Minggu, 22 September 2019
Indonesia | English

Tzu Ching Camp 2015 : TIME

25 Agustus 2015 Jurnalis : Laurentcia, Widya (Tzu Ching)
Fotografer : Tzu Ching

Para peserta dibagi ke beberapa kelompok untuk berdiskusi bersama. Kegiatan Tzu Ching Camp ini diadakan di Aula Jing Si pada tanggal 15-17 Agustus 2015.

Di era yang modern ini banyak sekali generasi muda yang mengikuti perkembangan zaman tanpa mengkritisinya terlebih dahulu dan berakibat pada gaya hidup individualisme, konsumtif, dan minimnya nilai etika dan budaya.

Para muda mudi mahasiswa Tzu Chi (Tzu Ching) mengadakan Tzu Ching Camp 2015 yang diadakan di Tzu Chi Center Pantai Indah Kapuk, Jakarta tanggal 15-17 Agustus 2015. Sekilas jika kita mendengarkan kata “camp”, maka yang terlintas di pikiran kita adalah camp yang  diadakan dengan cara membangun tenda-tenda dan terdapat api unggun. Namun, camp yang diadakan setiap tahunnya berbeda dan dikemas dengan unik. Tzu Ching Camp yang diadakan selama tiga hari dua malam ini, diikuti oleh 190 peserta yang berasal dari universitas se-Jabodetabek serta Bandung, di antaranya, Universitas Bunda Mulia, Binus, Untar, Trisakti, Universitas Parahyangan dan lainnya.

Tema camp pada tahun ini adalah “TIME”, Treasure our Invaluable Moment, yang artinya menghargai setiap momen yang bernilai. Melalui tema ini, para peserta diharapkan dapat menghargai waktu yang ada dan memanfaatkannya dengan melakukan perbuatan yang baik. ”Dengan camp ini kami berharap mahasiswa dapat memanfaatkan waktu sebaik-baiknya dan juga dapat menambah barisan Tzu Ching serta dapat menambah jejak-jejak cinta kasih” ujar Elysa ketua Tzu Ching Camp tahun 2015 ini.

Johny Chandrina (kanan) berbagi mengenai pengalamannya di Misi Amal Tzu Chi. Ia juga mengajak seorang penerima bantuan untuk berbagi dengan peserta Tzu Ching Camp.

Kisah Master Cheng Yen dan kisah Tzu Chi yang dibawakan Andy menjadi pembuka kegiatan camp ini, prinsip-prinsip dari Master Cheng Yen membuat kagum para peserta camp. Dengan berlandaskan cinta kasih Tzu Chi dapat menjadi ladang berkah bagi semua orang baik penerima bantuan maupun pemberi bantuan.

Acara dilanjutkan dengan tur Tzu Chi Center. Tur kali ini sangat berbeda dari biasanya,  para panitia yang terdiri dari Tzu Ching akan memberi petunjuk atau inisial ruangan di Tzu Chi Center dan para peserta harus menebak dan pergi ke ruangan yang dimaksud seperti  DAAI TV yang merupakan media yang mencerahkan dunia dan setiap ruang, di setiap ruangan akan ada Tzu Ching yang menjelaskan kepada para peserta dengan semangat dan antusias. Peserta mencatat setiap informasi yang di berikan oleh Tzu Ching yang di berikan secara lengkap dan detail, dan setelah itu tentunya harus menebak lagi ke mana ruangan selanjutnya.

Pada camp kali ini, peserta diajak untuk mengenal budaya humanis Tzu Chi melalui beberapa kelas, yaitu kelas merangkai bunga, kelas teh, kaligrafi, dan lainnya.

Belajar dari Melihat Penderitaan

Kekaguman peserta kembali lagi saat Johny Chandrina berbagi pengalaman dan penjelasan tentang misi amal Tzu Chi. Keteguhan dan kesabaran Johny dalam mengurus kasus-kasus pasien menjadi motivasi bagi para peserta camp dan rasa haru yang menyelimuti hati peserta saat Johny mengundang penerima bantuan Tzu Chi untuk sharing menceritakan pengalaman untuk berjuang dalam melawan rasa sakit dan ingin bergabung di barisan relawan Tzu Chi.

Selain itu ada juga sharing  dari relawan Tim Tanggap Darurat Tzu Chi yang beberapa bulan lalu ikut serta dalam pembagian bantuan di Nepal, yaitu Jhony dan Lo Hok Lai. Pada kesempatan ini, mereka mengemas setiap topik bencana yang ada dengan pengalamannya sendiri. Pada sesi ini seorang peserta bertanya kepada mereka, “Apakah mereka tidak merasa susah menanggapi bencana alam yang tidak hentinya terjadi?” mereka menjawab, “Karena Master Cheng Yen pernah berkata, hari ini hanya datang sekali dalam kehidupan, manfaatkanlah sebaik mungkin untuk berbuat hal yang pantas dilakukan. Badan boleh lemah dan sakit, tetapi batin tidak boleh sakit karena batin adalah sumber dari kebijaksanaan. Dan kebijaksanaan dipupuk dengan menentramkan raga, batin dan kehidupan”.

Terkadang ucapan sayang kepada orang tua sulit untuk diungkapkan secara langsung, oleh karena itu seluruh peserta menuliskan surat yang menunjukkan perasaan mereka pada orang tua.

Banyak pelajaran berharga yang dapat diambil dari kegiatan camp ini dan juga dapat berpuas diri serta menghargai berkah yang sudah kita miliki seperti kata Master Cheng Yen, “Menyadari berkah yang dimiliki dengan menyaksikan mereka yang menderita agar dapat merasakan derita kehidupan, sehingga dapat menumbuhkan rasa syukur, kepedulian ,dan juga cinta kasih.”

Artikel dibaca sebanyak : 1367 kali


Berita Terkait


Tzu Ching Camp 2015: Sekaranglah Saatnya

25 Agustus 2015


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Tak perlu khawatir bila kita belum memperoleh kemajuan, yang perlu dikhawatirkan adalah bila kita tidak pernah melangkah untuk meraihnya.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat