memiliki segudang manfaat. Cairan dari bahan-bahan ramah lingkungan tersebut dapat dijadikan cairan pembersih, pupuk, pengusir hama, dan yang paling penting sebagai salah satu cara melestarikan lingkungan.


Langkah pertama pembuatan Eco Enzyme dengan mencampurkan air dan gula ke dalam wadah plastik. Jangan menggunakan wadah yang berbahan kaca karena fermentasi Eco Enzyme akan menghasilkan gas dan membuat wadah berisiko pecah.

Relawan Tzu Chi, Juny Leong mempraktikkan mudah dan asyiknya membuat Eco Enzyme di rumahnya di Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara. “Sangat mudah ya (membuat Eco Enzyme), karena ini dari limbah dapur. Setiap rumah tangga pasti memasak, dari situ pasti ada sisa bahan sayuran, kulit buah. Itu yang kita manfaatkan,” ungkapnya.

Saat dikunjungi tim Dokumentasi dan Publikasi Tzu Chi Indonesia pada Senin 12 Oktober 2020, Juny, panggilan akrabnya sudah mempersiapkan meja dengan peralatan dan bahan-bahan untuk membuat Eco Enzyme. Dengan adanya Eco Enzyme, Juny juga mengakui bahwa selain mengurangi limbah, banyak manfaat pula yang bisa didapatkan dari Eco Enzyme.

Juny juga mengenal dan tertarik dengan Eco Enzyme semenjak bergabung menjadi relawan Tzu Chi. Di tengah kondisi PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) terkait Covid-19, ia mengisi waktu luangnya dengan membuat Eco Enzyme. “Karena anjuran untuk berada di rumah saja dari pemerintah, maka kita bisa memanfaatkan waktu dengan membuat Eco Enzyme,” ungkap wanita yang sudah 5 tahun bergabung menjadi relawan ini.

Mudahnya Membuat Eco Enzyme


Bahan-bahan organik untuk pembuatan Eco Enzyme juga mudah didapat di sekitar kita. Salah satunya adalah limbah dapur seperti kulit buah dan sisa-sisa sayuran.

“Salam Eco Enzyme, 1:3:10,” ungkap Juny dibarengi dengan gerakan tangan untuk salam tersebut sebelum memulai praktik membuat Eco Enzyme. Ia pun melanjutkan dengan menjelaskan apa itu Eco Enzyme dan menjelaskan bahan-bahan yang bisa digunakan untuk praktik.

“Bahan-bahan yang bisa kita gunakan yaitu kulit pisang, kulit melon, kulit jeruk, batang-batang sayuran, dan bahan lainnya, tetapi jangan keras contohnya biji salak dan kulitnya. Setelah itu kita memakai gula merah, gula aren, molase (tetes tebu), dan gula lainnya kecuali gula pasir karena bukan gula murni, selanjutnya ditambah air sesuai perbandingan,” jelas Juny.

Selanjutnya, Juny pun menjelaskan perbandingan 1: 3: 10 yang harus selalu diingat untuk membuat Eco Enzyme.

“Apa itu rasio 1: 3: 10 ? 1 yaitu gula (1 kg), 3 yaitu bahan organik (3 kg), dan 10 yaitu air (10 liter). Tetapi jika ingin membuat untuk wadah yang lebih kecil, kita bisa menurunkan perbandingan menjadi 0,5 (1/2 kg) gula, 1,5 kg bahan organik, dan 5 liter air atau bisa menyesuaikan dengan ukuran wadah yang bervariasi dengan mengisi 60% air ditambah bahan organik dan gula (dengan rasio) sehingga menyisakan 20% ruang dalam wadah untuk proses fermentasi Eco Enzyme,” jelas Juny.


Untuk bahan-bahan organik yang berukuran besar bisa kita perkecil sesuai dengan ukuran wadah dengan cara digunting.

Langkah selanjutnya, Juny kemudian mengambil wadah plastik dengan kapasitas 10 liter. Ia menggunakan perbandingan 0,5: 1,5: 5 karena bisa digunakan di rumah-rumah dengan limbah dapur (bahan organik) yang sedikit.

Setelah semua bahan dipersiapkan dan ditimbang, Juny Leong memulai langkah pertama dengan memasukan air sebanyak 5 liter ke dalam wadah berukuran 10 liter. Ia lalu menambahkan molase (tetes tebu) sebanyak 0,5 kg kemudian dimasukkan ke dalam wadah yang telah berisi air 5 liter.

“Sampai di sini kita aduk terlebih dahulu air dan molasenya hingga tercampur dengan rata,” ungkap Juny.

Setelah merata, langkah selanjutnya memasukkan bahan organik. Dalam praktik pembuatan Eco Enzyme ini, Juny Leong menggunakan bahan organik berupa kulit buah dan sisa-sisa sayuran. “Satu persatu kita masukkan bahan limbah organik. Jika ada yang besar bisa kita potong kecil-kecil,” jelasnya. Karena tidak semua rumah menyisakan limbah organik sebanyak 1,5 kg setiap harinya, maka bahan organik bisa ditambahkan di hari-hari berikutnya. “Jika bahan organik di rumah belum mencapai ukuran 1.5 kg, selama satu minggu masih bisa kita tambahkan ke dalam wadah hingga mencapai ukuran tersebut,” kata Juny.


Supaya tidak membuka tutup wadah Eco Enzyme setiap hari untuk membuang gas hasil fermentasi, dapat dibuat alat ventilasi untuk pembuangan gas secara otomatis.

Semua bahan yang telah tercampur kemudian diaduk kembali beberapa saat dan ditutup rapat. Dari hasil rasio 0,5: 1,5: 5 dalam wadah plastik kapasitas 10 liter, masih tersisa ruang kosong dalam wadah sebanyak 3 liter dan ini digunakan sebagai ruang untuk proses fermentasi.

Langkah selanjutnya, Juny Leong menempelkan kertas bertuliskan tanggal pembuatan di wadah Eco Enzyme yang baru dibuat. “Jangan lupa menempelkan tanggal saat membuat karena proses fermentasi Eco Enzyme selama 3 bulan. Setelah itu baru bisa disaring dan menghasilkan larutan Eco Enzyme,” jelasnya.

Eco Enzyme yang dibuat di dalam wadah bermulut kecil (jeriken) harus dibuka setiap hari di awal pembuatan selama 14 hari (2 minggu). Hal ini karena proses fermentasi Eco Enzyme menghasilkan gas. Oleh Juny Leong, cara ini dipermudah dengan membuat lubang ventilasi untuk membuang atau melepas gas secara otomatis sehingga tidak perlu membuka tutup wadah setiap harinya. 

“Selain membuka tutup wadah Eco Enzyme setiap hari, kita juga bisa membuat alat untuk pelepasan gas dengan menggunakan selang kecil, lem tembak, dan botol bekas kemasan air mineral,” kata Juny. “Caranya mudah, kita cukup melubangi tutup wadah Eco Enzyme sesuai dengan diameter selang, kemudian masukan selang sesuai keinginan ke dalam tutup, gunakan lem untuk menutup permukaan lubang tutup yang telah dimasukkan selang. Begitu juga dengan botol air bekas air mineral, tetapi bedanya permukaan tutup botol tidak dilem supaya gas bisa keluar dan terbuang,” jelas Juny. Setelah itu alat ventilasi bisa direkatkan di samping wadah Eco EnzymeSetelah 10 hari maka lubang ventilasi itu harus ditutup kembali agar proses fermentasi dapat terjadi secara sempurna. Meski begitu, sesekali juga perlu dicek atau dibuka tutupnya berjaga-jaga ada gas yang muncul sesudahnya.


Eco Enzyme yang menunggu waktu untuk proses penyaringan (panen) buatan oleh Juny Leong di halaman rumahnya.

Proses pembuatan Eco Enzyme tidak memakan waktu lama, sekitar 30 menit. “Asyik banget, selain mengisi waktu di rumah cara membuatnya juga mudah. Membuat Eco Enzyme juga menghibur. Setiap kita mengecek terkadang suka ada bunyi-bunyi yang khas saat proses fermentasinya,” tambahnya.

Selain mempraktikkan proses pembuatan Eco Enzyme, Juny juga akan mempraktikkan proses penyaringan Eco Enzyme yang sudah siap untuk digunakan. “Nanti kita sama-sama panen Eco Enzyme yang sudah siap. Karena cairan ini bisa digunakan untuk banyak hal termasuk kesehatan juga,” tutup Juny.

Editor: Metta Wulandari

Artikel dibaca sebanyak : 1157 kali


Berita Terkait




Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Hanya dengan mengenal puas dan tahu bersyukur, kehidupan manusia akan bisa berbahagia.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat