Rabu, 22 Mei 2019
Indonesia | English

TGIF: To be Grateful is Fantastic

22 Maret 2018 Jurnalis : Michelle Novenda (Tzu Ching)
Fotografer : Dok. Tzu Ching

Dua hari berturut-turut, 17 – 18 Maret 2018, muda mudi Tzu Chi (Tzu Ching) Jakarta mengadakan kegiatan Adventure of love and happiness (Aloha) Camp yang mengangkat tema TGIF: To be Grateful is Fantastic.

Tak kenal maka tak sayang,” begitu kata MC pada Adventure of love and happiness (Aloha) Camp yang diadakan oleh muda mudi Tzu Chi Jakarta (Tzu Ching) tahun ini. Tahun ini, Aloha Camp diadakan pada tanggal 17 – 18 Maret 2018, dan diberi tema TGIF: To be Grateful is Fantastic.

Tahun ini, ada 42 peserta yang mengikuti Aloha Camp, mereka datang dari berbagai wilayah di Jakarta dan berasal dari berbagai universitas. Ada yang dari Universitas Tarumanagara, Universitas Bina Nusantara, Universitas Pelita Harapan, Universitas Multimedia Nusantara, dan beberapa universitas lainnya. Mereka semua berkumpul di Tzu Chi Center, Pantai Indah Kapuk untuk belajar banyak hal selama dua hari berturut-turut.

Berani Bervegetaris?

Pada hari pertama kamp, para peserta diberikan suatu tantangan untuk bervegetaris selama sebulan. Ada sebanyak 12 orang yang menerima tantangan tersebut. Namun, ada satu orang lainnya yang menerima tantangan yang berbeda, yakni bervegetaris sepanjang hidupnya. Ia adalah Valdi Stefanus (21), mahasiswa Teknik Informatika dari Universitas Bina Nusantara.

Valdi Stefanus (kiri) mahasiswa Teknik Informatika dari Universitas Bina Nusantara bertekad untuk bervegetaris sepanjang hidupnya. Tekad itu ia ucapkan di depan para peserta Aloha Camp.

“Pertama kali kenal Tzu Chi itu pas lagi iseng ganti channel TV, terus lihat DAAI TV, itu pas tahun 2007,” kata Valdi Stefanus. Ia merasa terinspirasi dari semangat relawan Tzu Chi yang rela membantu orang tanpa pamrih, juga tanpa melihat suku, ras, maupun agama. Maka dari itu, pada tahun 2012 ia membulatkan tekad untuk bergabung dengan Tzu Chi. Kegiatan kerelawannannya ia mulai dengan kegiatan daur ulang di Taman Harapan Indah, Jelambar, Jakarta Barat.

Selama mengenal Tzu Chi, Valdi memiliki pengalaman pribadi tersendiri. Ia bercerita bahwa pada tahun 2011, saat almarhum kakak tercintanya diserang leukemia, relawan Tzu Chi dengan sigap membantu keluarganya secara finansial dan memberikan pendampingan. Hingga tahun 2012 ketika kakaknya telah meninggal, relawan Tzu Chi tetap datang setiap hari untuk memberikan semangat.

Dalam Aloha Camp ini, Valdi bahkan menerima tantangan untuk bervegetaris sepanjang hidup. Ketika ditanya kenapa, ia menjawab, “Dulu sebenarnya pernah coba bervegetaris, tapi badan jadi sakit-sakitan, makanya orang tua bilang stop aja bervegetaris. Tapi saya pikir kali ini saya diberi kesempatan lagi, pasti saya ambil, karena saya yakin kalau dulu pernah mencoba pasti sekarang bisa, kalau dulu gagal pasti sekarang berhasil. Lagipula makanan vegetaris enak-enak, banyak variasinya, bahkan manfaatnya juga banyak,” ucapnya tersenyum.

Dalam Aloha Camp, para peserta belajar banyak hal baru seperti belajar pelestarian lingkungan, isyarat tangan, games, Sutra Bakti, sharing, olahraga, sampai kunjungan kasih.

Tak Menunda Kesempatan untuk Berbakti

Sesi lain yang ada di Aloha Camp adalah sesi mengingat bakti kepada orang tua. “Ada dua hal yang tidak bisa ditunda, yakni berbakti kepada orang tua dan berbuat kebajikan,” begitu kata pembawa acara saat sebuah video. Kalimat tersebut memang tidak ada salahnya, hal tersebutlah yang dialami oleh salah seorang peserta Aloha Camp, Tasya Andryan.

Tasya, mahasiswi Universitas Bunda Mulia jurusan Ilmu Komunikasi ini memiliki dua pasang orang tua – Ayah dan Bapak, Ibu dan Mimi. Hatinya merasa sangat tergerak ketika diputarkan video. “Emang kayaknya video yang diputerin itu mirip banget ceritanya sama yang aku alamin sendiri,” tutur Aya, panggilan dari mahasiswi semester 4 ini.

Peserta diajak bersama menuliskan ungkapan cinta untuk orang tua mereka dalam sesi Sutra Bakti Seorang Anak. Di sini mereka juga diingatkan untuk tidak menunda kesempatan untuk berbakti.

Saat berumur 3 bulan, ayah kandung Tasya meninggal dunia. Ia kemudian diangkat anak oleh saudari ayah kandungnya. Sayangnya, ketika Tasya kecil, ia juga harus ditinggal oleh Ibu angkatnya. Tasya bercerita, sepulang sekolah ibunya yang semula sehat-sehat saja tiba-tiba terserang stroke lalu jatuh dan langsung meninggal. Ia sangat menyesal karena sebagai anak yang masih kecil, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Tasya tidak bisa membawa ibunya ke rumah sakit. Dalam momen tersebut ia ingin setiap orang tidak pernah menunda untuk berbakti pada orang tua.

Tasya pertama kali mengenal Tzu Chi dari kampusnya, saat ada acara Waisak. Ia berkata bahwa pada dasarnya memang tertarik dengan kegiatan sosial. Ia juga merasakan keunikan dari Tzu Chi, yakni selalu membantu orang tanpa pamrih, tanpa melihat berbagai perbedaan. Selama di Tzu Chi, ia banyak melewati pengalaman-pengalaman yang tidak bisa ia lupakan, dari sana ia merasa tergerak saat melihat kegiatan-kegiatan sosial di Tzu Chi. 

Tasya merasa sangat gembira karena bisa mengikuti kamp. “Seru kampnya, temanya bagus, mendidik, memberi inovasi, selain itu juga bisa nambah banyak teman di sini,” tuturnya. Melalui kamp ini, ia telah menambah banyak wawasan. Ia juga belajar bagaimana harus menghargai hidup sendiri, mendapat pengalaman bervegetaris walaupun dirinya sendiri telah bervegetaris. “Intinya saya belajar bagaimana kita harus mensyukuri hidup di setiap langkah, di setiap nafas kita,” imbuhnya.

Rasa Syukur Menggerakkan Hati

Untuk lebih lanjut belajar mensyukuri hidup, para peserta Aloha Camp diajak untuk langsung berinteraksi dengan para penerima bantuan Tzu Chi. Dua muda mudi Tzu Ching, Brian (19) dan Ivan Rivaldy (19), baru saja mendapatkan pengalaman tak terlupakan saat mengikuti Aloha Camp tahun ini, yaitu saat kunjungan kasih.

Untuk lebih lanjut belajar mensyukuri hidup, para peserta Aloha Camp diajak untuk langsung berinteraksi dengan para penerima bantuan Tzu Chi.

“Kalau kita mengunjungi orang lain yang sedang membutuhkan itu kan berarti kita sudah membantu dia, baik dalam segi finasial dan emosional. Dari kunjungan kita, mereka pasti merasa dipedulikan, jadi secara otomatis dia merasa lebih baik, merasa senang, dan kita sendiri juga senang bisa menanam karma baik, membantu orang,” tutur Ivan Rivaldy. “Kita juga jadi bisa menambah sifat kebersamaan dan empati melalui kunjungan kasih ini,” tambah mahasiswa Universitas Podomoro ini.

Ivan Rivaldy memberikan bingkisan kepada penerima bantuan Tzu Chi ketika melakukan kunjungan kasih di rumah mereka. Melalui kunjungan kasih, Brian dan peserta lainnya mengetahui bagaimana harus mensyukuri apa yang mereka miliki.

Setelah melihat sisi lain dunia yang sebelumnya tidak mereka ketahui, mereka merasa sangat bersyukur akan apa yang mereka miliki saat ini. Kedua mahasiswa ini merasa bahwa, sebagai manusia harus selalu tulus ketika memberikan bantuan kepada orang-orang yang membutuhkan, tanpa memandang perbedaan.

Selama bergabung di Tzu Chi, keduanya merasa sangat bahagia, terutama saat mengikuti Aloha Camp tahun ini. Walaupun baru mengikuti jejak Tzu Chi pada tahun ini, pengalaman yang mereka dapatkan rasanya sangat berkesan. “Kegiatan di Tzu Chi kelihatannya sangat menarik, banyak memberi dan berbagi, terus kelihatannya tali persaudaraan di Tzu Chi itu erat,” tutur Rivaldy. “Tzu Chi juga banyak mengajarkan kata-kata perenungan yang sangat baik untuk dipelajari sehari-hari,” timpal Brian, mahasiswa Universitas Tarumanagara jurusan Manajemen.

Dari seluruh rangkaian kamp tersebut, 6 orang peserta dilantik secara resmi sebagai anggota Tzu Ching Indonesia.

Dari seluruh rangkaian kamp tersebut, 6 orang peserta dilantik secara resmi sebagai anggota Tzu Ching Indonesia. Mereka tidak dapat menyembunyikan rasa bahagia yang ada dalam diri mereka. Mereka yang dilantik telah berikrar untuk terus bersumbangsih sebagai relawan. Walaupun yang mereka terima sebagai imbalan bukanlah berupa materi, mereka menerima rasa puas hati dan rasa syukur karena telah bersumbangsih bagi sesama.

Editor: Metta Wulandari

Artikel dibaca sebanyak : 949 kali


Berita Terkait




Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Kehidupan masa lampau seseorang tidak perlu dipermasalahkan, yang terpenting adalah bagaimana ia menjalankan kehidupannya saat ini.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat