Sabtu, 08 Agustus 2020
Indonesia | English

Tak Ingin Sekadar Diberi

29 Juli 2020 Jurnalis : Khusnul Khotimah
Fotografer : Khusnul Khotimah

Bambang Haryanto (60) merupakan seorang penginjil yang menjadi penerima bantuan Tzu Chi. Ia menerima bantuan biaya hidup, sudah dua tahun ini. Tak ingin sekadar menerima, ia juga ingin memberi. Setiap Selasa dan Kamis ia datang ke Depo Pelestarian Lingkungan Tzu Chi di Duri Kosambi, Cengkareng, Jakarta Barat untuk membantu memilah sampah daur ulang.


Atas inisiatif sendiri, Pak Bambang membantu kegiatan pelestarian lingkungan di Depo Duri Kosambi.

Pagi itu jam dinding depo baru menunjukkan pukul 08.30 WIB. Setibanya di sana, Pak Bambang langsung menyandarkan sepeda tuanya dan bergegas untuk memilah. Hari itu (28/7/2020), ia memisahkan antara kertas berwarna dan kertas putih.

Di depo, Pak Bambang sangat disegani. Bukan hanya karena ia sudah sepuh, tapi juga karena ia sangat tekun memilah barang daur ulang.

“Karena apa yang dikatakan Tzu Chi, sampah menjadi emas. Artinya kita perlu membantu orang-orang yang membutuhkan, saya dibantu oleh Tzu Chi, saya juga bantu tenaga. Nggak hanya saya dibantu saja, saya membantu apa yang saya bisa,” tuturnya.


Elvina salut dengan sumbangsih Pak Bambang di depo.

Biasanya ia akan pulang pada pukul 12.00 WIB. Pak Bambang mengaku, sejak aktif memilah barang daur ulang, tangannya yang dulu kaku, sudah biasa lagi, badannya pun semakin berenergi.

Dengan usianya yang sudah memasuki kepala enam, Pak Bambang sudah tidak bisa bekerja lagi. Praktis, kegiatannya saat ini hanya dua, datang ke depo dan penginjilan.

“Saya daur ulang saja. Karena yang lainnya saya ada pekerjaan gereja, melayani, saya kunjungan, doakan orang, memberkati apa yang saya bisa, memberkati orang yang membutuhkan,” jelasnya.

Dibantu Oleh Tzu Chi 


Pak Bambang menerima paket sembako Tzu Chi.

Pak Bambang muda telah bekerja di banyak perusahaan. Pernah bekerja di pengeboran lepas pantai, namun kena pemutusan hubungan kerja (PHK), pernah bekerja di stasiun televisi, pernah juga bekerja di Bandara Soekarno Hatta, juga beberapa perusahaan lainnya. Namun saat itu Pak Bambang kurang cukup menabung. Ia sendiri menyebut dirinya kurang berkhidmat, sehingga di masa tua tak memiliki tabungan.

Dalam keadaan yang sangat sulit dan belum mendapatkan pekerjaan lagi, ditambah pula ia sempat terjatuh di rawa-rawa, Pak Bambang melihat tayangan DAAI TV. Siaran itu menayangkan beberapa penerima bantuan Tzu Chi. Ia pun datang ke Kantor Tzu Chi Indonesia di Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara untuk mengajukan bantuan.


Dengan tenaga yang masih tersisa, Pak Bambang mengayuh sepeda pulang dari Depo Pelestarian Lingkungan Tzu Chi di Duri Kosambi, menuju kontrakannya.

Tak butuh waktu lama, tepatnya pada 12 Februari 2018, tim relawan Tzu Chi di Komunitas He Qi Barat 2 pun datang ke rumah kontrakannya di Kampung Duri, masih di Kelurahan Duri Kosambi. Rumah kontrakan yang dihuni Pak Bambang bersama istrinya, Bu Ivo kurang layak huni. Sempit, tak berjendela, dengan langit-langit yang rendah. Elvina masih ingat betul saat ia bersama relawan Tzu Chi lainnya datang menyurvei.

“Waktu itu rumah kontrakannya juga tidak ada listrik, itu sampai tak ada uang untuk beli token listrik. Jadi gelap gulita. Trus masaknya juga pakai kayu bakar. Jadi sungguh memprihatinkan,” ujar Elvina.

Saat itu, tambah Elvina, Pak Bambang sudah tidak bekerja selama 10 tahun setelah perusahaan tempatnya bekerja gulung tikar. Begitu juga Bu Ivo yang sebelumnya bekerja di sebuah kantin kantor PLN. Mereka pun dibantu oleh adik Bu Ivo.


Pak Bambang begitu bersyukur dengan bantuan Tzu Chi yang sudah dua tahun ini diterimanya.

Melihat kondisi yang memprihatinkan ini, dua pekan kemudian, tim relawan Tzu Chi pun memutuskan untuk memberikan bantuan biaya hidup setiap bulannya kepada Pak Bambang.

“Jadi seperti kata Master Cheng Yen ya kita harus bergerak cepat untuk menolong. Jadi pada saat itu kita pulang setelah survei, kita diskusikan dan memutuskan untuk memberi bantuan biaya hidup kepada beliau,” kata Elvina.

Elvina juga salut dengan Pak Bambang. Untuk kondisinya yang sudah usia lanjut, sumbangsihnya dengan datang ke depo untuk melakukan daur ulang sudah sangat bagus.

“Ini sudah sesuai dengan Misi Amal kita yaitu membantu orang lain dan orang tersebut juga bisa membantu orang lain lagi yaitu dengan bersumbangsih. Tidak hanya dengan materi, tapi dengan tenaga yang dia punya,” kata Elvina.


Pak Bambang bersama Bu Ivon dengan antusias membuka paket sembako Tzu Chi.

Sementara itu, untuk menunjang kebutuhan hidup, Pak Bambang dan Bu Ivon juga memanfaatkan lahan kosong di belakang kontrakannya untuk bertanam. Ada pohon pisang, singkong, dan cabe, kacang, dan daun katuk. Daun pisang misalnya, kerap dibeli oleh tetangganya.

“Saya bersyukur, bantuan Tzu Chi memberikan kekuatan hidup untuk saya. Karena seumur saya, cari pekerjaan sudah sulit, apalagi sekarang ada corona begini,” katanya.

Pak Bambang mengaku selalu mendoakan agar para relawan Tzu Chi senantiasa sehat sehingga dapat terus membantu masyarakat yang membutuhkan uluran tangan.  

“Untuk Tzu Chi, supaya pemimpin Tzu Chi (dan relawannya) semuanya diberikan kesehatan, diberikan kekuatan, diberkati yang melimpah,” pungkas Pak Bambang.

Editor: Metta Wulandari

Artikel dibaca sebanyak : 192 kali


Berita Terkait


Merawat Frans, Merawat Harapan

23 Juli 2020


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Bila sewaktu menyumbangkan tenaga kita memperoleh kegembiraan, inilah yang disebut "rela memberi dengan sukacita".

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat